Dalam sebuah seminar jurnalistik yang pernah saya ikuti, di sana
dijelaskan bahwa salah satu godaan dalam menulis yang harus kita hindari adalah:
selalu mengedit dan mengdit naskah yang kita tulis. Ini biasanya dilakukan oleh
mereka yang kurang terbiasa menulis. Kalau yang terbiasa menulis, pasti juga
pernah, tapi itu kan dulu.
Memang kalau dipikir-pikir, kegiatan mengedit memang sangat perlu
dilakukan guna untuk membenarkan tulisan kita. Namun yang harus kita perhatikan
adalah wakunya. Dan waktu yang paling pas untuk melakukan hal itu adalah ketika
tulisan kita sudah jadi. Alias sudah banyak.
Memang hasrat untuk mengedit tulisan itu datang setiap saat. Menurut
pengalaman saya, itu bertujuan agar tulisan kita lebih cepat terlihat cantik
dan rapi. Tapi dengan itu-secara tak kita sadari- malah akan membuat tulisan
kita tak jadi-jadi. Mengapa? Karena waktu yang seharusnya kita gunakan untuk
menuangkan ide menjadi bentuk tulisan tersita dengan yang namanya: E D I T.
Lha lantas bagaimana dong? Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan
adalah merampungkan tulisan kita dulu, setelah itu mengeditnya. Mana yang salah
dibenarkan. Mana yang kurang ditambahi. Mana yang lebih dikurangi. Mana yang
jelek dibaguskan. Dan selanjutnya dan seterunya.
Bahkan juag terkait dengan masalah alenia. Alenia mana yang seharusnya di
di atas, mana yang di tengah, dan mana yang harus di akhir, kita atur setelah
tulisan jadi.
Ini sebenarnya mudah dilakukan. Namun, godaannya terlalu besar. Tapi
tenang saja, nggak sebesar dosanya zina kok. Wkwkw.
Kalau kegiatan edit mengedit ini kita lakukan, yang bakal terjadi adalah
tulisan kita tak akan pernah jadi. Meskipun jadi pasti hanya sedikit. Jadi logikanya
seperti ini: mending tulisan jelek tapi banyak daripada sedikit tapi rapi. Why?
Karena kalau sudah ada, meskipun jelek kan bisa kita benahi. Karena memang
sudah ada. Lha, kalau belum banyak alias sedikit? Kan ada yang harus diedit,
karena memang sudah rapi.
Ini harus dipahami oleh penulis siapapun. Apapun agamannya. Baik cowok
atau cewek. Baik yang sudah makan malam atau belum. Yang sukannya cowok yang
hidungnya mancung atau pesek. Bercanda, mblo.
***
Sudah, nggak kuat lagi untuk meneruskan tulisan diatas. Tulisan yang menurut
mata batin saya, adalah tulisan yang pura-pura serius. Pura pura bagus.
Ini ceritanya mau nulis lagi. Tapi nggak tau mau nulis apa lagi. Hehe.
Ada yang mau usul? Saya sangat terbuka. Tapi bukan buka-bukaan. Oiya, bagi yang
puasa, sudah buka belum?
Dan satu hal yang harus kita
camkan adalah mengedit adalah godaan besar bagi penulis. Yang puasa atau pun
tidak. Memang sih, tujuan puasa adalah agar seseorang bisa bertakwa. Tapi kayaknya,
dalam godaan mengedit ini sama saja beratnya. Semua akan tergoda. Anda
bagaimana?
Asrama PTIQ (Kamar 406), 2 September 2015. 20.33 WIB.
Komentar
Posting Komentar