Langsung ke konten utama

Istiqomah

Hari ini ku merasa ada yang sesuatu yang memang benar-benar sulit. Yaitu istiqomah. Ia adalah suatu yang kelihatan mudah, tapi sebenarnya sangat sulit. Terbuti kemarin, sebenarnya aku ingin sekali menulis. Tapi, ada sesuatu hal yang membuatku tak bisa melakukan aktifitas yang memang aku buat sebagai rutinitasku itu (menulis).
Kemaren lusa, kata temanku yang sama-sama penjaga perpustakaan, “komputernya nggak bisa digunakan” katanya kepadaku saat aku baru saja datang ke perpustakaan. Tapi setelah aku hidupkan, ternyata bisa. Mungkin pas pak thoha yang hidupin, komputernya masih eror.
Dan kemarin (senin 11/01/11) komputernya memang tidak bisa digunakan sama sekali. Berulang kali aku hidupin dan matiin, tapi tak membuahkan hasil sedikitpun. Ahirnya, di perpus aku hanya melayani apabila ada anggota yang meminjam atau mengembalikan buku.
Istiqomah, memang merupaan suatu yang isangat istimewa. Malah ada suatu maqolah yang menyebutkan bahwasanya istiqomah itu lebih bai dari seribu karomah. Ya itulah istiqomah, suatu yang mudah diucapkan tapi sangat sulit sekali dalam melaksanaannya.
Kalau aku boleh mengartikan, istiqomah dan aromah itu sama-sam berasal dari bahasa arab. Istiqomah itu berasal dari kata “istaqoma” yang berarti merutinkan, atau dalam bahasa jawanya biasa disebut dengan “melanggengkan”. Sedang, karomah itu berupa isim mashdar dari fi’il madli “karoma” yang bermakna kemulyaan. Berarti karomah bermakna “kemulyaan”. Jadi orang yang memiliki karomah berarti ia diberi kemulyaan oleh Allah SWT.
Dapat kita bayangkan, kalau karomah saja berati kemulyaan, lha kalau kita diberi oleh Allah SWT sesuatu yang lebih baik seribu kali dari pada karomah, bagaimana? Ya itulah yang kita cari.
Dan hari ini alhamdulillah akuk bisa mengqodo’i rutinitas menulisku yang sempat aku tinggalkan kemarin (menulis). Memang suatu yaang kita langgengkan (kita istiqomahkan), jika kita tinggalkan berarti kita harus melakukannya di kemudian hari. Kalau tidak, berarti kita tidak istiqomah.
Sebuah tulisan untuk membuat diri ini lebih mengenal satu kata yang mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan. Juga untuk lebih bisa menghargai waktu.
Nulis tulisan ini dua hari.
(11-12/01/11)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...