Langsung ke konten utama

Jangan Seperti Ayah Nak….!!!

Di pagi dini hari ini saya berniat untuk tidak tidur sampai matahari memperlihatkan cayahanya. Saat ini, jam dinding di kantor media kepenulisan Darussalam menunjukkan pukul 01.30 WIS. Saya sangat capek sekali karena dari mulai jam 20.30 WIS saya tidur dan baru bangun barusan ini.
Setelah saya melihat komputer yang ada di kantor redaksi kok nggak di pakai, tiba-tiba ada keinginan untuk menulis tanpa tahu apa yang akan saya tulis pada catatan kecil saya kali ini. Tapi dari kemarin saya berkeinginan untuk menuliskan apa yang dikatakan ayah saya kepada saya beberapa waktu yang lalu.
Begini ceritanya. Sekitar dua bulan yang lalu, waktu saya berbincang-bincang dengan ayah saya tentang rencana kuliah saya di mesir, tiba-tiba ayah saya mengatakan suatu hal yang menurut saya beliau tak pernah mengatakan sebelumnya kepada saya dan mungkin kepada semua anaknya. “kalau bisa kamu besok harus seperti paman kamu itu, jadi PNS yang gajinya tiap bulannya sudah ada yang jamin. Kalau bisa jangan seperti ayah, jadi seorang petani yang penghasilan tiap bulannya nggak mesti, ya karena petani itu menggatungkan nasibnya pada alam nak, sedangkan alam saat ini sudah tak menentu. Ya boleh sih jadi petani, pokonya hanya jadi pekerjaan sampingan, jangan jadi pekerjaan utama”, itu kurang lebihnya apa yang dikatakan ayah saya.
Setelah mendengar hal itu, sepertinya ada satu ransangan yang masuk pada diri saya. “saya harus jadi orang sukses. Kalau ayah saya ingin saya menjadi PNS atau bahasa gampangnya GURU lah, maka saya harus jadi gurunya guru (dosen)” itu yang terlintas di hati saya saat itu.
Saya yakin, menjadi hasrat dan keinginan setiap anak, pasti ingin membahagiakan orang tuanya. Juga, tak ada orang tua yang menginginkan anaknya sama dengan orang tuanya saat ini. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang yang lebih sukses dari orang tuanya. Saya yakin itu.
Mungkin hanya ini yang bisa saya tuliskan dalam catatan kecil saya kali ini. Tak terasa jam dinding warna putih yang terpasang di dinding itu sekarang sudah menunjukkan pukul 01.51 WIS.
Walhasil, mulai saat ini saya harus jadi orang sukses demi untuk membahagiakan orang tua saya. Giman menurut anda??
*Sebuah catatan kecil saya untuk mengingatkan diri bahwa saya harus menjadi orang yang sukses demi orang tua.
(Blokagung, kala dini hari. Kamis, 24 Pebruari 2011)
Abdurrahman Al Ahbary (nama pena)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...