Mungkin judul di atas terlalu mengada-ngada bagi anda. Tapi menurut saya tidak. Saya tidak syukur njeplak (nyeplos/bicara) mengucapakan itu. Ada dasarnya. Ada pedomannya.
Setidaknya ada dua
alasan yang menjadikan saya benar-benar yakin. Ini dia:
Pertama, Jokowi pernah diberi
songkoknya Gus Dur. Ini menunjukkan bahwa Jokowi
bukan orang sembarangan. Karena dalam tradisi yang saya anut, seorang yag
diberi sesuatu oleh seorang wali (saya meyakini bahwa Gus Dur itu wali. Mungkin
lain kali saja saya menjelaskan yang ini), pasti itu ada maksud yang tersembunyi
dibaliknya
Ada apa dengan
songkok? Apa kaitannya dengan presiden? Songkok tempatnya di kepala. Berarti
songkok selalu ada kaitanya dengan kepala. Dan dalam kontek ini, saya kaitkan
dengan kepala suatu daerah/pemimpin.
Kedua, Gus Dur-yang notabene seorang wali-pernah mengatakan bahwa Jakarta akan
dipimpin oleh seorang tionghoa. Lha, saya langsung mengaitkan dengan item pertama
di atas. Benini logikanya: Ahok kan Tionghoa. Dia wakil gubernur Jakarta, mendampingi
Jokowi. Jika Jokowi jadi presiden, kan Ahok otomais akan jadi gubernur,
menggantikan Jokowi. Betul nggak?
Namun, kayakinan saya
pada nomer yang kedua ini, bisa dibantah dengan pertanyaan, apakah pasti tahun
berapa Jakarta akan dipimpin orang Tionghoa? Lagi lagi ini bisa dijawab dengan
yang pertama, kalau bukan sekarang kapan lagi?. Tapi yang ini hanya akal-akalan
saya saja kok.
Sepertinya sampai
di sini dulu tulisan saya tentang Jokowi. Yang terpenting, siapapun presiden
yang terpilih, itu adalah presiden kita. Harus dijunjug tinggi dan harus pula
dihormati.
Salam dua jari!
Banyuwangi, 22 Juli
2014. 14.35 WIB
Komentar
Posting Komentar