Langsung ke konten utama

Karya Mantan Presiden RI

Walaupun saya baru membaca buku “Habibie & Ainun” karangan mantan presiden RI, bapak bacharuddin jusuf habibie sampai pada halaman 11, saya bias menympulkan bahwa buku itu sangan “INSPIRATIF” sekali.
Buku yang di tulis untuk dipersembahkan buat sang istri itu sarat dengan hikmah. Lembar demi lembar, bab demi bab yang saya baca selalu mampu membangkitkan semangat saya. Apalagi pada bab yang menceritakan keberhasilan bapak Habibie, semangat saya sedikit demi sedikit langsung melecut tinggi.
Awalnya, saya mengetahui tentang buku itu dari koran yang saya baca di kantor pesantren pada malam jum’at beberapa hari yang lalu. Malam itu saya sengaja berkunjung ke kantor pesantren karena kegiatan rutin yang biasanya digelar di pesantren libur. Ini karena mungkin salah informasi yang saya dan teman-teman terima. Juga karena kesibukan teman-teman. Biasanya, kalau pas malam jum’at, saya dan teman-teman yang terkumpul dalam “Maziyyatul Fata” mengadakan latihan pidato di depan masjid pesantren. Untuk sekedar diketahui, “Maziyyatul Fata” adalah organisasi yang bergerak menangani kegiatan pidato di pesantren yang saya tempati. Sebelummalam jum’at tiba, salah satu teman berkata kepada saya, “besok insyaalah libur kang.., karena pengajian maulid sudah dimulai”. Mendengar itu, saya langsung mengambil sikap tenang-tenang saja karena tak ada tanggungan malam jum’at besok, karena saya adalah salah satu pengurusnya, jadi ikut bertanggung jawab atas terselenggaranya kegiatan itu. Ternyata, pengajian maulid dimulai malam sabtunya, jadi kegiatan latihan pidato itu memang sangaja saya dan teman-teman pengurus liburkan.
Sekitar kurang lebih satu minggu berjalan, pengajian maulid yang dimulai malam sabtu itu berakhir, atau kalau dalam bahasa pesantrennya biasa di sebut “khatam”. Liburan maulidpun dimulai. Libur maulid kemarin ini dimulali hari senin sampai hari minggu.
Pada hari kedua liburan (selasa), saya menghadiri acara reoni di rumah teman saya. Setelah pulang dari acara tersebut, saya mempir ke toko buku, kalau tidak salah namanya “Laskar Qolbu” yang berada di jantung kota purwoharjo. Awalnya, saya ingin mencari buku tentang gus dur. Tapi kata penjual buku itu bukunya mungkin telah dibawa ke Mbrayu, suatu kota di desa Muncar, karena memang toko ini mempunyai cabang di sana. Setelah saya berputar-putar mengelilingi toko buku yang menurut saya tidak begitu luas itu, saya menemukan buku yang berjudul “Habibie & Ainun”, dan buku itu saya beli. Dari toko itu, saya membeli dua buku, “Habibie & Ainun” dan buku biografi para pahlawan indonesia. Karena jujur saja, saya sangat menyukai buku tentang biografi seseorang.
Cacatan kecil saya tentang sebuah buku yang ditulis oleh seorang mantan presiden RI, bapak Bacharuddin Jusuh Habibie.
(Blokagung, kala kantor redaksi MKD terasa sepi. Malam selasa, 21 Pebruari 2011)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...