Langsung ke konten utama

Mengapa Harus PETA?

Saya punya ide, suatu saat kalau saya diminta atau ingin menamai sebuah majalah dinding (mading), akan saya namai PETA. Apa itu PETA? Mengapa namanya PETA? Pasti pertanyaan-pertanyaan itu yang berkecamuk di kepala para pembaca sekalian.
PETA adalah singkatan dari kata “Pena” dan “Tinta”. Tau sendiri kan manfaat dari dua benda itu?.
Pena adalah suatu alat yang digunakan untuk
menulis. Mungkin nama pena itu kalau di kita (kita? Lho aja kalee) namanya pulpen atau bolpoin. Sebenarnya pengambilan nama pena ini hanya untuk mewakili semua alat yang kita bisa kita gunakakn untuk menulis.
Pengalaman saya dulu, pas saya masih sekolah di kelas 1-4 SD dulu, saya nggak diperbolehkan menggunakan polpen. Harus menggunakan pensil. Katanya saat itu, pulpen hanya untuk anak kelas 5 dan 6. Namun, belakangan saya ketahui mengapa guru melarang saya menggunakan alat itu. Mengapa? Karena biasanya kalau masih kelas 1-4, siswa-siswi masih belajar menulis. biasanya masih banyak salahnya. Ini sekedar bernostalgia.
Oke, kita kembali ke pembahasan awal.
Terus menngapa saya mengambil nama tinta? Apakah pulpen saja nggak cukup untuk mewaklili alat tulis. Begini penjelasaanya.
Tinta merupakan cairan yang biasa digunakan untuk menulis. biasanya menyatu degan pulpe. Tagpi ada juga tinta yanng dengan pulpennya dipusah. Biasanya digunakan oleh prang china. Dan kalau di Indonesia-sejauh yang saya ketahui-digunakan oleh masyarakat pesantren. Biasanya digunakan untk memaknai kitab kuning. Kalau dipesantren  saya dulu, dinamakan “pen sah”. Ini diambil dari dari nama kegiatan memaknai kitab itu sendiri, yaitu “ngesahi”. Bentuk tinta ini tidak cari. Masih dalam bentuk batangan. Kira-kira seukuran jari telunjuk.
Untuk mencairkannya harus dengan teknik khusus. Tidak boleh sembarangan. Apakah dihancurkan dulu sehigga berbentuk bubuk, baru setelah itu dicampur dengan air? Bukan. Sekali lagi, saya katakan ada cara tekhnik khusus. Apa dong caranya? Sabar tunggu tulisan berikutnya. Caranya dengan di gosok-gosokkan pada piring yanng telah terisis sedikit air. Jangan banyak-banyak. Karena kalau terlalu banyak bisa encer. Kalau encer nggak bisa untuk nulis. Namun pena yang pernah saya gunakan di pesantren dulu berbentuk kayu yang ujungnya ada besi tipisnya. Kemudian kalau ingin nulis, harus kita celupkan ke tinta terlebih dahulu. Ya, seperti cara orang nulis oranag China lah. Pernah nonton film kera sakti kan?
Juga, ada yang menarik dari tinta padat seukuran jari telunjuk tadi. Akan saya ceritakan kepada anda.
Tinta batangan yang pernah saya gunakan di pesantren Banyuwangi dulu itu selalu ada tulisan China-nya. Hemat saya, tinta ini berasal dari China. Atau setidaknya dibuat oleh orang China.
Jika di tarik kesimpulan, pena adalah sarana untuk menulis. Sedangkan tinta adalah cairan yang ada di pena itu. Dari uraian saya di atas, dapat saya simpulkan bahwa tinta memiliki 2 filosofi.
Pertama, tinta yang berkaitan dengan pesantren. Seperti kita ketahui bersama, pesantren adalah basis belajar agama islam. Salah satu yang diajarkan di Islam adalah memberi manfaat kepada orang lain. Lha, dari sini, dapat saya simpulkan bahwa mari kita menulis untk memeberi manfaat kepada orang lain. Menulislah. Tapi jangan lupa, tulislah yang bermanfaat untuk orang banyak.
Kedua, tinta yang ada kaiatannya dengan China. Dalam sebuah hadist, nabi bersabda, “Carilah ilmu smpai ke nengeri China”. Memang saat itu China sedang maju-majunya. Sekarang pun, juga masih seperti itu. Salah satu produsen alat-alat elektronik terbesar adalah China, Jepang, Korea, dan negara lain yang masih satu rupalah. Haha. Malah sampai ada istilah HP CHINA.
Dari pengertan yang kedua ini saya menyimpulkan bahwa menulislah, tapi engkau juga harus tetep belajar. Kualitaskan tulisanmu dengan rajin membaca. Apa nnggak garing tulisanmu kalau engkau hanya rajin nulis tapi nggak rajin baca?
Intinnya, PETA adalah singkatan dari PENA dan TINTA. Yang kesemuanya adalah alat untuk menulis. Namun  secar istilah, PETA dapat diartikan sebagai, “mengkualitaskan diri dan bermanfaat untuk orang lain lewat tulisan”.  Tagline PETA adalah “Bermanfaat Lewat Tulisan”.
Mungin hanya ini yang bisa saya tulis. Sekian. Waallahu a’lam.

Tangerang Selatan, 21 Nopember 2014. Jum’at Pagi, 06.00 WIB.
Di Perpustakaan Pesantren Bayt al-Qur’an.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...