Langsung ke konten utama

Menulis, Kebahagiaan, dan Musyawarah


Beberapa hari yang laau saya membuat kesepakatan dengan seorang teman untuk menulis buku bersama. Kesepakatan telah disepakati dan sisetujui. Termasuk deadline dan pembagian tugasnnya. Dia juga telah membuat kisi-kisinya. Juga telah dibagi mana bagianku dan mana bagiannya.
Saya meminta bagian tulisan yang hanya berkaitan dengan agama. Denngan kata lain, yanng berkaitan dengan dalil-dalil dan nonfiksi. Bukan yag bersifat
opini atau fiksi, karena itu semua bagian teman saya.
Waktupun berjalan bagitu cepat, tapi tak satupun bab dari buku itu yang telah saya tulis. Mengapa? Karena nnggak ada ide.
Sebenarnya kalau bahan bacaan banyak sih, tapi itu nggak cukup untuk membuat tulisan. Juga, banyak guru dan teman-teman yang bisa saya tanyai. Tapi, masih saja saya nggak bisa menuliskan sepatahkatapun. Saat itu saya nggak tau sama sekali apa alasannya.
Hingga akhirnya, tadi siang saya ketemu jawabannnya. Apa? Saya nggak bisa menyatu dengan tema buku itu. Itu bukan bakat saya. Bukan passion saya. Buka hal yang saya sukai. Itu bukan bidang saya. Bukan saya bangetlah.
Akhirnya, tadi sore saya mencoba menjelasakan alasan itu keteman saya. Sebenarnnya berat sih untuk membatalkan kesekpakatan yang telah disetujui bersama. Sebenarnya saya sedikit banyak mulai berusaha untuk menepati janji. Karena saya juga nggak mau dicap sebagai orang manafik. Tapi mau gimana lagi. Kalau dipaksakan, bisa sih, tapi hasilnnya pasti nggak bagus. Walaupun bagus, pasti saya nggak bangga dengan tulisan saya itu. Kalu nggak bangga, saya nggak bahagia. Hal ini memberikan pemahaman kepada saya bahwa menulis itu bukan hanya bagus, tapi juga harus membuat bahagia.
***
Dari  cerita saya di atas, saya bisa mengambil beberapa pelajaran.
Pertama, apa yang kita kerjakan harus kita cintai, dan apa yang kita cintai, harus kita kerjakan. Kalau dibuat kalimat perintah akan menjadi, “lakukan yang anda cintai dan cintai yang anda lakukan.
Mengapa? Karena kalau kita mencintai apapun yang kita lakukan, kita akan melakukannya dengan suka rela. Bukan karena paksakan. Kalau sudah seperti ini, maka kita akan melakukannya dengan totaitas. Apapun yang kita hasilkan dari pekerjaan kita itu akan tetap membuat kita bangga dan bahagia. Meskipun itu sedikit.
Dapat saya contohkan bila ada seseorang yang suka melukis, ia akan tetap melukis kapanpun dan dimanapun. Apapun yang diberikan orang lain, baik sesuatu yang baik atau yang buruk, tak akan pernah membuatnya berhenti melukis.
Seumpama lukisannya dapat dijual, ia juga tak akan menggantungkan semangatnya meliukis dengan honor yang akan ia dapatkan. Ia melukis karena panggilan hariti. Bukan panggilan gaji. Sepenuh jiwa bukan sepenuh harta.
Kedua, bermusyawarah. Dalam kasus saya di atas, saya mencoba membuka ruang diskusi kepada teman saya bagaimana langkah yang seharusnya kita ambil. Kesepakatan pun telah disetujui. Perjanjian membuat buku batal. Akhirnya, buku itu akan dia tulis sendiri. Sebenarnya saya juga nggak enak, tapi mau gimana lagi. Sory kawan!.
Kesimpulannya, menulis bukan hanya masalah ada bahan atua tidak, tapi juga masalah mood atau semangat dan kemauan. Kalau nggak mood, ide nggak akan datang. Kalaupun ada ide, pasti kita nggak akan puas dibuatnya. Nggak akan bahagia.
Juga, dengan komunikasi atau bermusyawarah, setiap masalah pasti bisa dicarikan jalan keluarnya. Sekian. Waallu a’lam.

Tangerang Selatan,21 Nopember 2014. Pukul 21.24 WIB.
Di Perpustakaan Pondok Pesantren Bayt al-Qur’an.
Tanggal edit: 23 Nopember 2014. Pukul 08.15 WIB.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...