Langsung ke konten utama

Tentang Suro

Suro, banyak yang mengatakan "Bulan Angker"


Bulan ini adalah bulan dimana orang biasa menebutnya “Suro”. Dalam agama islam, bulan yang merupakan bulan kawitan tahun hijriyyah ini dinamakan Muharram. Terlebih dahulu, penulis ingin menerangkan mengapa tahun dalam agama islam dinamakan hijriyyah. Nama hijriyyah diambil dari nama hijrah, yaitu hijrahnya nabi Muhammad SAW dari Mekkah Al Mukarromah menuju Madinatul Munawwaroh dengan tujuan ingin mencari perlindungan ke penduduk Yasrib (nama madinah dulu) karena penduduk mekkah saat itu sangat memusuhi nabi dan para pengikutnya. Yang pada akhirnya, semua kaum islam yang melakukan perjalanan hijrah dimanakan sahabat Muhajirin, sedang penduduk madinah dinamakan sahabat Anshor (orang yang menolong). Jadi, perjalanan nabi dalam berhijrah ini menjadi awal mula penanggalan tahun hijriyyah.
Dalam islam sendiri, ada empat bulan yang di agungakan, termasuk suro (muharram). Dalam bulan ini disunahkan melakukan puasa, yaitu tanggal sembilan dan sepuluh. Awalnya nabi muhammad SAW hanya menyunahkan puasa pada tanggal sepuluh saja. Tapi, setelah beliau melihat kaum yahudi juga melakukan hal yang sama (puasa)-untuk menghormati dan mengenang kemenangan nabi musa dalam berperang melawan fir’aun-, jadi beliau memerintahkan agar tahun depan kaum muslimin juga melakuakn puasa tanggal sembilan. Namun sebelum beliau sempat melaksanakannya, beliau wafat. Innalillahi wa inna ilahi roji’un.
Kembali tentang suro. Suro dalam pandangan kebanyakan orang jawa merupakan bulan keramat, sehingga mereka meyakini pada bulan ini akan terjadi banyak musibah dan bencana. Yang sehingga pada bulan suro ini mereka melarang mengadakan acara apapun, misalnya pernikahan. Mereka biasanya melakukan kegiatan atau ritual yang mereka anggap akan mendatangkan keselamatan, seperti mencuci keris (ngumbah keris), bertapa dan lain sebagainya dengan tujuan ngguwak sengkolo. Sebenarnya jika dilihat dari kacamata agama islam, apa yang mereka tidak salah, hanya saja cara yang mereka tempuhlah yang rasanya kurang dibenarkan dalam agama kita. Jadi, untuk tidak meninggal kebiasaan yang telah berjalan, alangkah lebih baiknya dalam menghormati bulan suro ini kita lalukan dengan cara-cara yang di benarkan oleh islam, semisal pengajian dan khataman al qur’an.
Met Tahun Baru Hijriyyah
Sekian dan terima kasih.
Salam Darussalam!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...