Surat al-Baqarah ayat 1-5
Ayat
1
الم
(1)
“Alif Lam Mim”
Dalam menafsirkan ayat ini, banyak mufassir—untuk
tidak mengatakan semua—tidak menjelaskan ayat ini secara detail. Mereka hanya
mengatakan “Hanya Allah yang mengetahui maksud ayat ini”. Adapun jika ada ulama
yang menafsirkan ayat ini, itu hanya perkiraan saja, karena memang tidak ada
dalil qath’i yang menunjukkan hal
itu.
Karena tidak adanya infomasi pasti mengenai apa yang
dikandung ayat ini, maka tidak berlebihan jika ayat ini sebenarnya menyuruh
kita untuk mengimani sesuatu yang tidak kitahui. Dan memang begitulah keimanan
itu.
Iman adalah keyakinan yang ada dalam hati, diucapkan
dengan perbuatan, dan dikerjakan dengan gerakan badan anggota tubuh. Jika
melihat definisi itu, maka hal pertama yang paling ditekankan adalah tentang
keyakinan.
Meyakini sesuatu adalah inti dari segala ibadah yang
kita lakukan. Serajin apapun kita beribadah kepada Allah, namun jika iman kita
masih error, maka ibadah kita tidak akan ada gunannya.
Orang yang tidak memeluk agama Islam tidak wajib
mengerjakan ibadah shalat, puasa, haji, dll. Ia tidak terkena taklif agama. Pun jika mereka melakukan ibadah
sama seperti yang umat Islam kerjakan, itu juga tak ada gunanya. Misalnya,
orang non-muslim memberikan bantuan hewan qurban ke masjid-masjid. Itu tidak
dinilai sebagai ibadah qurban mereka. Dan hanya dianggap sebagai sedekah biasa.
Jika mereka tidak melakukan ibadah qurban dan ibadah
yang lainnya, mereka tidak berdosa, karena memang tidak ada takilf agama Islam
kepadanya. Yang wajib kita lakukan sebagai seorang muslim adalah mengajaknya
untuk memeluk Islam—tentu dengan cara yang baik.
Iman selalu berkaitan dengan ketidaktahuan atau
sesuatu yang ghaib. Jika sesuatu yang kita imani itu sudah kita ketahui secara
detail, itu bukan iman namanya. Mengapa? Karena kita sudah mengenal obyek yang
kita imani. Kita beriman jutsru karena kita tidak mengetahui.
Penulis memberikan sedikit ilustrasi.
Orang A yang belum pernah ke Eropa, misalnya,
harusnnya menerima apapun yang dikatakan oleh orang B yang pernah ke sana.
Kalau tidak percaya kepada orang B, lalu harus kemana lagi orang A akan
percaya?. Untuk orang yang tidak tahu memang seharusnya percaya saja kepada
mereka yang tahu.
Tentang iman, kita bisa membuka catatan kembali
tentang peristiwa Isra’Mi’raj.
Sepulang dari Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad Saw.
mengabarkan apa saja yang baru saja ia jalani kepada khalayak umum. Namun,
mereka tidak ada yang percaya. Pasalnya, apa yang disampaikan nabi itu di luar
nalar manusia saat itu. Sungguh irrasional. Tidak mungkin terjadi.
Namun hal itu tidak berlaku dengan sahabat Abu Bakar
r.a. Ketika mendengar itu, ia berkata, “Jika
itu yang mengucapkan Muhammad, aku percaya”. Ia percaya begitu saja.
Tanpa meminta bukti apapun. Karena ia yakin, Muhammad adalah orang yang jujur
dan tidak mungkin berdusta. Dengan keimanannya yang begitu kuat ini, Abu Bakar
mendapat julukan ash-Shidiq.
Keimanan menjadi inti dari ibadah. Dengan iman yang
kuat, apa yang dikerjakan seseorang akan selalu baik. Iman adalah pengendali
hati. Jika imannya baik, maka apa yang dilakukan akan baik. Dan begitu juga
sebaliknya. Jika buruk, maka juga akan
buruk apa yang dikerjakannya. Output akan selalu berbanding lurus dengan input.
Dalam sebuah hadis, Nabi menjelaskan bahwa seseorang
tidak akan berzina jika ada iman di dalam hatinnya. Sehingga, mafhum mukhalafah-nya, seorang yang
berzina (atau perbuatan buruk lainnya), pasti akan ada masalah dengan
keimanannya.
Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Seseorang yang di hatinya ada iman walau seberat darrah (atom) maka
tidak akan masuk neraka”.
Kelahiran
dan Keimanan Bayi
Biasanya, kita akan lebih ingat sesuatu yang berkaitan
dengan yang pertama. Misalnya, cinta pertama, malam pertama, dll. Misal pada
suatu hari, untuk pertama kalinya kita mendengar sebuah lagu A di bis. Di
hari-hari berikutnya, ketika mendengar lagu itu, pasti kita akan ingat dengan bis atau ingat perjalanan
itu.
Apa yang sering dilakukan sebagian besar umat muslim
di negara kita terhadap bayi yang baru
lahir juga seperti itu. Biasanya, bayi yang baru lahir, dikumandangkan adzan di
telinga kanan dan iqamah di telinga kiri.
Hal itu bertujuan untuk menancapkan kalimat tauhid
ke dalam hati si jabang bayi. Orangtua si bayi berharap agar anaknya menjadi
anak yang selalu berpegang teguh pada agama Allah. Juga, agar kalimat tauhid
itu selalu diingatnya kapan dan dimana saja.
Ayat
2
ذَلِكَ
الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2)
“Itulah al-Kitab (al-Qur’an), tidak
ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”
“Kitab” dalam ayat itu menggunakan isim isyarah (kata
tunjuk) ذَلِكَ (untuk
menunjukkan sesuatu yang jauh), yang bermakna “itu”. Penggunaan ini boleh jadi
dimaksudkan agar si pendengar lebih fokus karena sesuatu yang dekat justru
ditunjuk dengan kata panggil “itu”.
فِيهِ dalam ayat
ini, bisa dikaitan dengan kalimat لَا رَيْبَ atau dengan kalimat setelahnya, هُدًى.
Pertama, jika لَا رَيْبَ فِيهِ, maka berarti “tidak
ada keraguan dalam kitab itu”.
Kedua, jika فِيهِ هُدًى, maka “di dalam kitab itu terkandung petunjuk”.
Setelah menjelaskan tentang ayat pertama, Allah Swt.
melanjutkan firman-Nya dengan menjelaskan tentang al-Kitab. Tidak yang lain. Tidak
rasul, nabi, atau tidak juga dzat atau sifat Allah Swt. sendiri.
Hal ini sepertinya Allah Swt. bermaksud untuk
menunjukkan pentingnya sebuah kitab dalam beragama. Aturan-aturan yang ada
dalam sebuah agama harusnya dikumpulkan dalam sebuah kitab atau catatan. Karena
sebagaimana kita ketahui, kekuatan tulisan akan melebihi segalanya. Apa kita
ucapkan dan dengarkan, suatu hari pasti kita bisa lupa. Namun, dengan tulisan,
apa yang ada akan terdomumentasikan dengan apik.
لَا رَيْبَ فِيهِ,
apa yang ada dalam al-Kitab itu adalah sesuatu yang
benar, dimana tidak ada keraguan sama sekali tentangnya.
Allah Swt. sebelum menjelaskan tentang
aturan-aturannya, terlebih dahulu menjelaskan tentang kebenaran agamanya,
melalui kata “kitab” itu. Hal ini harus kita tiru dalam hal mengajak orang lain
agar juga meyakini seperti apa yang kita yakini. Yakni yang pertama yang harus
kita lakukan adalah menawarkan atau memuculkan apa saja keistimewaan keyakinan
kita.
Dari sini kita juga bisa belajar, bahwa untuk
mengajak orang lain agar juga meyakini apa yang kita yakini, kita tidak perlu
menjelek-jelekkan agama lain. Cukup kita promosikan saja kelebihan agama kita.
Allah Swt. berfiman:
وَلَا
تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا
بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى
رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (108)
“Dan
janganlah kamu (kaum muslim) memaki (sesembahan-sesembahan) yang mereka seru
selain Allah, maka (akibatnya) mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.
Demikianlah Kami perindah bagi setiap umat amal mereka Kemudian kepada Tuhan
Pemelihara merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada
mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am
[6]: 108)
هُدًى secara bahasa adalah
petunjuk. Menurut M. Quraish Shihab, kata ini seakar dengan kata Hadiah. Oleh
karenanya, hidayah akan diterima oleh seseorang apabila ia dibungkus dengan
sangat rapi, layaknya sebuah hadiah.
Satu hal yang layak menjadi perhatian adalah mengapa
hidayah itu ditujukan dan seakan hanya dapat diperoleh dan diterima oleh
orang-orang yang bertakwa saja?.
Penafsiran tentang hal ini akan menjadi lebih
menarik jika kita menggunakan logika terbalik, orang akan menjadi takwa karena
telah mendapat hidayah (hidayah dulu, baru bertakwa) atau justru akan mudah
menerima hidayah jika ia telah bertakwa (takwa dulu, baru hidayah)?.
Penulis lebih setuju untuk menggabungkannnya, meski
secara mendasar, penulis lebih mengutamakan yang pertama.
Alasannya adalah orang yang bertakwa pasti telah mendapat
hidayah terlebih dahulu. Dan dengan bertakwanya itulah, hidayah dari Tuhan akan
semakin mudah ia dapatkan. Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman bahwa agar
kita mendapat ilmu, kita harus bertakwa terlebih dahulu. Bukankah ilmu adalah
sama dengan hidayah dalam kaitannya dengan hanya akan diberikan kepada orang
yang bertakwa saja?.
Takwa adalah mengerjakan segala perintah Allah dan
meninggalkan apa yang dilarangnya. Apa yang diperintahkan dan dilarang Allah
Swt. tentunya tidak hanya berbentuk ibadah mahdlah
saja, namun juga ada yang ghairu mahdlah.
Oleh karenanya, apa yang kita kerjakan harus selalu bernilai ibadah. Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan
untuk beribadah kepada-Ku (QS. Al-Dzariyat [51]: 56).
Ayat
3-4
الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ
يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ
مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4)
“(Yaitu)
mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang melaksanakan shalat dan yang
menafkahkan sebagian (rezeki) yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka
yang beriman kepada apa telah diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad Saw.) dan apa
yang telah diturunkan sebelummu, serta tentang (kehidupan) akhirat mereka
yakin.”
Pada ayat 3 dan 4, Allah Swt. mendefiniskan siapa
saja yang layak mendapat julukan bertakwa. Tanda bahwa seseorang itu bertakwa
adalah:
Pertama,
iman kepada hal ghaib.
Melalui ayat ini, penulis memahami bahwa ternyata
keimanan menjadi salah satu tanda ketakwaan. Ini karena katakwaan—sebagaimana
telah penulis uraikan di atas—sangat luas cangkupannya.
Juga, dari sini, dapat dipahami pula bahwa seorang
yang hanya beriman saja, belum tentu dan belum layak disebut bertakwa. Keimanan
adalah keyakinan, dan tentunya berkaitan dengan hati. Sedangkan ketakwaan lebih
harus diperlihatkan dalam tingkah laku secara nyata.
Atau bisa jadi, ketakwaan lebih umum daripada keimanan.
Keduanya adalah hal yang berbeda, tapi saling berkaiatan. Takwa adalah
mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. dan Allah Swt. ternyata
juga menyuruh kita untuk beriman (QS...berimanlah). Sehingga ketika kita
beriman, kita telah melakukan satu perintah-Nya. Dan dengan modal keimanan itu,
kita akan lebih ringan dalam mengerjakan ibadah yang lain, sebagaimana telah
diuraikan sebelumnya.
Beriman kepada hal ghaib menjadi ciri pertama bagi
siapa yang bertakwa. Sehingga sepertinya tidak berlebihan jika penulis
berasumsi bahwa sebagian besar urusan agama Islam adalah berkaitan dengan hal
ghaib. Oleh karenanya, banyak kasus dalam praktik beragama kita yang harus
disikapi dengan pendekatan keimanan, bukan dengan rasio.
Kedua,
mendirikan shalat
Tanda atau bukti lain sehingga seseorang bisa dan
layak disebut sebagai orang yang bertakwa adalah dengan melakukan shalat.
Ibadah shalat ini memang unik.
Banyak ilmuan yang mengaitkan ibadah shalat ini
dengan kesehatan. menghubungkan kajian agama dengan bidang lain, misal
kesehatan atau ekonomi atau yang lainnya tidaklah salah. Namun juga hasilnya
tidak bisa dibernarkan secara fakta.
Misalnya, dalam kasus daging babi. Menurut para
ahli, daging babi layak diharamkan karena memang mengandung cacing pita yang
berbahaya dengan kesehatan. Namun, bagaimana hukumnnya jika dengan kecanggihan
ilmu teknologi dan kesehatan, cacing pita dalam daging babi itu bisa dihilangkan,
apakah daging babi itu masih haram hukumnya?.
Keharaman daging babi itu bersifat tauqifi, sudah dari “sono”-nya. Apapun
yang terjadi, ia tetap haram. Karena disadari atau tidak, kemampuan manusia itu
ada batasnya. Bisa jadi saat ini, ditemukan ada cacing pita di dalam daging
babi, dan kita tidak tahu ada penyakit
apa lagi di dalamnya selain cacing pita itu.
Shalat pun demikian.
Bisa jadi, saat ini telah ditetapkan bahwa gerakan
shalat sangat bermanfaat bagi kesehatan. Sehingga para ahli medis mengenajurkan
semua orang untuk melakukan shalat. Namun, tidak kemungkinan, bisa jadi suatu
saat nanti akan ditemukan gerakan yang lebih menyehatkan daripada shalat. Kita
harus sadar, sebagaimana telah penulis tegaskan, kemampuan manusia ada
batasnya.
Juga, memang begitulah aturan agama (shalat dan
ibadah yang lainnya), banyak banyak yang bersifat tauqifi, bukan taufiqi.
Sehingga kita hanya disuruh mengimaninya saja.
Dalam kaitannya dengan shalat, Allah Swt. memberikan
tambahan lafadz yuqiimuna. Mengapa tidak digandengkan saja dengan yaaf’aluna
atau yang lainnya.
Kata ini berarti “mendirikan” dalam arti yang luas.
Semisal kita mendirikan rumah, berarti biayanya harus ada, kesehatan jasmani
dan rohani kita juga harus siap. Dan desain rumah pun juga harus tersedia.
Shalat pun demikian.
Orang yang shalat, seharusnya mempersiapkan
segalanya. Tidak hanya “modal nekat” saja. Shalat yang kita lakukan harus
shalat yang maksimal, baik secara dhahir maupun batin (kekhusyu’an).
Ketiga,
berinfak
Apa yang kita infakkan tidak semua. Hanya sebagian
saja. Karena dalam penggalan ayat di atas, Allah Swt. menggunakan kata min yang berfaidah tab’idh (pembagian). Juga, apa yang kita
infakkan sebenarnya bukan milik kita. Ia adalah pemberian dari Allah Swt. itu
dapat kita pahami melaluui lafadz razaqnahhum. Makanya, tidak pantas
jika kita tidak mau menginfakkan apa yang kita miliki, bahkan itu hanya
sebagian saja.
Dengan berbagi, berarti kita meyakini bahwa harta
bukanlah segalanya. Kita yakin, bahwa ada yang lebih indah dan menarik daripada
harta yang kita miliki, yakni pahala dari Tuhan.
Meskipun secara kasat mata, harta kita berkurang, apa
yang kita infakkan tidak akan hilang. Harta yang kita infakkan akan diganti
oleh Allah dengan pahala yang berlipat ganda. Baik ketika di dunia, lebih-lebih
di akhirat.
Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Harta tidak akan berkurang karena disedekahkan, bahkan akan bertambah
dan bertambah”. Allah Swt. berfirman: “Apa yang
engkau infakkan, Allah akan menggantinya” (QS. Saba’ [34]: 39)
Kelima,
iman kepada apa yang diturunkan kepad Nabi Muhammad Saw.
Ayat ini menggunakan redaksi “apa yang diturunkan
kepadamu”, tidak al-Kitab al-Qur’an, atau sejenisnya. Sehingga tidak berlebihan
jika penulis memahaminya dalam arti lua dan umum, yakni berkaitan dengan segala
hal yang ada hubungan dengan Nabi Muhammad Saw. Apa saja yang dibawa, dikatakan,
dan dikerjakan oleh nabi Muhammad Saw harus diimani sebagai sebuah kebenaran. Hal
ini diperkuat bahwa dalam ayat lain, Allah Swt. menjelaskan apa yang dikatakn
oleh nabi Muhammad adalah wahyu, bukan bersumber dari hawa nafsu (QS. An-Najm [53]:
3-4).
Dari awal surat ini, Allah tidak menggunakan
mukhatab orang kedua (kamu). Dan mulai pada ayat inilah, Allah Swt.
menggunakannya. Agaknya, dengan firman-Nya ini, Allah Swt. ingin memberikan
penekaanan pada pentingnya ayat ini. Dalam kajian ilmu balaghah, peristiwa
seperti ini disebut iltifat, yakni
memalingkan alur pembicaraan.
Keenam,
iman kepada apa yang diturunkan kepada yang generasi terdahulu
Pada ayat ini, Allah Swt. tidak menyebut “wa maa unzina ila man qablika”
(dan apa yang diturunkan kepada orang/generasi sebelum kamu).
Agaknya, al-Qur’an memang ingin menyembunyikan
kepada siapa suatu hal itu diturunkan.
Sehingga darinya dapat dipahami bahwa kepada siapa saja sesuatu itu
diturunkan, asalkan masih ada kaitannya dengan Islam, harus diimani, tanpa
terkecuali. Melalui ayat ini pula kita diajak untuk tidak melupakan sejarah.
Yang telah lalu adalah sesuatu yang tidak kita
ketahui secara mendalam dan detail. Ini sama dengan hal yang ghaib. Keterangan
ini menguatkan asumsi penulis seperti halnya di atas. Yakni sebagian besar
urusan agama selalu berkaitan dengan hal yang tidak kita ketahui.
Ketujuh,
yakin kepada akhirat
Sebagaimana posisi ayat ini yang di belakang,
agaknya Allah Swt. juga ingin menegaskan bahwa akhirat adalah yang di belakang.
Maksudnya, dunia ini hanya ladang bekerja dan beribadah saja. Balasan yang
sesungguhnya akan kita dapatkan kelak di akhirat, di hari akhir. Sehingga,
dalam berbuat baik, jika apa yang kita kerjakan itu tidak mendapat balasan di
dunia, kita tak pantas berkecil hati. Kita akan mendapat balasan-Nya kelak, di
akhirat. Atau dengan kata lain, Gusti Ora
Sare (Allah Swt. tidak tidur).
Dan adanya penambahan lafadz هُمْ, agakanya ini untuk lebih menekankan bahwa tanda orang yang bertakwa
yang paling terakhir adalah meyakini keberadaan akhirat. Padahal, tanpa kata هُمْ pun
sebenarnya ayat ini juga sudah bisa dipahami dengan benar.
Pada penggalaan ayat ini, ketika berkaitan dengan
akhirat, Allah Swt. menggunakan kata “Yakin”, bukan iman atau yang lainnya.
Kata yakin, berbeda dengan kata iman. Yakin lebih dalam
lagi artinya. Agaknya, Allah Swt. ingin menunjukkan bahwa akhirat tidak hanya
harus diimani, namun juga diyakini. Juga bisa berarti akhirat itu sesuatu yang
besar dan benar-benar akan terjadi, sehingga kita harus yakin.
Allah Swt. menggunakan kalimat “wa bil akhirat hum yuqinun” tidak “wa hum yuqinuna bil akhirat”. Ini, selain
untuk memperindah majaz, Allah Swt. juga ingin menegaskan dan menitikberatkan
kepada pentingnya yakin kepada akhirat dan segala hal yang berkaitan dengannya.
Karena dengan berbekal keyakinan yang mantap, seseorang akan beribedah dengan
sangat serius.
Ayat
5
أُولَئِكَ
عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)
“Mereka
itulah yang berada di atas petunjuk dari Tuhan Pemelihara mereka, dan mereka
itulah orang-orang yang beruntung”
Ayat ini menggunakan huruf jar “ala, tidak fii,
fauqa, atau yang lainnya. Sepertinya Agaknya,
melalui ayat ini, Allah ingin menegaskan bahwa orang yang bertakwa dengan
ciri-ciri atau tanda-tanda yang telah dijelaskan di atas, benar-benar berada di
atas petunjuk yang berasal daro Tuhannya.
Ayat ini menyebutkan kembali kata hudan. Sepertinya,
orang yang bertakwa benar-benar berada dalam lingkaran hidayah Allah Swt. atau
al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk kepada siapa saja yang bertakwa.
Juga, Allah Swt. dalam ayat ini tidak langsung
menyebutkan namanya, tapi menggunakan lafadz رَبِّهِمْ. Dari sini penulis memahami bahwa yang terpenting dari suatu hal itu bukan
namanya, namun esensi hal itu sendiri.
Orang yang bernama yang berasal dari bahasa Arab, Rahman,
misalnya. Jika ia tidak rajin ibadah, ia akan lebih rendah derajatnya dengan
orang yang bernama Bejo (misalnya juga) dimana Bejo itu adalah orang yang
sangat rajin ibadah.
Atau bisa jadi, tidak ada penyebutan nama Allah Swt.
pada ayat ini, memang Allah tidak ingin menyebutkannya. Ia hanya ingin bahwa
dalam kehidupan ini memang ada Tuhan yang layak disembah, dengan ciri-ciri Dia memiliki
al-Kitab yang tiada keraguan di dalamnya (al-Qur’an).
Dan orang yang memiliki tanda-tanda takwa seperti
telah disebutkan di atas akan mendapatkan keberuntungan.
Komentar
Posting Komentar