Alangkah lucunya negeri ini, yang kuat semakin kuat dan yang lemah makin nggak karuan sengsaranya. Yang lemah jika ketahuan nyolong ayam aja di keroyok orang sekampung, tapi bayangkan, jika yang ngutil uangnya negara bisa ngantongi bertriliun rupiah, apa hukuman mereka? Mungkin hanya di jerat pasal sekian degan hukuman minimal sekian tahun penjara dan denda sekian juta. Sungguh nggak sebanding.
Kalau begitu, jangan salahkan rakyat kecil-kalau saya boleh mengibaratkan-mereka jadi seperti seekor ayam yang semakin manggila bak seekor harimau atau gajah yang sedang terusik oleh keberadaan induknya yang semakin tak tau posisi mereka masing. Induk yang seharunya mengajari anaknya untuk mengaong dengan sekera-kerasnya, malah mereka ajarkan mengembek atau bahkan diam. Induk yang seharusnya mengajarkan tentang kebenaran malah mengajarkan kebodohan. Astaghfirullahal 'adzim....
"Buah tak jatuh jauh dari pohonnya". Kalau yang ditiru saja kurang benar, jangan salahkan rakyat jika mereka berbuat seenaknya sendiri. "Jika guru kencing berdiri, murid kencing di kepalnya guru".
Yang kaya semakin kaya, sampai bisa beli huku hukum segala, dan yang miskin beli sayur untuk sarapan saja sulit. Ternyata kalau dulu ada slogan "membela yang benar" sekarang berubah "membela yang bayar". Ini negara, hutan atau pasar?
(Blokagung, kala mentari memperlihatkan cahayanya di ufuk timur. Kala jiwa ini merasa terusik oleh hukum di negeri ini yang ternyata sekarang bisa dibeli dan dibarter. Sabtu pagi, 24 januari 2011. 06.45 WIS).
Komentar
Posting Komentar