Langsung ke konten utama

Tahun Baru

 Tahun Baru biasanya dirayakan oleh orang seluruh dunia

Berdasarkan penangggalan masehi, hari ini kita sudah memasuki tahun 2011. Hampir seluruh bangsa di seantero dunia merayakannya dengan suka cita. Banyak hal yang biasa dilakukan oleh orang sekarang dalam memaknai datangnya tahun baru. Ada yang dengan niup terompet, jalan-jalan bareng ke tempat hiburan, kumpul keluarga, dan bahkan bagi sebagian orang, even tahun baru ini malah digunakan sebagai wahana untuk foya-foya, semisal mabuk-mabukan. Na’udzubillah.
Tidaklah salah jika kita merayakannya, sah-sah saja dan mungkin itu sebagai tanda syukur kita. Namun paling tidak, cara kita dalam menghormatinya itu yang harus kita perhatikan. Pastinya harus dengan cara yang baik dan diperbolehkan oleh agama dan negara.
Sebenarnya harus kita ingat dan kita tanamkan dalam dada ialah bahwa dengan bertambahnya tahun, maka bertambah pula usia, yang juga berarti semakin sedikitlahlah kontrak kita hidup di dunia ini. Semisal kita di takdirkan Allah SWT hidup di dunia selama 63 tahun, lalu di tahun ini kita sudah berusia 29 tahun, berarti kesempatan kita untuk bisa menghirup udara segar di muka bumi ini kurang 43 tahun lagi kan, betul ngga’?? Lalu apa bekal kita kelak apabila kita sudah kembali kehadirat Allah SWT?? Itu yang harus kita ingat.
Bukankah kita pernah mendengar sebuah ungkapan hikmah yang berbunyi :
• “Orang yang hari ini lebih baik dari pada hari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung”
• “Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia adalah orang yang rugi”
• “Orang yang hari ini lebih jelek dari pada hari kemarin, maka ia adalah orang yang mendapat kerusakan”
Kita masuk pada kriteria yang ke berapa? Satu, dua, atau tiga? Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Karena manusia sendirilah yang tahu akan apa yang menjadi kebaikannya.
Sebagai seorang santri yang notabene tahu tentang ilmu agama, apa yang harus kita lakukan?? Tentunya dengan muhasabah dong , atau kalau dalam bahasa keseharian kita lebih kita dengan intropeksi. Hanya dengan interopeksilah kita dapat mengetahui apakah kita orang yang merugi atau yang beruntung. Tentunya interopeksi yang kita lakaukan harus kita maknai yang lebih luas, yaitu interopeksi tentang urusan dunia dan juga akhirat, jangan salah satunya. Kalau tahun ini lebih baik dari pada tahun kemarin, mari lebih kita tingkatkan. Tapi kalau sama, atau malah lebih jelek ya ayo kita benahi mana yang kurang agar dalam menghadapi hari esok bisa lebih baik.
Intinya, di tahun baru ini kita harus jadi orang yang lebih pandai lagi dalam berintropeksi, agar hari esok menjadi lebih baik.
Mungkin hanya ini yang bisa saya tuliskan, kurang lebihnya mohon maaf.
Catatan 01 Januari 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...