Langsung ke konten utama

Kabinet Jokowi dan Tulisan “Mbulet” Saya

Akhirnya kabinet Jokowi sudah jadi. Kabinet yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga negeri ini.
Semoga kabinet yang tebrntuk ini benar-banr menjadi kabinet yang bersih. Yang serius dalam memperjuangkan hak-hak dan kepentingan rakyat. Bukan kabinet yang hanya mementingkan kepentingan diri sendiri, partai, dan kelompoknya.
Dengan nama kabinet kerja, saya yakin pak Jokowi
benar-benar menginginkan seluruh menteri dan anggota kabinetnya siap kerja. Kerja yang sebenar-benarnya kerja. Kerja yang benar-benar untuk rakyat.
Kabinet yang pak Jokowi bentuk, menurut saya pribadi adalah yang kabinet yang adil dan demokratis.
Sebagai contoh, pak Jokowi  mengangkat ibu Yahoanna (atau siapa itu namannya, saya lupa, haha) sebagi menteri (entah menteri apa juga, saya lupa juga, haha lagi).
Dalam berita yang saya baca di www.detik.com, beliau berasal dari Papua. Beliau adalah profesor pertama di Papua yang jadi menteri.
Dari sini, dapat saya pahami, pak Jokowi menginginkan orang-orang di kabinetnya adalah orang-orang yang bisa mewakili seluruh daerah di negeri ini. Menurut saya, pinter juga pak Jokowi itu. Tapi bagi sebagian orang, masih banyak daerfah yang tidak terwakili.
***
Sadah dulu artikelnya. Kali ini saya ingin menulis tentang catatan pribadi saya hari ini. Kegiatan saya hari ini yang begitu membuat capek. Lelah. Dan gimana gitu.
Pagi tadi saya ke Monas. Namun sebetulnnya, bukan itu tujuan saya. Saya sebenarnya ingin ke Kebun Sirih, ke rumah nenek saya. Sebenarnya beliau juga bukan nenek kandung saya. Tapi sepupu neneka saya.
Pukul 09.00 WIB, saya menelpon kakek saya. Beliau mengatakan kalau saat iu beliau masih dalam perjalanan menuju Jakarta. Beliau masih di Cikampek.
Sebenarnya saya ingin membatalkan kepergian saya kali ini. Tapi saya sudah terlanjur siap. Dhoir batin, haha. Saya sudah terlanjur rapi. Sudah mandi. Sudah berpakaian layaknya orang yang mau pergi jauh.
Akhirnya, saya putuskan: saya harus pergi.
Pagi tadi saya langsung menuju pasar jum’at. Saya mencari halte busway terdekat di sekitar situ. Tapi ngggak ada. Akhirnya saya berjalan kaki menuju arah depan. Entah arah mana itu saya nggak tahu. Entah utara, selatan, barat, atau malah timur. Sekali lagi saya nggak tau  arah. Pokoknya arah angkutan umum dari pasar jumat ke Lebak Bulus.
Setelah berjalan sekian lama, akhirnya saya menemukan juga halte buswaynya.
Dari halte busway sekitar bulus itu, saya menuju harmoni. Namun dari Harmoni ada masalah. Ternyata bis transjakarta yang menuju Monas nggak ada. Jalur di tutup karena ada lomba maraton.
Sudah dulu yang tulisannya. Kapan-kapan disambung lagi. Tulisan tentang kegiatan saya hari ini sebenarnya hanya tulisan pelengkap saja. Pelengkapa dari tulisan saya tentang kabinet pak Jokowi sebelumnya. Pelengkap dari mananya? Pelengkap dari segi banyaknya tulisan, agar tulisan saya berjumlah minilmal satu halaman, haha. Sudah dulu ya. Ini hanya tulisan ringan saya. Tulisan yang adanya karena slogan “dari pada nggak nulis”.
Selamat berbingung-bingung ria membaca tulisan ini.
Tengrang selatan, 26 Oktober 2014.
Ahad, 21.30 WIB.
Di masjid ponfok pesantren bayyt al-Qur;an.
Tanggal edit: 30 Oktober 2014. 14:54 WIB (saat adzan ashar), di kamar “samping kamar”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...