Mungkin sudah menjadi budaya di negeri ini bahwa media adalah
segala-segalanya. Semua yang sudah diliput media akan dianggap sebagai sesuatu
yang “wah”, keren bin beken. Juga, medialah yang akan menjadikan sesuatu hal
itu pantas dianggap besar atau kecil.
Seorang penjual nasi pecel atau penjaga bengkel menjadi terkenal ya
gara-gara media itu tadi. Padalah apa yang diliput media tak akan bisa mewakili
keadaan sebenarnya yang terjadi di masyarakat. Padahal saya yakin bahwa masih
banyak perempuan super cantik diluar sana yang menjadi pekerja berat.
Sehingga, dengan dasar “sudah membudaya” itulah, masyarakat semakin tak
sadar dan tak berdaya bahwa mereka telah dikibuli oleh media yang mereka
damba-dambakan itu. Semua tolak ukur didasarkan pada “pernah masuk media atau
nggak”.
Mari kita lihat media kita saat ini. Mereka sudah begitu bebasnya melakukan
pengahakiman sepihak. Sesuatu dilihat dari kacamatanya sendiri. Padahal masih
banyak kacamata diluar sana yang tak ia ketahui, kacamata kuda misalnya. Wkwkwk.
Apalagi, kalau Anda ingin lebih banyak lagi, silakan datang ke penjual
kacamata.
Acara yang ditanyangkan adalah adalah acara yang disukai masyarakat. Acara
yang layak jual. Punya rating tinggi. Bukan acara yang dibutuhkan. Makanya tak
heran jika banyak artis-artis karbitan yang masuk media, karena memang
masyarakat menyukainya. Ustadzpun dimikian. Mungkin.
#Tulisan_Ngawur
#Jangan_Dianggap_Serius
#media_OH_media
Komentar
Posting Komentar