Langsung ke konten utama

Indonesia, Islam, dan Pesantren



Indonesia adalah salah satu negara dengan po pulasi Muslim terbesar di dunia. Meski demikian, Indo ne sia bukanlah negara Islam.
Islam bisa membumi di bumi pertiwi ini, salah satunya adalah karena peran pesantren.
Pesantren punya andil besar dalam hal ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pesantren diartikan sebagai asrama tempat santri atau tempat murid-murid mengaji.
Dalam praktiknya,
pesantren memberi pengajaran kepada setiap santrinya tentang ilmu-ilmu keislaman.
Biasanya, pesantren bermula dari pengajian- pengajian kecil di surau atau mushala. Namun, seiring berjalannya waktu, santri yang belajar meningkat jumlahnya. Bahkan, ada juga santri yang berasal dari luar daerah/kota pesantren itu berada.
Alhasil, dari sinilah muncul inisiatif kiai untuk mendirikan asrama yang bisa digunakan santri untuk menginap. Dan, semakin lama semakin banyak pula santri yang datang untuk menimba ilmu dari sang kiai. Ada banyak kategorisasi pesantren ditinjau dari latar belakang keilmuan yang dimiliki pengasuh pesantren.
Bukan itu saja, kemerdekaan bangsa ini juga tidak bisa dilepaskan dari peran orang- orang pesantren. Dalam hal ini, tentu saja kiai dan santri-santrinya. Banyak sekali pahlawan nasional yang berlatar belakang pesantren. Sebut saja, misalnya, KH Hasyim Asy\'ari. Beliau adalah salah satu pejuang yang ikut serta merasakan pahitnya mengusir para penjajah dari negeri ini.
Dewasa ini, kedudukan pesantren yang sedemikian mulia itu mulai terusik dengan adanya beberapa oknum yang \"mengaku\" Islam, namun pe ril akunya kurang/tidak se suai dengan ajaran Islam itu sendiri.
Dengan alasan dak wah, mereka dengan mudahnya menghalalkan aksi-aksi teror.
Yang lebih parah lagi, tindak an brutal mereka itu juga ber imbas pada sesama umat Islam. Banyak umat Islam yang mati tak bersalah karena menjadi korban dari tindakan yang dilakukan oleh orang beberapa oknum yang \"mengaku\" Islam tadi.
Yang penulis khawatirkan, masyarakat luas akan beranggapan bahwa Islam itu adalah agama yang kaku, keras, dan brutal. Padahal, tidak seperti itu. Islam adalah agama yang rahmatan lil `alamin. Penuh cinta dan kasih sayang. Saya juga khawatir akibat fenomena ini, masyarakat juga mulai menjauhi pesantren sebagai basis pengembangan keilmuan Islam.
Yang terpenting dilakukan saat ini adalah meluruskan pandangan masyarakat tentang kesan positif Islam pada umumnya dan pesantren pada khususnya.
Besar harapan penulis agar Republika-- dengan \"Islam Digest\"-nya--bisa menjadi media yang ikut serta menjembatani pesantren agar bisa lebih dikenal positif oleh masyarakat luas.

M Nurul Huda
Santri Progam Pascatahfiz Pondok Pesantren Bayt al-Qur'an Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten

Tulisan ini pernah dimuat di harian Republika, halaman 14, tanggal 02 Nopember 2014. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...