Jika mendengar kata BRANDING, apa yang anda pikirkan? Mungkin anda akan
sama denagn saya, yakni CITRA. Biasanya kata BRANDING digandengkan dengan kata
membangun, menciptakan, dan lain sebagainya.
Seseroang rela mengeluarkan uang dan tenaga yang tidak sedkit (bahkan
sampai memeras isi kepala) agar branding-nya melejit bak roket. Branding ini-sebagai
mana yang sering saya jumpai-atas dasar kepentingan tertentu. Ada mereka yang
akan mencalokan diri sebagai wakil rakyat. Ada yang ingin menjadi kepala
daerah/Negara. Bahkan juga tak sedikit yang ingin meraih keuntungan finansial.
Kampanye yang mengeluarkan uang sekarung pun dilakoni, ya gara-granya
ini: branding. Sehingga dari kata branding atau citra ini timbullah kata
PENCITRAAN. Secara dangkal, menurut saya, pencitraan adalah satu cara membuat
orang lain melihat kebaikan-kebaikan kita saja. Bukan kejelakan kita. Sehingga jika
di-dhohir-kan sepertinya akan ada kalimat seperti ini: “Ini lho saya. Saya bisa
ini. Bisa itu.” Bahasa gampangnya CAPER (cari perhatian) atau CARMUK (cari muka).
Ada banyak cara yang dilakukan oleh mereka yang sedang caper. Dari sekian
banyak cara, menurut survey yang saya lakukan (emang cak lontong, pakek survey
segala), ada dua cara yang paling efektif untuk melakukan “ibadah” caper ini.
Pertama, tebar pesona
Cara ini biasanya digunakan mereka yang sedang mencalonkan diri sebagai
seorang pemimpin ataupun wakil rakyat. Makanya tak jeran, jika waktu PILKADA
atau apalah namanya itu tiba, foto mereka akan membalut pepohonan pinggir
jalan. Selain foto, masih ada kata-kata tambahan, semisal: MUDA, BERSIH.
CERDAS.
Dalam agama islam, segala sesuatu itu tergantung niatnya. Begitu pula
dengan caper-mencaper ini. Kita tak tau isi kepala orang. Kalau keinginannya
menjadi kepala daerah ini niatnya baik, ya tidak apa apa. Namun jika jelek,
anda tau sendirilah.
Kedaua, tebar fitnah
Menurut saya inilah cara yang paling ampuh untuk menaikkan rating kita
di mata masyarakat. Meskipun kita tau sendiri, agama jelas melarang urusan firnah-menfitnah
ini.
Biasanya yang difinahpun adalah mereka yang sedang naik daun. Semisal ulama,
pemerintah, atau siapapun. Yang penting sedang menajdi public figure. Bahkan-mungkin-yang
difinahpun sedang melakukan hal yang sama: PENCITRAAN.
Waspadalah. Waspadalah.
Asrama PTIQ, kamar 406. Samping tempat cuci piring.
Ahad, 13 September 2015. Pukul 22.45 WIB.
Komentar
Posting Komentar