Langsung ke konten utama

Makalah Tafsir Tahlili 1-5



Surat Ali Imran Ayat 191-200










Ayat
191


الَّذِينَ
يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ
فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا
سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)


“(Ulul
Albab) adalah orang yang berdzikir dalam keadaan berdiri, duduk, atau
berbaring. Dan berfikir tentang apa yang diciptakan Allah Swt. Wahai Tuhan pemelihara
kami, engkau tidak pernah menciptakan semua ini sebagai sesuatu yang sia-sia.
Mahasuci engkau, jauhkan kami dari siksa api neraka.”






Bedzikir dalam bahasa arab, berasal dari kata dza ka
ra, yang secara bahasa artinya mengingat. Oleh karenanya, esensi dari setiap
dzikir yang kita lakukan adalah mengingat Allah Swt. Orang yang  mengerjakan kegiatan berdzikir tapi tidak
mengingat Allah berarti ia hanya dzikir secara lahiriyah saja, batiniyahnya tidak.
Kegiatan berdzikir ini sangat luas. Banyak ragam dan macamnya.


Pertama,
membaca wirid


Ini biasanya dilakukan secara istiqamah. Kegiatan
berdizikir seperti ini biasanya dalam prakteknya dilakukan dengan membaca
beberapa bacaan singkat namun dengan jumlah tertentu. Misalnya, ya hayyu ya qayyum, ya latif, ya fattah ya
razzaq,
dll.


Kegiatan seperti syarat dengan ijazah. Artinya,
kegiatan dzikir dengan menggunakan wirid biasanya berdasarkan ijazah dari
seorang guru. Atau jika dalam dunia sufi, disebut mursyid.


Ada yang menjalankan ini dengan sendiri. Ada juga
yang dilakukan secara berjamaah. Yang berjamaah ini ada yang di masjid atau
bahkan di tanah lapang yang luas, seperti halnya yang terjadi di Jawa Timur.


Dalam urusan waktu pun kadang juga dibatasi.
Misalnya harus dibaca di malam hari, waktu sahur, atau pagi hari. Intinya
kegiatan dzikir denga wirid ini selalu memiliki batas-batas, entah waktu atau
jumlah bilangannya.


Kedua,
shalat


Dzikir dengan menggunakan media shalat adalah dzikir
yang paling baik. Karena dalam shalat lah manusia akan “bertemu dan
bercengkrama” dengan Tuhannya. Allah berfirman: “Dan dirikanlah shalat untuk mengingatku” (QS. Thaha [20]: 14)


Tujuan shalat adalah untuk mengingat Tuhan. Jika
dalam shalat, manusia tidak mengingat Tuhan, berarti shalatnya belum berhasil.
tidak ada ibadah yang paling bisa digunakan untuk “duduk bersama Tuhan” selain
shalat. Shalat yang di dalamnya kita tidak bisa mengingat Tuhan adalah shalat
yang “sia-sia”.


Namun, hal ini juga bukan berarti jika kita sudah
bisa mengingat Tuhan, kita tak perlu lagi shalat. Tidak. Shalat harus terus dan
terus dilakukan apapun keadaannya. Shalat adalah ibadah badaniyah yang harus
dilakukan siapa saja karena begitu mudahnya. Dan mengingat Tuhan adalah hasil
atau tujuan dari shalat itu sendiri. Nama lain dari mengingat Tuhan dalam
shalat adalah khusyu’. Tanpanya, shalat kita akan berkurang nilainya.


Saya pernah ditanya oleh seorang teman, “Apakah
kalau shalatnya tidak khusyu’ kita tidak mendapat pahala? Dan apakah itu juga
berarti lebih kita tidak shalat saja?”.


Saya jawab, “Kita tetap mendapat pahala, tapi tidak
sebanyak jika kita khusyu’. Kita harus tetap melakukan shalat, meski tidak
khusyu. Ketika kita sudah terbiasa shalat, insyaallah khusyu’ itu akan datang
sendiri.”


Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa khusyu’ itu
takhasyu’. Yakni cara yang paling mudah untuk membuat kita khusyu’ adalah
dengan cara berpura-pura khusyu’. Ya, dengan pura-pura khusyu’, otomatis-jika
itu dilakukan secara terus menerus-kita akan khusyu’ dengan sendirinya.


Namun, dalam sebuah tulisannya, M. Quraish Shihab
menjelaskan bahwa khusyu’ itu memang hati yang bekerja. Namun, fisik kita juga
berperan. Orang yang shalatnya, (maaf) terlalu banyak gerak, yang meskipun
tidak membatalkan shalat, namun secara kasat mata, orang itu pasti tidak
khusyu. Ghalibnya, orang yang shalatnya tenang, itulah orang yang khusyu. Meski
pun begitu, hal ini juga tidak bisa disamaratakan. Tidak berlaku pukul rata.
Apalagi khusyu’ ini kan ibadah hati. Dan hanya Allah yang bisa menilai apakah
seseorang itu benar-benar khusyu’ atau tidak.


Ketiga, membaca al-Qur’an.


Dalam sebuah pengajian, KH. Maimun Zubair
menjelaskan bahwa al-Qur’an adalah wirid terbaik. Oleh karenanya, dari sini
penulis berkesimpulan bahwa orang yang hafal al-Qur’an, tidak perlu lagi
membaca wirid-wirid tertentu jika hal itu bisa mengganggu hafalannya.


Al-Qur’an adalah kalam ilahi. Membacanya sama dengan
membaca surat dari Tuhan. Orang yang membacanya akan mendapat banyak pahala.
Ini berlaku untuk semua orang. Bahkan orang yang tidak faham al-Qur’an
sekalipun. Namun tentunya, mereka yang memahami al-Qur’an  akan lebih baik daripada mereka yang tidak
faham.


Apa yang penulis sampaikan ini adalah sebagai bahan
renungan bagi sekolompok musllim yang sering mengklaim bahwa tidak ada gunanya
membaca al-Qur’an namun kita sendiri tidak faham. Tidak. menurut penulis tidak
seperti itu. Membaca al-Qur’an baik faham atau tidak akan sama-sama mendapat
pahala.


Hal ini bisa dilihat dari penjelasan yang
disampaikan rasulullah Saw. Nabi Muhammad menyampaikan bahwa membaca al-Quran
itu pahalanya sangat besar. Pahala yang didapatkan tidak berdasarkan berapa
lembar atau berapa halaman yang diaca, namun pahala yang akan didapat
berdasarkan jumlag huruf. Kemudian, Nabi mencontohkan alif lam mim.


Hampir semua kitab tafsir-untuk tidak mengatakan
semuanya-tidak ada yang yang secara pasti mengetahui makna alif lam mim. Oleh
karenanya, dari sini dapat disimpulkan bahwa membaca al-Qur’an meski tidak
memahami maknanya, pasti akan tetap mendapat pahala.


Tafakkur


Ciri-ciri lain agar seseorang mendapat predikat ulul
albab adalah dengan bertafakkur. Yaitu berfikir dan merenung atas ciptaan
Allah. Dalam sebuah  hadis, Nabi
menjelaskan bahwa bertafakkur meski hanya sesaat akan lebih banyak pahalanya
daripada shalat sunnah. Mengapa? Karena dengan bertafakkur kita akan mengetahui
banyak hal, di antaranya: apa amal saja yang telah kita lakukan, akan kemana
kita, dan betapa banyak dan hebatnya ciptaan Allah.


Orang yang sering bertaffakur akan memiliki etos
kerja yang tinggi. Apa yang dikerjakannya akan selalu membawanya ke arah yang
lebih baik. Ia akan sadar bahwa selama amal yang telah dikerjakannya hanya
sedikit, yang oleh karenanya ia akan terus berusaha menjadi lebih baik.


Tafakkur yang benar-benar tafakkur adalah yang
menghasilkan aksi nyata. Orang yang hanya berfikir tanpa melakukan aksi yang
nyata setelah itu, maka tafakkurnya tidak bernilai apa-apa. Bertafakkur adalah
mengevaluasi apa saja yang telah dan akan kita kerjakan.


Saat ini banyak kegiatan tadabbur alam yang diadakan
oleh sebuah komunitas atau lembaga. Bisa dalam bentuk hiking, traveling, atau
mendaki gunung. Kegiatan seperti itu layak diapresiasi asal dilakukan dengan
cara yang tidak melanggar aturan agama. Namun kegiatan seperti itu hanya akan
menjadi kegiatan tanpa makna jika para pesertanya tidak mau berfikir dan
mengimplementasikan hasil pemikirannya dalam kehidupan nyata.


Orang yang melihat betapa besarnya ciptaan Tuhan,
misalnya tingginya gunung atau luasnya lautan, seharusnya berfikir betapa
kecilnya ia. Dengan seperti itu, ia tidak akan menjadi manusia yang sombong.
Karena hasil ciptaan Allah begitu luas dan tinggi, maka berapa hebatnya Allah.
Betapa besar keagungan-Nya.


Juga, hasil tafakkur alam harus mengantarkan manusia
pada kesimpulan pada kehebatan Allah. Jika Allah berkehendak, maka Dia akan...


Istiqamah


Ada kegiatan mengistiqamahkan dzikir ini anjuran
Nabi Muhammad Saw., yang dalam sabdanya dijelaskan bahwa kegiatan yang paling
baik dilakukan adalah yang istiqamah meski sedikit.


Ayat
192


رَبَّنَا
إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ
أَنْصَارٍ (192)


“Tuhan
pemelihara kami, sesungguhnya siapa yang engkau masukkan ke neraka, maka
sungguh Engkau telah menghinakan dia, dan tidak ada bagi orang-orang zalim
(satu) penolong (pun)”.


Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa neraka adalah
tempat yang hina. Siapa yang memasukinya berarti ia adalah orang yang hina.
Orang yang mulia, tidak akan masuk dan dimasukkan ke dalamnya.


Kemuliaan seseorang, tidak terletak pada jabatan
yang ia duduki atau harta yang ia miliki. Kemuliaan seseorang hanya tergantung
ketakwaannya. Dimana ketakwaan itu tempatnya bukan di fisik atau lahir, tapi
batin.


Mafhum mukhalafah-nya, meski orang itu mulia secara
lahir, namun tidak bertakwa, maka sebenarnya ia adalah orang yang hina. Orang
seperti itu akan mendapat kehinaan dengan dimasukkannya ke dalam neraka.


Juga, ayat ini agaknya ingin menegaskan bahwa
Dia-lah yang akan memasukkan ke neraka. Ayat ini ingin membantah siapa saja
yang meragukan keesaan dan kekuasaan Allah Swt. Orang yang sombong di dunia dan
merasa paling mulia dengan kemewahan dunia yang ia miliki (yang sampai
melupakan ibadah kepada Allah Swt.), akan dihinakan di akhirat.


Siapa yang telah dihinakan oleh-Nya, maka tak akan
pernah ada satu penolong pun. Ia akan tetap di neraka. Bantuan yang datang tak
akan ada gunanya.


Ayat ini menggunakan panggilan “Tuhan pemelihara
kami”, agaknya berisi doa bahwa orang yang memanjatkan doa tidak ingin masuk
neraka, karena saking menyeramkan.


Kalimat ini meski berisi kalam khabar, namun sejatinya berisi doa atau harapan tercapainya sebuah
keinginan (insya’), seperti seorang
teman kita yang berkata “Saya lapar.” Kalimat itu bisa jadi tidak bermaksud
mengabarkan keadaan dia saja, namun juga bermaksud untuk meminta bantuan agar
diberi makanan.


Ayat
193


رَبَّنَا
إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ
فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا
وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ (193)


“Tuhan
pemelihar kami, sesungguhnya kami mendengar penyeru yang menyeru kepada iman (yaitu):
“Berimanlah kamu kepada Tuhan pemelihara kamu,” maka kami (pun) beriman. Tuhan
pemelihara kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan tutuplah dari kami
kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang sangat luas dam
banyak kebajikan.”


Ayat ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa ketika
ada panggilan atau seruan untuk berbuat kebaikan, kita harus mengindahkannya.
Ayat itu sengaja tidak menyebut siapa yang memanggil, agaknya memang agar kita
senantiasa mematuhi atau melaksanakan perintah untuk berbuat baik, siapa saja
yang mengajak atau memerintah. Dalam sebuah maqalah disebutkan, “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat
siapa yang berkata
”.


Selama ajakan itu baik, kita harus menaatinya.
Karena jika kita selalu melihat terlebih dahulu siapa yang berkata/mengajak
kita, kita akan selalu menemukan kekurangan atau kecacatan orang itu. Padahal
kita tahu tidak ada orang yang tidak memiliki kekurangan. Dalam peribahasa
kita, “Tiada gading yang tak retak”.


Tentang kekurangan yang pasti dimiliki oleh
seseorang, ayat ini mempertegasnya kembali. Yakni, setelah menyebutkan tentang
keimanan, ayat ini berbunyi tentang permohonan ampun atas segala dosa dan
salah.


Sebaik apapun dan setinggi apapun kadar keimanan
seseorang, pastilah ia masih mempunyai dosa. Sama dengan kita. Hanya saja yang
berbeda adalah kadarnya.


Tutupilah
kesalahan kami.
Setiap manusia pasti memiliki
kesalahan. Ada yang tertutup dan belum diketahui orang lain, dan ada pula yang
telah dibuka oleh-Nya dan diketahui khalayak ramai. Melalui ayat ini, kita
diberi contoh agar meminta tertutupnya segala kesalahan yang ada dalam diri
kita.


Juga, setiap kita tak layak menghina orang lain
(karena kesalahannya) dan merasa paling suci sendiri. Bisa jadi, kita
sebenarnya yang paling banyak dosanya, hanya saja sedang ditutupi oleh Allah
Swt.


Ayat
194


رَبَّنَا
وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (194)


 “Tuhan pemelihara kami, dan anugerahilah kami
apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui para rasul-Mu, dan janganlah
Engkau hinakan kami pada hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi
janji”


Setelah membahas tentang keimanan dan permohonan
ampunan dosa serta wafat bersama orang-orang baik, ayat ini menjelaskan tentang
permintaan agar Allah Swt. menepati janjinya.


\Agaknya melalui ayat ini, kita diajarkan bagaimana
seharusnya meminta atau menagih janji kepada Allah Swt. Yakni dengan cara
melakukan segala perintah-Nya terlebih dahulu (keimanan), dan termaafkannya
dosa, baru setelah itu meminta agar menepati janji dan tidak menghinakan kita
pada hari Kiamat.


Memang tidak pantas jika kita hanya meminta hak kita
namun lupa mengerjakan kewajiban. Seorang pekerja hanya layak meminta upah dari
pekerjaannya setelah ia benar-benar terbukti bekerja.


Ayat ini juga mempertegas kembali apa yang telah
diuraikan pada ayat sebelumnya Yakni tentang hinanya seseorang. Sepertinya,
kita memang diajarkan agar meminta dari terhinanya keadaan, terlebih jika itu
terjadi di akhirat.


Jika kita hina di dunia, masih ada harapan untuk
menjadi mulia kembali. Karena bisa jadi, hinanya kita bukan semata-mata karena
kesalahan kita. Mungkin karena ada orang yang sengaja menjebak kita. Dalam
keadaan seperti ini, kita masih memiliki harapan untuk kembali mulia.


Namun, jika kita telah dihinakan di akhirat, tak
akan ada harapan itu lagi. Karena akhirat adalah ending dari segala hal. Ia adalah final. Siapa yang benar, akan
menuai hasilnya. Begitu pula dengan yang berbuat kesalahan. Tidak akan ada manipulasi
data di akhirat, karena Allah Swt. adalah seadil-adilnya hakim.


Ia juga zat yang paling menepati janji. Tentunya
janji itu akan ditepati-Nya jika kita memang telah melakukan apa yang telah
menjadi perjanjian antara kita dengan-Nya. 


Ayat
195


فَاسْتَجَابَ لَهُمْ
رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى
بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ
وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ
سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ (195)


 “Maka, Tuhan pemelihara mereka
memperkenankan bagi mereka (permohonan mereka). (Allah Swt. berfirman);
“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu,
(baik) laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu (berasal) dari sebagian yang
lain. Maka, orang-orang yang berhijrah dan yang diusir dari kampung halaman mereka,
yang disakiti pada jalan-Ku, dan yang berperang dan yang dibunuh, pasti akan
Aku tutup kesalahan-kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke
surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai sebagai pahala dari sisi
Allah. Dan Allah, di sisi-Nya, pahala yang baik.”


Setelah sebelum, pada beberapa ayat,  al-Qur’an menampilkan doa-doa, pada ayat ini
Allah menjelaskan bahwa Dia mengabulkan doa itu.


Sesungguhnya
Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu
. Agaknya Allah ingin menekankan bahwa usaha yang kita kerjakan; doa yang
kita panjatkan, serta amal kebaikan apapun yang kita perbuat, akan dibalas
oleh-Nya.


Tentu, balasan itu tidak bisa kita pukul rata harus
ada di dunia. Yang jelas, kesemuanya itu akan dibalas. Mengenai waktunya kapan,
hanya Dialah yang tahu, mana yang sesuai dengan keadaan kita. Dia selalu
memberikan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.


Orang yang mendapat kesengsaraan di dunia ketika
membela agama Allah, akan mendapat pahala yang sangat besar, yakni berupa
terhapusnya dosa dan dimasukkannya ke dalam surga-Nya.


Dari sini, dapat kita pahami bahwa keadaan kita di
dunia, tidak menjamin keadaan kita di akhirat kelak. Bisa jadi, saat ini, di
dunia, kita serba kekurangan. Namun, asalkan kita tetap beriman dan beramal
shalih kepada-Nya, niscaya kita akan mendapat kehidupan yang nyaman di akhirat.


Begutu pula sebalik, kemewahan hidup yang dirasakan
di dunia, tidak bisa menjadi jaminan bahwa seseorang juga akan mendapatkan
kebahagiaan di akhirat.


Ayat
196


لَا
يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ (196)


“Janganlah
sekali-kali engkau teperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di
negeri-negeri.”


Aturan yang dibawa oleh Nabi Muhammad, yakni yang
berupa agama Islam itu selalu menghantarkan pelakunya mendapat kebahagiaan di
dunia dan akhirat. Islam selalu mengajak kepada kedamaian.


Memang saat menjalankan ajaran Islam secara kaffah, ada aturan yang harus dilakukan
dan larangan yang harus ditinggalka/dihindari. Namun, kesemuanya itu bukan
untuk kepentingan Allah Swt. keberadaan segala aturan itu untuk kemaslahatan
umat yang menjalankannya.


Oleh karenanya, janganlah sekali-kali engkau
teperdaya.
Ghurur adalah tipu daya setan. Dengan ghurur, kita akan
memandang bahwa sesuatu itu baik, padahal buruk. Kita akan menganggap bahwa
satu hal itu besar padahal kecil. Banyak padahal sedikit.


“...oleh
kebebasan orang-orang kafir bergerak di negeri-negeri”
. Mereka yang kafir tidak melakukan ajaran Islam. Di dunia memang ia bisa
bebas dan seenaknya sendiri. Ia tak terparagari oleh aturan-aturan yang ketat.
Apapun (boleh) dikerjakannya. Semua boleh bagi mereka. Jika manusia bergerak
tanpa aturan, lantas apa bedanya mereka dengan binatang?.


Apa yang mereka kerjakan memang bisa jadi
membahagiakan mereka di dunia ini. Namun tidak di akhirat kelak. Mereka akan
mendapatkan hasilnya besok di hari akhir.


Oleh karenanya, kita jangan sampai teperdaya atau
iri terhadap apa yang mereka kerjakan. Kita harus meyakini bahwa apa yang kita
kerjakan saat ini benar dan akan mendapat balasan yang berupa surga.


Allah Swr. berfirman:


وَلَلْآخِرَةُ
خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى (4)


“Dan
akhirat lebih baik bagi kamu daripada dunia”


Ayat
197


مَتَاعٌ
قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ (197)


“(Itu)
hanyalah kesenangan yang sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah
(neraka) Jahannam; dan (Jahannam itu) adalah seburuk-buruk tempat tinggal.”


Kesenangan yang akan didapatkan oleh orang kafir
yang bergerak sebebas-besanya itu adalah neraka Jahannam, yakni tempat yang
paling buruk.


 Mereka memang
menganggap semua yang mereka kerjakan di dunia adalah sebagai kebahagiaan.
Mereka lupa bahwa apa yang ada du dunia ini hanyalah sementara. Tidak ada yang
abadi di dunia ini. Bahagia dan sengsara di dunia bukanlah hal yang selamanya.
Ia akan bisa berubah dan berganti ketika di akhrat kelak.


Peribahasa kita mengatakan,”Berakit-rakit ke hulu,
berenang ke tepian”. Kita harus bekerja keras, peras keringat dan banting
tulang terlebih dahulu agar layak medapat kesenangan di kemudian hari.


Secara garis besar, terkait usaha dan hasll, ada
dunia pilihan, (1) bekerja dan bersusah-susah dahulu, baru mendapat kemudahan
dan kebahagiaan; atau (b) bersenang-senang dahulu tanpa bekerja daan berusaha,
dan pada akhirnya akan mendapat kesengsaraan dan penyesalan. Dan orang kafir
memilih yang kedua.


Kita sebagai seorang muslim harus memilih yang
pertama. Yakni beribadah dan menahan diri untuk bersenang-senang di dunia ini,
baru kelak akan mendapat kemuliaan di akhirat kelak.


Orang yang tak menamam, maka tidak akan memanen.
Mereka yang menaruh benih, maka mereka pula yang menuai hasil.


Kesenangan dunia sebagaimana yang dirasakan oleh
orang kafir ada batasnya. Yakni selama ia hidup di dunia saja. Harta, jabatan,
dan segala apa yang melekat pada dirinya akan sirna ketika ia telah mati.


Mereka yang memilih kesenangan hidup di dunia dan
mengabaikan akhirat adalah orang yang terkena penyakit ghurur (tertipu). Mereka akan merasakan hasil dari apa yang mereka
kerjakan itu.


Ayat
198


لَكِنِ
الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ
خَيْرٌ لِلْأَبْرَارِ (198)


“Tetapi
orang-orang yang bertakwa kepada Tuhane pemelihara mereka, bagi mereka
surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sedangkan mereka
kekal  di dalamnya (sebagai anugerah)
yang dihidangkan dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik
bagi orang-orang yang sangat bagus luas dan banyak kebajikan.” 


Orang yang bertakwa akan mendapat pahala yang berupa
surga, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.


Dan
apa yang di sisi Allah adalah lebih baik,
Apa yang
di sisi Allah Swt. ini dalam  arti  luas. Yakni, bisa baik di dunia, atau
akhirat.


Apa yang syariatkan Allah Swt. melalui agamanya selalu
berpihak kepada kepentingan orang manusia. Allah Swt. tidak mendapat keuntungan
apa-apa. Jikapun seluruh manusia di muka bumi ini tidak  menyembah-Nya, Allah Swt. tidak apa-apa. ap
yang dikerjakan manusia adalah untuk kemaslahatan dirinya sendiri.


“...bagi
orang-orang yang sangat bagus luas dan banyak kebajikan.”
Bagi mereka yang luas,  baik amal
atau pandangannya, juga banyak memiliki kebaikan.


Orang-orang yang diberi pahala oleh Allah Swt.
adalah orang yang banyak melalukan kebaikan. Sehingga dapat dipahami bahwa
orang yang hanya melakukan satu atau dua kebaikan tidak layak mendapat balasan
yang berupa surga sebagaimana diterangkan sebelum ini.


Orang yang baik (abrar)
adalah orang yang tidak hanya melakukan satu kebaikan. Ia tidak pilih-pilih
dalam berbuat baik. Kebaikan yang dikerjakan manusia itu bisa berasal dari
berbagai titik atau cara. Ketika semua cara bisa dilakukan, semua dilakukannya.
Orang yang seperti ini, selain mengerti atau pintar terhadap peluang melakukan
ibadah, juga sangat kuat semangat ibadahnya.


Ayat
199


وَإِنَّ
مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ
وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ
ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ
سَرِيعُ الْحِسَابِ (199)


“Dan
sesungguhnya di antara ahl al-Kitab benar-benar ada yang beriman kepada Allah
dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan 
apa yang diturunkan kepada mereka, sedang mereka dalam keadaan khusyuk
kepada Allah; mereka tidak membeli ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka
itu memperoleh pahala mereka di sisi Tuhan Pemelihara mereka. Sesungguhnya Allah
sangat cepat perhitungan-(Nya).”


“...benar-benar
ada yang beriman kepada Allah”.
Melalui
ayat ini, Allah Swt. mengatakan bahwa  tidak
semua ahl al-Kitab itu beriman. Ada sebagian yang beriman dan sebagian lainnya
tidak.


Mereka yang beriman akan sama dengan posisi orang
Islam yang beriman, yakni mendapat pahala yang sangat besar. Namun, sebagaimaa
ayat ini yang menggunakan huruf jar min,
maka dapat dipahami bahwa yang beriman adalah sebagian saja. Tidak
semuanya.


Mereka itu tidak akan membeli atau menjual
ayat-ayat Allah Swt. dengan pahala yang sedikit, yakni dunia. Ayat-ayat Tuhan
tidak akan bisa ditukar dengan apapun.


Ayat-ayat
Allah.
Tidak saja ayat-ayat Allah Swt.
yang terdomentasi dalam kitab suci. Namun, juga bisa berarti tanda-tanda
kekuasaan dan kebesaran Allah. Orang yang seperti mereka tidak akan menganggap
remeh atau sepele tentang ayat-ayat-Nya.


Sehingga gunung yang tinggi, lautan yang luas, dan
tanda-tanda yang lain sangat cukup untuk membuat mereka semakin bertambah
keimanannya. Mereka bisa dikatergorikan sebagai ulul albab (QS. Ali Imran [3]:
190-191).


Sesungguhnya
Allah sangat cepat perhitungan-(Nya).
Ahl
al-Kitab yang demikian itu akan mendapat pahala yang besar. Yang apa yang telah
mereka lakukan itu akan dibalas oleh Allah dengan cepat.


Ayat
200


يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (200)


“Hai
orang-orang yang berima! Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kamu dan tetaplah
bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.”


Hai
orang-orang yang berima!, S
eruan ini agaknya tidak hanya
diperuntukkan kepada orang muslim saja, namun juga ahl al-Kitab yang beriman
seperti telah dijelaskan sebelum ini.


Bersabarlah
dan kuatkanlah kesabaran kamu.
Pada ayat
ini Allah menggunakan dua kalimat yang sama namun tidak serupa: ishbir dan shabir. Dalam ilmu tata bahasa arab ada kaidah ziyadatul mabna tadullu ‘ala ziyadatil ma’na (penambahan kalimat
akan berdampak pada perbedaan makna).


Sabar adalah seuatu yang sangat berat dilakukan.
Oleh karenanya, selain memerintahkan untuk berlaku sabar, Allah Swt. juga
menekankan agar kesabaran itu diperkuat lagi. Sehingga menjadi kokoh dan
benar-benar menjadi sikap yang selalu dilakukan.


Orang-orang kita sering mengatakan bahwa sabar ada
batasnya. Pernyataan itu  tidak selamanya
benar. Menurut  penulis, yang lebih tepat
adalah sabar  ada tempatnya. Menurut
sebuah maqalah, jika seseorang diganggu oleh orang lain dan tidak membalas,
maka ia sama dengan keledai.


“...dan
tetaplah bersiap siaga”.
Karena gangguan kesabaran akan
sangat  banyak sekali. Bisa saja kita
lolos menghadapi cobaan kesabaran yang satu, namun setelah itu akan ada lagi
cobaan yang datang.


Setiap kita yang telah melakukan ketiga hal itu
(sabar, memperkuat kesabaran, dan bersiap siaga), Allah memerintahkan kita
untuk (kembali) bertakwa. Perintah bertakwa ini semakin penguat bahwa  kita benar-benar harus bertakwa kepada Allah
dimana dan kapanpun. Ketakwaan itulah yang nantiya akan membuat kita beruntung.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...