Tafsir Ayat dan Macam-macam Ibadah
KATA PENGANTAR
Tujuan
manusia diciptakan, tidak lain adalah hanya untuk beribadah dan menyembah Allah
Swt. Setiap apa yang dilakukannya harus senantiasa mencerminkan nilai-nilai
peribadatan itu sendiri. Oleh karenanya, segala bentuk kedurhakaan yang
dilakukan manusia merupakan suatu larangan. Dalam makalah ini akan dibahas
tentang tafsir-tafsir ayat ibadah menurut beberapa mufassir. Juga, pembagian
ibadah tak lupa penulis hidangkan di sini. Selamat membaca!.
PEMBAHASAN
Ibadah
secara bahasa adalah artinya taat karena menghormati. Sedangkan secara istilah,
ibadah berarti suatu ungkapan yang digunakan untuk menunjukkan gabungan antara
rasa cinta, hormat, dan takut. Menurut al-Mahaimi, ibadah adalah menghinakan
diri sendiri di hadapan pihak lain yang didasarkan kekpada tingginya rasa
menghormati.[1]
Menurut Wahbah al-Zuhaili, secara bahasa, ibadah adalah menghinakan
diri, hormat, dan pembimbingan.[2] Sedangkan menurut Muhammad Mahmud
al-Hijazi, ibadah adalah adalah penghinaan (menganggap tidak penting atau
remeh) semua makhluk dan mengagungkan sang khaliq, Allah Swt. dengan cara
bersujud kepada-Nya.[3]
Di antara banyak ayat yang membahas tentang ibadah, karena
kertebatasan ruang, penulis hanya mencantumkan 3
(tiga) ayat saja.
Ayat Pertama
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ
وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)[4]
Penulis tidak menemukan asbab al-nuzul dari ayat ini. Entah karena
keterbasan bahan bacaan penulis, atau memang karena tidak ada. Namun, jika
melihat pada kajian-kajian tentang asbab al-nuzul, memang tidak semua ayat
memiliki asbab al-nuzul. Sehingga ayat dengan model seperti ini, bisa dipahami
dengan tanpa asbab al-nuzul.[5]
Makna لِيَعْبُدُون adalah “Kujadikan
jin dan manusia hanya untuk tujuan beribadah dan ma’rifat kepada-Ku.[6]
Menurut al-Maraghi, ayat ini menjelaskan bahwa jin dan manusia
memang diciptakan untuk beribadah. Karena tanpa keberadaannya, niscaya mereka
tidak akan mengenal dan bertauhid kepada Allah Swt.[7]
Namun, ini juga bukan berarti bahwa Allah Swt. butuh disembah oleh jin dan
manusia.[8]
Terkait ayat
ini, Sayyidina Ali k.w.—sebagaimana dikutip al-Khazin—bebrkata bahwa maksud
ayat ini adalah Allah Swt. memerintahkan
jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya.[9]
Al-Qusyairi—sebagaimana
dikutib al-Qurthubi dalam tafsirnya—menjelaskan bahwa ayat ini memang secara
sekilas terlihat umum, namun sebenarnya maknanya khusus. Yakni khusus bagi
manusia dan jin yang beriman saja. Sehingga maknanya, kurang lebih akan
menjadi:
“Dan
aku tidak menciptakan golongan yang beruntung baik dari jenis jin
dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”
Muhammad Abdil
Latif menjelaskan bahwa ayat menjelaskan bahwa tujuan diciptakannya jin dan
manusia adalah agar mereka menjadi hamba sejati yang menyembah kepada Allah
Swt.[10]
Salah satu yang menjadi perhatian kita adalah mengapa jin
didahulukan daripada manusia-sebagaimana sebagaimana yang ditulis al-Razi dalam
tafsirnya-adalah karena ibadah itu ada dua, sirri dan jahr.
Ibadah yang dilakukan jin adalah ibadah sirri, sehingga tidak atau
sulit terjangkiti penyakita riya’. Sedangkan ibadah manusia adalah ibadah jahr, kelihatan. Sehingga rawan
terjangkit riya’.[11]
Dalam ilmu balaghah, pendahuluan dan pengkahiran ini memiliki
faedah tersendiri. Sehingga-hemat penulis-ibadah yang dilakukan manusia lebih
berat daripada ibadahnya jin. Oleh karenanya, manusia lebih berhak mendapat
pahala yang lebih banyak.
Lantas, mengapa Allah tidak menyebut malaikat? Ada banyak alasan
tentang ini (jika kita merujuk pada al-Razi). Di antaranya adalah (a) karena
malaikat memang tidak memiliki hawa nafsu, kesehariannya memang untuk beribadah.
Sehingga tidak perlunya dicantumkan dalam ayat ini. Dan (b) ada yang
berpendapat bahwa malaikat adalah bagian dari jin.
Al-Biqai
menjelaskan alasan mengapa Allah Swt. menyebutkan ayat itu. Ia beranggapan
bahwa kebanyakan manusia itu dalam keadaan kufur, yakni mengingkari peribadatan
kepada-Nya.[12]
Ayat
Kedua
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا
إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya
aku (adalah) Allah, tidak ada Tuhan (Yang Kuasa dan berhak disembah) melainkan
Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat dengan sempurna untuk
mengingat Aku” (QS. Thaha [20]: 14)
Muhammad Ali al-Shabuni, ayat ini seakan berbunyi: “Aku adalah
Allah yang berhak disembah. Tidak ada Tuhan selain Aku. Maka sendirikanlah Aku
dalam ibadah dan tauhid. Serta dirikanlah shalat untuk mengingat Aku di dalam
shalat itu.[13]
Ada pula ulama yang menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kepada
kita bahwa hal yang wajib diketahui oleh orang-orang mukallaf adalah tentang
kalimat tauhid.[14]
Dari pemaparan di atas, penulis berkesimpulan bahwa esensi shalat
adalah mengingat Allah. Akan tetapi, bukan berarti jika kita sudah bisa
mengingat Allh lantas kita tidak perlu shalat. Tidak. Shalat harus tetap
dikerjakan, apapun keadaannya.
فَاعْبُدْنِي menurut al-Sya’rawi, ialah Allah Swt. ingin
berkata: Taat mengerjakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Ku.
Ayat Ketiga
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا
لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ
وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ
وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal,
mereka (orang-orang Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrik) tidak diperintahkan
kecuali supaya mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (untuk-Nya),
lagi (bersikap) lurus, dan supaya mereka melaksanakan shalat secara sempurna
dan berkesinambungan dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
sangat lurus (bukan seperti yang selama ini mereka jalankan)” (QS.
Al-Bayyinah [98]: 5)
حُنَفَاءَ artinya
bersikap lurus. Menurut Ali al-Shabuni, kata ini bermakna orang-orang yang condongnya
(berubah) dari kebatilan menuju agama yang lurus.[15]
Menurut al-Zuhdi dan asy-Syafi’i-sebagaimana dikutip oleh Ibnu
Katsir dalam tafsirnya-mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa amal itu
termasuk keimanan.[16] Sehingga,
dari sini, penulis berkesimpulan bahwa amal adalah buah dari iman. Orang yang
beriman namun tidak melakukan amal, maka imannya layak dinilai kurang. Dalam Lubab
al-Nuqul, al-Suyuti tidak mencamtumkan asbab al-nuzul ayat ini.[17]
Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa dalam taurat dan injil,
mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) juga diperintahkan hanya menyembah
Allah. namun mereka tidak mau dan justru menyembah orang alim dan rahib mereka.[18]
Ibadah Mahdhah dan Ghairu Mahdhah
Dari beberapa penjelasan tentang ayat ibadah seperti halnya di
atas, ulama membagi ibadah menjadi dua bagian: mahdhah dan ghairu
mahdhah.
Untuk ibadah mahdhah, mereka menggunakan dalil:
“Hukum asal dalam setiap hal adalah haram, sampai ada dalil yang
melarangnya”.
Kaidah ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa ibadah itu
sempit. Sedikit-sedikit tidak boleh. Haram. Namun ternyata ini hanya berlaku
dalam ibadah yang aturannya , memang sudah disiapkan oleh agama. Misalnya,
shalat, puasa, haji, dll. Tidak boleh diubah. Harus sama dengan apa yang sudah
mejadi syariatnya. Dalam hal shalat misalnya, Nabi bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي
أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Bukhari)
Secara ringkas, ibadah mahdhah ini adalah ibadah yang berkaitan
langsung dengan Allah.
Sedang untuk ibadah ghairu mahdhah, digunakanlah kaidah:
“Hukum dari setiap sesuatu itu boleh, sampai ada dalil yang
melaranganya.”
Sehingga kita semakin leluasa untuk “memodifikasi” ibadah.
Aktifitas ini yang kemudian disebut dengan isitilah bid’ah. Dan ini selalu
berkaitan dengan muamalah.
PENUTUP
Sebagai muslim yang taat, kita harus mengerjakan ibadah dengan sekuat
tenaga. Setiap hari, apa yang kita lakukan harus selalu bernafaskan ibadah
kepada Allah Swt. Keadaan ini bisa disiasati dengan cara
merubah niat kita. apa yang kita lakukan harus diniati ibadah. Karena
sebagaimana hadis Nabi, segala sesuatu itu tergantung niatnya.
Dari penjelasan tentang ibadah di atas, dapat disimpulkan bahwa secara
garis besar ada dua macam ibadah yang dirumuskan oleh para ulama:
Pertama, Mahdhah. Ialah adalah ibadah yang sudah tidak bisa diotak-atik lagi.
Kedua, Ghairu mahdhah. Ini adalah ibadah yang masih bisa
diotak-atik lagi, tentunya dalam koridor, cara, dan niat yang baik.
Pemahaman ini sangat diperlukan agar kita tidak mudah menuduh orang lain
mengerjakan amal yang tidak ada tuntunannya, lebih-lebih di zaman seperti ini. Karena bisa jadi, apa yang
dilakukan orang lain itu adalah ibadah ghairu mahdhah, yang memang tidak ada dalil
naqli yang melandasinya, namun juga tidak bertentangan dengan dalil naqli yang
lain.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ihsan, Muhammad ‘Amim. Al-Ta’rifat al-Fiqhiyyat. T.t. Beirut: Darul Kutub al-‘Alamiyyah
Katsir, Imaduddin Abi al-Fida’ Isma’il bin. Tafsir al-Qur’an
al-Karim. 2000. Mesir: Muassasah Qarthabah
Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. Tafsir al-Maraghi. 1946. Mesir:
Musthafa al-Babi.
Al-Razi, Fakhr. Tafsir al-Kabir. T.t. Mesir: t.p.
Al-Shabuni, Muhammad Ali. Shafwah al-Tafasir. 1981. Beirut:
Dar al-Qur’an al-Karim
Shihab, M. Quraish. Al-Qur’an dan Maknanya. 2013. Tangerang:
Penerbit Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. Kaidah Tafsir. 2013. Tangerang: Penerbit
Lentera
Al-Suyuti. Lubab al-Nuqul. 2002. Beirut: Muassasah
al-Kutub al-Tsaqafiyyah.
Al-Zuhaili, Wahbah. Tafsir Munir. 2009. Suriah: Darul Fikr.
[1]
Muhammad ‘Amim al-Ihsan, Al-Ta’rifat
al-Fiqhiyyat (Beirut: Darul Kutub al-‘Alamiyyah, t.t.), h. 141.
[3]
Muhammad Mahmud al-Hijazi, al-Tafsir
al-Wadhih (Beirut: Dar al-Jail al-Jadid, 1413 H.), v. 3., h. 542
[4]
Terjamahan seluruh ayat pada makalah ini merujuk pada Al-Qur’an dan Maknanya,
karya M. Quraish Shihab (Tangerang: Penerbit Lentera Hati, 2013).
[9]
Alauddin Ali bin Muhammad
al-Khazin, Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil (Beirut: Dar al-Kutub
al-Alamiyyah, 1415 H.), v. 4., h. 197
[10]
Muhammad Abdil Latif bin
al-Khatib, Awdha al-Tafasir (Mesir: al-Mathba’ah al-Mishriyyah, 1964), h. 644
[12]
Ibrahim bin Umar bin Husain
al-Biqa’i, Nazhm al-Durar (Kairo: Dar al-Kutub al-Islamiy, t.t.), v. 18,
h. 480
[16]
Imaduddin Abi al-Fida’ Isma’il bin Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Karim
(Mesir: Muassasah Qarthabah, 2000), h. 424.
Komentar
Posting Komentar