Langsung ke konten utama

Ilmu Dan Kesuksesan

Tak sengaja, tadi malam, pas aku buku-buka komputernya shahab, seorang temanku dari kota madiun, aku melihat sebuah photo yang saangat membuatku lebih semangat lagi dalam mencari ilmu. Photo itu dalah photo kyaiku yang mengenakan toga dalam acara wisuda. Aku tak tau pasti, dimana lokasi wisuda itu, yang jelas itu benar-benar acara wisuda, karena di samping kyaiu itu ada banyak orang yang mengenakan pakaian yang sama.
Dari photo itu, aku telah belajar banyak hal yang mungkin tak tertulis di kitab ataupun buku. bagaimana aku tak merinding, yaiku yang usianya sudah mencapai (kira-kira) 50 tahunan masih semangat dalam menuntut ilmu yang memang telah menjadi kewajiban seorang muslim. Karena dalam sebuah hadist yang pernah aku pelajari, mencari ilmu itu dari sejak lahir sampai kita masuk ke liang lahat (wafat).
Memang sekitar satu dua tahun yang lalu, dalam sebuah koran diberitakan tentang wisuda kyaiku itu. Dalam koran itu, dituliskan bahwa beliau ingin mengajari seluruh warga nahdlatul ulama’ (NU) bahwa tak ada istilah tua dalam belajar (karena memang beliau adalah ketua tanfidziyyah NU kabupaten Banyuwangi).
Ketika melihat photo dalam komputer itu langsung terbesit dalam benakku “aku ingin mencari ilmu sebanyak-banyaknya”. Karena aku yakin, dengan ilmu, seseorang akan mendapt kemulyaan baik di dunia maupun di akhirat.
Tentang ilmu, aku sendiri sebenarnya agak sedikit bimbang. Sempat terlintas dalam hati kecilku, “apakah mungkin seorang anak tanseorang petani, bisa menjadi orang yang kaya ilmu, bisa mencari ilmu sebanyak-banyknya, bisa menjadi orang sukses?” ah... aku yakin seyakin-yakinnya, itu hanyalah sebuah bisikan setan yang ingin menghalangi niatku untuk menjadi orang yang berhasil.
Kalau pertanyaan itu sewaktu-watu terlintas lagi dalam hatiku, langsung aku mayakinkannya (hatiku) bahwa “keberhasilan bukan hanya milik orang kaya, tapi milik orang yang mau beruasaha”.
Aku yakin itu......
Aku ingin berhasil.....
Sebuah tulisan kecilku tentang ilmu dan keberhasilan. Sebuah tulisan untuk meyakinkan diriku, bahwa aku juga mempunyai kesempatan untuk berhasil, untuk menjadi orang sukses. “Sukses, sukses, dan sukses!!!” (07/01/11)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...