Puskesmas merupakan salah satu tempat yang biasa dikunjungi oleh orang yang sedang sakit
Tak seperti biasanya, tadi malam sema’an al qur’an yang biasa dilaksanakan setiap malam rabu berhenti di tengah jalan. Pasalnya dari piha pengurus keamanan mengadaan sosialisasi qonun-qonun yang langsung dibacakan oleh kabid. Keamanan dan ketertiban PP. Darussalam, agus mubasyir syafa’at, putra bungsu kh. Mukhtar syafa’at.
Aku sendiri sempat terkejut. Sema’an al qur’an yang tadi malam dibaca oleh kang hardi tak bisa rampung sampai setengah juz, tapi hanya dua halaman. Awalnya, aku tak mengiuti sema’an itu, aku tidur di kantor MKD. Tapi setelah sema’an terhenti, ada pengumuman bahwa semua rekan santri harus berumpul di masjid arena ada acara sosialisasi tersebut.
Mulai dari kewajiban, larangan yang ada di pondko pesantren darussalam tadi malam dibacakan. Ada sesuatu yang memuatku miris dibuatnya, yaitu di depan aku duduk ada seorang santri yang sepertinya masih baru terkena penyakit gudik. Dengan sabarnya dia menyentuh luka yang ada di tangan kanannya itu. Dalam hatiku yang paling dalam, aku berkata “seng sabar kang....”, anadai aku punya uang, angin aku membwa anak itu untu berobat.
Sebenarnya, tak heran aku melihatnya, karena aku dulu juga pernah mengalaminya. Sebagian banyak orang mengatakan bahwa gudik adalah stempel pondok, barang siapa yang terena penyakit gudi, berarti ia sudah resmi menjadi santri pondok. Bagi yang belum, berarti belum diakui kesantriannya, tapi itu hanya sebuah omongan kecil orang-orang saja. Hal itu mungkin diambil dari sebuah kebiasaan, bahwa setiap orang yang belajar di pondok, ketika masih awal pasti diserang penyakit gudik. Tapi menurutku, itu tak mesti tak terlaku. Karena juga ada orang yang mondok yang tidak terkena penyakit gudik.
“Gudik”, satu kata yang pasti sudah dienal oleh setiap orang yang belajar di pondok. Bahkan, yang belum mondok pun juga telah mengenalnya. Malahan, gudik ini sempat menjadi momok bagi arang yang mau memondokkan anaknya. aku dulu juga pernah ditanyai mengenai gudik ketika aku masih awal-awalnya di pondok. “piye hud, wes gudiken....”. Dari pertanyaan itu bisa diambil kesmipulan bahwa gudik memang sudah hampir-untuk tidak mengatakan pasti-menjadi satu penyakit yang pasti menyerang santri baru. Sebenarnya, tak hanya santri baru yang biasa terkena gudik, terbukti banyak santri lamapun yang juga masih terkena penyakit itu. (05/01/11)
Komentar
Posting Komentar