Sekedar curhat. Saya orang yang kaku. Namun saya tak suka orang yang kaku, peraturan yang kaku, dan semua yang bekaitan dengan kaku-kaku. Memang lucu sih. Tapi itulah saya. Terserah orang mau bilang apa.
Dalam pandangan hidup dan pengalaman yang saya alami, orang yang kaku
adalah orang yang hidupnya tertekan dan diliputi tuntuntan dan tuntutan.
Jika hal ini dianalogikan dengan agama, mungkin akan seperti ini: “Kalau
anda masih menyikapi peraturan yang kaku itu sebagai “sesuatu” yang memang
kaku, maka anda masih berada dalam tingkatan syariat.
Orang yang masih dalam tingkatan syariat, akan menggaggap semua ibadah
adalah tuntutan Allah swt. kepadanya, yang kesemuanya harus dilaksanakan dengan
penuh tanggungjawab dan harus sama plek dengan apa yang menjadi perintah itu.
Tidak boleh lebih. Tidak boleh kurang.
Memanng hal ini benar adannya. Dan saya sangat setuju dengan itu.
Namun, harus kita ingat dan ketahui bahwa selain syariat, masih ada
banyak sekali tingkatan dalam beragama islam, antara lain: tharikat, hakikat,
makrifat, dan masih banyak lagi yang lainnya. Syariat itu ibarat sebutir buah kelapa.
Eh, kelapa itu buah nggak sih?.
Dan pada tingkatan diatas syariat inilah yang akan membuat hidup seseorang
lebih hidup. Ia akan merasakan nikmatnya beribadah. (Ini menurut saya. Sebatas
kedangkalan ilmu yang saya miliki).
Jika orang sudah mencapai tingkatan diatas syariat inilah-apapun itu
tingkatanya-setidaknya ia tidak akan menganggap perintah agama sebagai sesuatu
yang berkaitan dengan benar dan salah saja. Bukan pula hitam putih saja. Semua
akan dilaksanakan dengan banyak pertimbangan.
Makanya tak heran jika Gus Dur pernah menyinggung hal ini dalam “Syi’ir
Tanpo Waton”-nya: “Ojo mong ngaji syariat beloko (Jangan hanya belajar syariat
saja).
Mengapa bisa seprti itu? Ya tulisan saya diatas tadi jawabannya.
Mungkin.
Pernah ada sebauh diskusi antatra orang yang sudah mencapai derajat
tharikat dengan orang yang masih dalam tingkatan syariat.
Orang Hakikat (OH): Jika Anda lupa membaca doa qunut dalam shalat, apa
yang akan Anda lakukan?
Orang Syariat (OS): Saya akan melakukan sujud syahwi. Karena memang
begitu aturannya. Lantas jika hal yang sama terjadi pada Anda, apa yang akan Anda
lakukan?.
OH: Saya akan mengulangi shalat saya.
OS: Lho, kok bisa begitu. Mengapa?
OH: Karena apa gunanya shalat, jika kita masih sempat melupakan Allah
swt. Kalau saya lupa membaca doa qunut, berarti shalat saya batal. Tak pantas
bagi seoarang hamba melupakan Tuhannya. Lalu berapa zakat yang akan Anda keluarkan
jika Anda mempunyai 40 ekor kambing?
OS: Saya akan mengeluarkan dua ekor kambing sebagai zakatnya. Jika anda,
berapa yang akan Anda keluarkan?
OH: Saya akan berikan semua kambing yang saya miliki.
OS: Kenapa?
OH: Karena seorang hamba itu sebenarnya tak berhak mempunyai apa-apa.
Semua yang kita miliki sejatinya adalah milik Allah swt.
Begituah kurang lebihnya ceritanya.
NB: Jangan diambil pusing. Jangan terlalu serius memahami tulisan saya
ini. Apa yang saya tulis di atas, sebatas apa yang saya pahami. Jika ada yang
salah, mohon ingatkan saya.
Asrama PTIQ, Kamar 406 Bagian Dapur (Dekat Kran Cuci Piring).
Sabtu, 5 September 2015. Pukul 12.03 WIB.
Komentar
Posting Komentar