Langsung ke konten utama

Jangan Hanya Bersyariat!


Sekedar curhat. Saya orang yang kaku. Namun saya tak suka orang yang kaku, peraturan yang kaku, dan semua yang bekaitan dengan kaku-kaku. Memang lucu sih. Tapi itulah saya. Terserah orang mau bilang apa.
Dalam pandangan hidup dan pengalaman yang saya alami, orang yang kaku adalah orang yang hidupnya tertekan dan diliputi tuntuntan dan tuntutan.

Jika hal ini dianalogikan dengan agama, mungkin akan seperti ini: “Kalau anda masih menyikapi peraturan yang kaku itu sebagai “sesuatu” yang memang kaku, maka anda masih berada dalam tingkatan syariat.
Orang yang masih dalam tingkatan syariat, akan menggaggap semua ibadah adalah tuntutan Allah swt. kepadanya, yang kesemuanya harus dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab dan harus sama plek dengan apa yang menjadi perintah itu. Tidak boleh lebih. Tidak boleh kurang.
Memanng hal ini benar adannya. Dan saya sangat setuju dengan itu.
Namun, harus kita ingat dan ketahui bahwa selain syariat, masih ada banyak sekali tingkatan dalam beragama islam, antara lain: tharikat, hakikat, makrifat, dan masih banyak lagi yang lainnya. Syariat itu ibarat sebutir buah kelapa. Eh, kelapa itu buah nggak sih?.
Dan pada tingkatan diatas syariat inilah yang akan membuat hidup seseorang lebih hidup. Ia akan merasakan nikmatnya beribadah. (Ini menurut saya. Sebatas kedangkalan ilmu yang saya miliki).
Jika orang sudah mencapai tingkatan diatas syariat inilah-apapun itu tingkatanya-setidaknya ia tidak akan menganggap perintah agama sebagai sesuatu yang berkaitan dengan benar dan salah saja. Bukan pula hitam putih saja. Semua akan dilaksanakan dengan banyak pertimbangan.
Makanya tak heran jika Gus Dur pernah menyinggung hal ini dalam “Syi’ir Tanpo Waton”-nya: “Ojo mong ngaji syariat beloko (Jangan hanya belajar syariat saja).
Mengapa bisa seprti itu? Ya tulisan saya diatas tadi jawabannya. Mungkin.
Pernah ada sebauh diskusi antatra orang yang sudah mencapai derajat tharikat dengan orang yang masih dalam tingkatan syariat.
Orang Hakikat (OH): Jika Anda lupa membaca doa qunut dalam shalat, apa yang akan Anda lakukan?
Orang Syariat (OS): Saya akan melakukan sujud syahwi. Karena memang begitu aturannya. Lantas jika hal yang sama terjadi pada Anda, apa yang akan Anda lakukan?.
OH: Saya akan mengulangi shalat saya.
OS: Lho, kok bisa begitu. Mengapa?
OH: Karena apa gunanya shalat, jika kita masih sempat melupakan Allah swt. Kalau saya lupa membaca doa qunut, berarti shalat saya batal. Tak pantas bagi seoarang hamba melupakan Tuhannya. Lalu berapa zakat yang akan Anda keluarkan jika Anda mempunyai 40 ekor kambing?
OS: Saya akan mengeluarkan dua ekor kambing sebagai zakatnya. Jika anda, berapa yang akan Anda keluarkan?
OH: Saya akan berikan semua kambing yang saya miliki.
OS: Kenapa?
OH: Karena seorang hamba itu sebenarnya tak berhak mempunyai apa-apa. Semua yang kita miliki sejatinya adalah milik Allah swt.
Begituah kurang lebihnya ceritanya.
NB: Jangan diambil pusing. Jangan terlalu serius memahami tulisan saya ini. Apa yang saya tulis di atas, sebatas apa yang saya pahami. Jika ada yang salah, mohon ingatkan saya.

Asrama PTIQ, Kamar 406 Bagian Dapur (Dekat Kran Cuci Piring).
Sabtu, 5 September 2015. Pukul 12.03 WIB.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...