Surat Al-Nisa' 150-152
KATA
PENGANTAR
Al-Qur’an
adalah kalam ilahi yang penuh dengan makna. Tidak saja umat muslim, siapapun
yang memahami al-Qur’an, akan mendapatkan pencerahan yang sangat mencerahkan.
Bahkan akan berbeda antar satu orang dengan orang yang lain.
Dalam
pola menafsirkan al-Qur’an ada sebagian ulama yang membaginya menjadi empat
macam, tahlili, maudhu’i, ijtima’i, dan muqaran. Masing-masing jenis penafsiran
itu memiliki kelebihan dan kekurangan.
Dalam
makalah ini, penulis mencoba membahas tafsir dari surat al-Nisa’, ayat 150-152.
Penulis mencoba mengkolaborasikan pendapat beberapa ulama tafsir melalui
karaya-karyanya.
Selamat
membaca!
Jakarta Selatan, 05 Oktober 2017
Penulis
PEMBAHASAN
Ayat
إِنَّ
الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ
اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ
وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا 150 أُولَئِكَ هُمُ
الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا 151
وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ
مِنْهُمْ أُولَئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا
رَحِيمًا 152
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan
rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya,
dengan mengatakan, "Kami beriman kepada sebagian (dari rasul-rasul itu),
dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)," serta bermaksud (dengan
perkataan itu) mengambil jalan (lain) di antara yang demikian (iman atau
kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah
menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak
membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, ke lak Allah akan memberikan
kepada mereka pahala. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Munasabah
Setelah
Allah Swt. menjelaskan ketidakbolehan mendekati atau bersahabat dengan para
musyrikin dan menjelaskan pula pekerti orang-orang yang munafik, pada ayat ini
Allah menjelaskan dua syarat utama keimanan, yakni iman kepada Allah Swt.
dan seluruh nabi-nabi Allah Swt., tanpa
membeda-bedakkannya.[1]
Tafsir dan
Penjelasan
Ayat 150
Maksud
ayat ini—menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya—adalah ketidakbolehan
membeda-bedakan rasul untuk diimani. Orang yang benar-benar beriman adalah
meereka yang mengimani seluruh rasul Allah Swt. Imannya orang seperti
itu—meskipun beriman terhadap salah satu atau sebagian Nabi—tidak dinilai iman
yang syar’i, karena hal yang seperti itu dipengaruhi oleh dorongan nafsu.[2] Keimanan
model seperti ini (membeda-bedakan) tidak diterima Allah Swt.[3]
Semua
nabi yang diutus—sebagaimana yang dijelaskan al-Qurthubi—selalu diperintahkan
untuk menyuruh umatnya agar mengimani Nabi Muhammad Saw. dan seluruh nabi yang
ada.[4]
Ibnu
Katsir menjelaskan, sikap mereka yang membeda-bedakan seperti itu juga karena
mengikuti apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka. Lebih lanjut, Ibnu
Katsir memerinci secara detail nabi-nabi yang diimani masing-masing ari mereka,
yaitu:
a.
Orang
yahudi mengimani seluruh nabi selain Nabi Isa dan Muhammad.
b.
Orang
Nasrani beriman kepada seluruh nabi, selain Nabi Muhammad.
c.
Orang
Samirah tidak mengimani nabi yang datang setelah Nabi Yusya’ (khalifah/pengganti
Nabi Musa).
d.
Orang
Majusi hanya mengimani Nabi yang bernama Zaradisyta, namun kemudian mereka
mengingkarinya.[5]
Menurut
al-Qurthubi, orang yang tidak beriman kepada nabi akan dinilai kafir. Ia
beralasan karena Allah Swt. telah membuat hukum-hukum yang harus ditaati
seluruh umat manusia, yang mana hukum itu datanganya melalui perantara lisan
para nabi. Dengan tidak mengindahkan dan menerima nabi, berarti ia tidak
menerima ajakan Nabi itu, yang notabene adalah perintah Allah Swt. Walhasil, menolak
syariat yang dibawa nabi, sama halnya dengan menolak pembuat syariat itu (Allah
Swt.).[6]
Kekafiran
yang mereka lakukan—menurut al-Maraghi—terbagi menjadi dua hal: (a) mereka
kafir karena ketidakimanan mereka kepada Nabi dan mereka mengira bahwa ajaran
dibawa Nabi berasal dari mereka (nabi-nabi) itu sendiri, bukan dari Tuhan.; dan
(b) mereka kafir karena hanya mengimani sebagian rasul saja.[7]
Tentang
kafir, al-Sya’rawi menjelaskan bahwa kafir bermakna tutup. Oleh karenanya,
orang yang kafir adalah orang yang tertutup dari keberadaam Allah Swt.[8]
Ayat 151
Orang
yang melakukan pembeda-bedaan itu, dinilai kafir secara nyata. Keimanan
seseorang yang demikian tidak akan ada gunanya. Ketika seseorang tidak
mengimani salah seorang di antara nabi-nabi Allah Swt., berarti ia telah kafir
kepada Allah Swt. Juga, ia telah kafir kepada seluruh nabi Allah Swt.[9]
Menurut
ayat ini, orang yang melakukan pembeda-bedaan itu dinilai kafir secara hakikat.[10]
Karena memang mereka tidak mengimani salah seorang dari utusan Allah Swt.
Kekafiran
mereka bisa terjadi karena memang ketidaktahuan mereka tentang kebenaran ajaran
yang dibawa Nabi Muhammad Swt. Atau bisa jadi karena mereka memang kafir,
meskipun sebenarnya mereka mengetahui. Yang terakhir ini seperti halnya yang dilakukan
oleh para pendeta Yahudi karena iri terhadap kenabian Nabi Muhammad Saw.[11]
Menurut
Fakhrurazi, pernyata Allah Swt. memberikan pemahaman bahwa orang yang
membeda-bedakan keimanan mereka itu dinilali kafir secara sempurna, tetap, dan
meyakinkan.[12]
Ayat 152
Lafadz “ahad” pada ayat
ini—menurut al-Sya’rawi bermaksud seluruh Nabi. Karena memang lafadz “ahad”
bisa bermakna satu, dua, atau tiga/banyak.[13]
Yang dimaksud “orang
beriman” dalam ayat ini adalah umat Nabi Muhammad Saw. karena mereka mengimani
seluruh kitab yang turun dan rasul yang diutus oleh Allah Swt. sebagaimana
firman Allah Swt: “aamanar rasulu bima inzila ilaihi...” (QS. Al-Baqarah
[2]: 285)[14]
Menurut al-Qurthubi, yang menjadi pembahasan dalam adalah Nabi Muhammad Saw. dan
umatnya.[15]
Mengapa ketika Allah
Swt. menjelaskan tentang keadaan orang kafir sebagaimana di atas, kemudian
Allah Swt. berkata “Mereka kafir secara nyata”. Namun ketika berbicara tentang
orang yang beriman, Dia tidak berkata yang serupa? Al-Maraghi memberikan alasan
bahwa seseorang tidak dinilai iman secara sempurna ketika hanya beriman dalam
hati saja dan tidak diimplementasikan ke dalam aksi nyata. Iman yang
sesungguhnya adalah sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat al-Anal, ayat 2.[16]
Pada ayat ini, Allah mengatakan
bahwa Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Maksud ayat ini—menurut
Fakhrurrazi—adalah Allah Swt. berjanji akan memberikan surga kepada mereka.[17]
Hikmah dan
Kontektualisasi Ayat
Keimanan dan kekafiran
adalah dua hal yang bertolak belakang. Mereka tidak bisa disatukan. Keimanan
tidak terbagi. Dan kekafiran itu juga (sebenarnya) hanya satu, namun memiliki
banyak bentuk.[18]
Kasih
sayang Allah Swt. diberikan kepada umat Islam. Hal ini terbukti ketika
seseorang melakukan dosa, Allah Swt. tidak langsung menyiksanya, namun
menunggunya, siapa tahu dia mau bertaubat.
Orang
yang beriman adalah mereka yang mempercayai kepada Allah Swt. dengan sempurna.
Orang seperti ini juga akan mempercayai seluruh apa yang diwahyukan Allah Swt.
kepada nabi-Nya. karena sebagaimana kaidah fiqh, “ridla terhadap sesuatu,
maka harus ridla terhadap suatu hal yang berkaitan dengannya”.
Sebagaimana
telah dijelaskan di atas, orang bisa kafir karena dia dengki. Yakni yang telah
dilakukan oleh para pendeta Yahudi. Mereka sebenarnya mengetahui kebenaran
dakwah yang dibawa Nabi Muhammad Saw. namun, kaerna mereka merasa tersaingi,
maka mereka menolaknya.
Dakwah
di masyarakat pun demikian. Seorang ustadz yang memiliki jama’ah yang banyak,
bisa jadi karena iri, akan sengaja “menolak” kedatangan ustadz baru yang
meskipun ilmunya lebih banyak darinya. Ustadz yang pertama akan kehilangan
pengaruh jika ternyata ada ustadz yang datang kemudian. Itu semua disebabkan
iri dan dengi.
Dalam
era kekinian, menurut penulis, ketika kita telah memantapkan hati untuk tinggal
di negara Indonesia, berarti kita harus ridla dengan segala seuatu yang ada di
dalamnya (sistem dan peraturannya). Karena sungguh menggelikan jika kita siap
dan menikmati udara Indonesia namun kita tidak menyetujui sistem yang berlaku
di sana.
PENUTUP
Dari uraian singkat di
atas, penulis dapat menyimpul bahwa setidaknya ada tiga golongan orang menurut
ayat di atas, yakni:
a.
Orang yang kafir,
karena mengingkari Allah Swt. dan nabi dan rasul Allah Swt. secara keseluruhan.
b.
Orang yang kafir karena
mereka mengimani Allah Swt. dan rasul, namun hanya sebagiannya saja. Sebagian
yang lain mereka ingkari.
c.
Orang yang beriman
kepada Allah Swt. dan nabi serta rasul-Nya tanpa membeda-bedakannya.
DAFTAR PUSTAKA
Fakhruzrazi, Tafsir al-Kabir. v. 11. T.t. T.tp.: al-Bahiyyah
al-Misriyyah
Katsir,
Ibnu. Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim. V. 4. 2000. Kairo: Maktabah Awlad
al-Syaikh
al-Maraghi,
Ahmad Mustaha. Tafsir al-Maraghi. v. 6. 1946. Mesir: Maktabah Mustahafa
al-Babi, 1946
al-Qurthubi, Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar. Jami
al-Ahkam al-Qur’an. v. 7. Beirut: Muassasah al-Risalah.
al-Sya’rawi, Mutawali. Tafsir al-Sya’rawi. 1991. Mesir:
Akhbar al-Yaum
al-Zuhaili, Wahbah. Tafsir Munir. V. 3. 2009. Suriah: Dar
al-Fikr
[3]
Ahmad Mustaha al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi (Mesir: Maktabah Mustahafa
al-Babi, 1946), v. 6, h. 6.
[4]
Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar al-Qurthubi, Jami al-Ahkam
al-Qur’an (Beirut: Muassasah al-Risalah, t.t.), v. 7, h. 205
[15]
Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar al-Qurthubi, Jami al-Ahkam
al-Qur’an, v. 7, h. 206.
Komentar
Posting Komentar