Maqom adalah strata seorang
salik (orang yang sedang menapaki jalan menuju Allah) sesuai dengan apa yang ia
usahakan dengan cara yang berbeda-beda.
Hal adalah perasaan dari Allah
yang dialami seorang salik tanpa adanya usaha. Hal ini bersifat temporer
(berjangka waktu, kadang datang dan hilang. Tidak menentu.
Raja’ adalah pengharapan
seorang hamba terhadap pahala yang diberikan Allah kepadanya.
Khauf adalah rasa takut kepada
siksa Allah.
Qabdlu adalah semangat seorang
hamba dalam meninggalkan kemaksiatan. Semangat ini didasari atas kesadarannya
sendiri. Bukan karena takut terhadap siksa Allah. Qobdlu ini lebih tinggi dari
khauf.
Basthu adalah kesadaran hamba
dalam beribadah kepada Allah yang didasari kesadaran bahwa ibadah adalah
kewajiban yang harus ia lakukan. Bukan karena keinginan ingin mendapat pahala
dan surga dari Allah. Ini lebih tinggi dari raja’.
Haibah adalah tingkatan di
atas qobdlu. Yakni kesadaran seseorang hamba dalam meninggalkan maksiat karena
didasari oleh kenikmatan yang ia rasakan. Bukan karena takut siksa. Bukan pula
karena kewajiban. Ia akan merasa cemas dan tidak nyaman jika melakukan maksiat.
Unsu adalah tingkatan di atas Basthu.
Unsu adalah keadaan seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah yang
didasari oleh rasa nikmat yang ia rasakan ketika melakukannya. Ibadahnya bukan
lagi karena pahala dan surga; bukan pula karena kewajiban.
Farqu adalah kesadaran seorang hamba dalam
beribadah ia disertai perasaan bahwa semua itu dapat ia lakukan atas usahanya
sendiri dan pertolongan Allah.
Jam’u adalah kesadaran
seorang hamba dalam beribadah ia disertai perasaan bahwa semua itu dapat ia
lakukan atas pertolongan Allah semata.
Ia sudah tak merasa bahwa
ibadah yang dilakukannya itu atas peran serta dirinya. Semua yang ia lakukan ia
nisbatkan kepada Allah.
Ketika sudah seperti ini, ia
akan benar-benar pasrah. Tak ada rasa sombong sedikitpun dalam dirinya.
Fana' adalah hilangnya sifat-sifat tercela dalam diri seorang hamba.
Baqa' adalah munculnya sifat-sifat terpuji dalam diri seorang hamba. Fana'
dan baqa' selalu berbanding lurus dalam diri seseorang.
Ghaibah adalah hilangnya rasa terhadap hal-hal yang bersifat keduniaan
dalam hati seorang hamba.
Khudlur adalah kesibukan hati seorang hamba terhadap Allah. Ghaibah dan
khudlur ini satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Shahwu adalah kembalinya rasa setelah mengalami ghaibah.
Sakru adalah rasa mabuk seorang hamba disebabkan oleh rasa cintanya yang
sangat mendalam terhadap Allah.
Dzauq adalah keadaan yang dialami
salik ketika mulai “dekat” dengan Tuhan. Dalam keadaan ini biasanya seorang
salik mengalami guncangan pada dirinya. Sehingga kadang, ia melakukan sesuatu
yang tidak wajar menurut syariat.
Syurbu adalah adalah tingkatan di atas
Dzauq. Pada keadaan ini, seorang salik sudah mulai menjadi-jadi dalam melakukan
hal-hal yang tidak wajar.
Mahwu adalah menghilangkan sifat-sifat
kebiasaan yang jelek.
Isbat adalah menetapkan hukum-hukum
ibadah. Pada keadaan ini semakin rajin
Sitru adalah ada ketertutupan. Sitrunya
orang awam dengan orang khusus berbeda. Orang awam, sitrunya ada menutupi
kesendiriannya. Ia harus selalu ingin terkenal.
Sedang sitrunya orang khusus adalah
menutupi kemasyhurannya.
Tajalliy adalah keterbukaan atau
kemasyhuran. Kemasyhuran di sini adalah kemasyhuran diri sang salik di hadapan
Tuhannya.
Muhadarah adalah hadirnya Allah dalam
hati.
Seorang hamba yang telah mengalami
muhadarah akan merasakan kehadiran Allah dalam hatinya. Ini tak bisa dipahami
dengan pemahaman lahir. Harus dengan pemahaman batin. Maksudnya, Allah bukan
hadir dengan wujud nyatanya. Ini hanya bahasa kiasan tentang perasaan seorang
hamba yang dekat dengan Sang Khaliq.
Mukasyafah adalah tingkatan setelah
muhadarah. Yakni tersingkapnya hati dari penutup-penutup yang menghalanginya.
Ketika seorang hamba sedang mengalami
mukasyafah, ia akan merasa bahwa ia seakan mendapat “bocoran-bocoran” atas rahasia-rahasia
Tuhan. Makanya tak heran ketika seseorang sedang mengalami mukasyafah, ia bisa
menebak apa yang akan terjadi di masa mendatang. Sebenarnya ia bukan bisa
dengan sendirnya, hanya saja ia mendapat wawasan tentang itu semua dari Allah.
Musyahadah adalah tingkatan setalah
mukasyafah. Yakti keadaan seorang hamba merasa bahwa Tuhan hadir dalam jiwanya.
Ini juga bahasa kiasan. Musyahadah
adalah ketika seseorang sudah bisa melihat Allah dengan mata batinya. Sehingga
tak ada lagi penghalang antara ia dengan Tuhannya.
Bawadih adalah firasat yang datang secara
tiba-tiba pada hati sang salik. Bisa jadi firasat ini membuatnya bahagia dan
bisa jadi justru membuat susah.
Hujum adalah firasat yang datang
secara tiba-tiba pada diri sang salik di waktu-waktu tertentu tanpa bisa
diusahakan.
Komentar saya:
Ini bersifat mendadak. meskipun demikian,
hujum berbeda dengan Bawadih. Bawadih lebih umum daripada Hujum.
Talwin adalah sifat-sifat salik yang
sedang menapaki proses menuju Tuhan.
Tamkin adalah keadaan salik yang sudah
mencapai Tuhan.
Komentar saya:
Talwin itu perjalanannya. Sedang Tamkin
itu keadaan salik ketika ia sudah sampai pada Tuhan.
Jakarta Selatan, 21 Mei 2016
Mantaap,,,Baarokallaah,,, Semoga Bermanfaat,, Aamiin
BalasHapusبارك الله فيك
BalasHapusAjjiiib.. syukron lah.. jd ga ribet buat nyari bahan tasawwuf..
BalasHapus