Hipotesis
KATA PENGANTAR
Tujuan sebuah penelitian adalah agar menemukan suatu hasil akhir yang
didasarkan pada bukti dan data-data akurat, yang mana data itu telah diolah
menggunakan sebuah metode tertentu. Hasil sebuah penelitian harus dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Namun, untuk menuju pada hasil akhir itu, diperlukan sebuah hipotesis
agar penelitian yang dilakukan dapat berjalan denga lancar. Secara singkat,
hipotesis adalah sebuah jawaban sementara yang didasarkan pada teori dan belum
melibatkan bukti-bukti yang akurat. Atau dalam bahasa kita, sering kita sebut
dengan dugaan (Arab: dzan).
Dalam makalah yang singkat ini, penulis menguraikan beberapa hal terkait
dengan hipotesis dengan harapan bisa membantu para mahasiswa atau siapa saja
yang sedang mempelajari dan mendalami metode penelitian.
Selamat membaca!.
Jakarta, 07 Desember
2017
Penulis
PEMBAHASAN
Pengertian
Hipotesis berasal dari kata hipyothesa,
yang secara bahasa, tersusun dari dua suku kata: “hypo” yang berarti “di bawah” dan “thesa” yang berarti “kebenaran”. Sehingga jika kedua suku kata itu
digabung dan ditulis dengan menggunakan ejaan bahasa Indonesia akan menjadi
hipotesa, dan sekarang terkenal dengan sebutan hipotesis.[1]
Namun, menurut Juliansyah Noor, hipotesis berasal dari dua suku kata: hypo (belum tentu benar) dan tesis (kesimpulan).[2]
Arikunto menjelaskan, hipotesis adalah jawaban sementara terhadap suatu
permasalahan dalam sebuah penelitian sampai jawaban akhir terbukti melalui
pengolahan data yang terkumpul.
Ia (hipotesis) merupakan jawaban pernyataan sementatra atas suatu
masalah yang masih perlu diuji kebenarannya. Ia bersifat belum final. Dikatakan
bersifat sementara ini karena hipotesis adalah jawaban (sementara) dari suatu
masalah yang telah dirumuskan. Sehingga, dari sini, dapat dipahami bahwa antara
hipotesis dan rumusan masalah terlihat adanya keterkaitan yang konsisten.[3]
Menurut Sekaran—sebagaimana dikutip Juliansyah Noor—hipotesis adalah, “hubungan yang diperkirakan secara logis di
antara dua atau lebih variable yang diungkap dalam bentuk pernyataan yang dapat
diuji.”[4]
Tentang alasan mengapa hipotesis ini bersifat sementara, Sugiyono
menjelaskan bahwa itu disebabkan karena perumusan dan pembuatan hipotesis hanya
didasarkan pada teori-teori yang relevan dan pada logika berdikir, tidak pada
fakta-fakta empirik yang didapat dari data-data yang terkumpul setelahnya.[5]
Sehingga dari sini dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah jawaban yang
bersifat teoritis terhadap suatu rumusan masalah. Belum menjadi jawaban yang
bersifat empirik.[6]
Contoh peneraparan hipotesis dapat kita lihat dalam kehidupan kita
sehari-hari. Misalnya ketika motor kita mogok, kita akan berprasangkan dan
menduga bahwa mungkin businya kotor, bahan bakarnya habis, atau yang lain. Namun,
diakui atau tidak, itu hanya bersifat dugaan sementara. Belum merupakan jawaban
pasti terhadap mengapa motor kita mogok. Atas dasar itu, kita akan memeriksa dan
memastikan apakah memang benar ada masalah dengan busi, bahan bakar, atau yang
lainnya.[7]
Jenis-jenis Hipotesis
a. Hipotesis Kerja
Hipotesis ini disebut juga dengan hipotesis
alternatif, dan disingkat menjadi Ha.
Hipotesis ini menunjukkan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya
hubungan antara dua entitas.
Contoh:
Jika banyak begadanga, maka pagi akan mengantuk
Ada pengaruh antara mahalnya maskawin terhadap jumlah pernikahan di kota A.
Ada perbedaan antara mahasiswa kelas A dan B dalam cara berpakaian.
b. Hipotesis Nol
Hipotesis ini disingkat Ho dan juga biasa disebut dengan hipotesis stastistik, karena
biasanya digunakan dalam sebuah penelitian yang bersifat statistik.
Contoh:
Tidak ada pengaruh antara mahalnya maskawin terhadap jumlah pernikahan di kota A.
Tidak ada perbedaan antara mahasiswa kelas A dan B dalam cara berpakaian.
Faktor-faktor dalam Hipotesis
a. Kalimat yang digunakan adalah kalimat deklaratif, maksudnya harus
kalimat positif dan tidak normatif. Sehingga, kalimat seharusnya, sebaiknya, seyogyanya, dan lain-lain harus dihindari.
Contoh:
Seharusnya mahasiswa mengikuti perkuliahan secara
disiplin (tidak tepat).
Kedisiplinan mahasiswa ketika mengikuti perkuliahan
menurun (tepat).
b. Variabel-variabel dalam hipotesis adalah variable operasional (dapat
diamati dan diukur).
Menyusun Hipotesis dan Contoh Kasus
Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang bersifat
kuantitatif saja. Sedangkan pada penelitian kualitatif, tidak dirumuskan
hipotesis. Akan tetapi diharapkan dapat ditemukan hipotesis, untuk kemudian,
peneliti akan menguji hipotesis itu menggunakan pendekatan kuantitatif.[9]
Misalnya, dalam bidang tafsir al-Qur’an, penelitian yang digunakan pasti
bersifat kualitatif, bukan kuantitatif. Sehingga dari jenis penelitian ini,
tidak dapat dirumuskan hipotesis. Yang dapat dilakukan akan adalan menemukan
hipotesis dan mengujinya dengan pendekatan kuantitatif.
Penelitian Kuantitatif
Seorang peneliti akan meneliti pengaruh jumlah dosen yang hafal al-Qur’an
30 Juz di fakultas Ushuluddin, Institut PTIQ Jakarta terhadap semangat
mahasiswa dalam menghafal al-Qur’an.
Dari sini dapat dirumuskan:
a. Berapa prosentase dosen fakultas Ushuluddin PTIQ Jakarta yang hafal
al-Qur’an 30 Juz?
b. Berapa prosentase mahasiswa yang berminat menghafal al-Qur’an 30 Juz?
Hasil akhirnya, bisa berupa:
a. Ada pengaruh jumlah dosen di fakultas
ushulddin Institut PTIQ Jakarta yang hafal al-Qur’an dengan semangat mahasiswa
dalam menghafal al-Qur’an, atau
b. Tidak ada pengaruh jumlah dosen di fakultas
ushulddin Institut PTIQ Jakarta yang hafal al-Qur’an dengan semangat mahasiswa
dalam menghafal al-Qur’an.
Penelitian Kualitatif
Seorang peneliti akan meneliti tentang apakah M. Quraish Shihab (selanjutnya
ditulis dengan MQS) itu penganut syi’ah atau bukan. Hal ini didasarkan karena
ia menulis buku yang berjudul “Sunnah
Syiah, Bergandengan Tangan, Mungkinkah?”.
Apa yang ditulisnya menunjukkan ditemukannya hipotesis bahwa MQS adalah
seorang syi’i (penganut syi’ah).
Namun, harus diakui itu bukan hasil akhir penelitian. Masih harus dilakukan
penelitian lagi dengan menggunakan pendekatakan kuantitatif, yakni melihat
bagaimana MQS menafsirkan ayat-ayat tentang ahlul
bayt (keluarga nabi) dan para sahabat.
Jika kemudian ditemukan bahwa dalam menafsirkan ayat-ayat itu, MQS
cenderung dan lebih banyak membela ahlul
bayt dan menafikan para sahabat, maka hasil akhir penelitian membuktikan
bahwa MQS adalah seorang syi’i. Jika hal
itu tidak terbukti, maka harus diakui bahwa ia bukan seorang penganut ajaran syi’ah.
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dari uraian
singkat di atas dapat disimpulkan bahwa:
a. Hipotesis berasal dari kata hipyothesa.
Tersusun dari dua suku kata: “hypo”
yang berarti “di bawah” dan “thesa”
yang berarti “kebenaran”.
b. Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap suatu permasalahan dalam
sebuah penelitian sampai jawaban akhir terbukti melalui pengolahan data yang
terkumpul.
c. Ada dua jenis hipotesis: hipotesis kerja dan hipotesis nol.
d. Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang bersifat
kuantitatif saja. Sedangkan pada penelitian kualitatif, tidak dirumuskan
hipotesis.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. Prosedur
Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2014
Juliansyah Noor, Metode
Penelitian. Jakarta: Prenada Media. 2016
Maman Abdurrahman, dkk, Panduan
Praktis Memahami Penelitian. Bandung: CV. Pustaka Setia. 2011
Hamdi, Asep Saepul, dkk. Metode
penelitian Kuantitatif Aplikasi Dalam Pendidikan. Sleman: Deepublish. 2014
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alvabeta. 2017.
Gulo, W. Metodoogi Penelitian.
Jakarta: Grasindo 2002
[3] Maman
Abdurrahman, dkk, Panduan Praktis
Memahami Penelitian (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2011), h. 65
[5] Asep
Saepul Hamdi, dkk, Metode penelitian
Kuantitatif Aplikasi Dalam Pendidikan (Sleman: Deepublish, 2014), h. 36
Komentar
Posting Komentar