Langsung ke konten utama

Kumpulan dan Nasi Goreng

Nasi goreng menjadi makanan favorit santri Blokagung, 
apalagi makannya setelah kumpulan, ehm... mak nyus!!

Tadi malam aku bersama teman-teman kru madding people, maddingnya santri Darussalam mengadakan acara kumpulan dan mayoran (makan-makan). Awalnya, ami sangat bingung dalam menentukan tempat mana yang akan kami gunakan untuk menggelar acara kumpulan tersebut. Rencana awal, kumpulan yang akan diadakan di depan kantor keamanan, tepatnya di gedung IPMA. Aku tak tahu pasti apa alasan degung itu dinamakan ipma, ya jelas ipma adalah suatu singkatan. Rencana mengadakan acara kumpulan di gedung ipma itu akhirnya kandas, disebabkan di gedung sedang ditempati orang untu tidur. Padahal, rencana kami, acara kumpulan di gedung IPMA dan makanannya beli di warung Bu Mar, sebuah warung nasi goreng di dekat pesantren Blokagung.
Berhubung ada halangan tadi, kemi mencoba memindah acara di gedung induk. Tapi lagi-lagi ada kendala. kami disibukkan dengan masalah perizinan. kata seorang anggota keamanan yang melayani perizinan, beliau tidak berani mengizini bila acara kumpulan di gedung induk. Dan akhirnya, dengan berbagai pertimbangan kami memilih suatu tempat yang sangat strategis, yaitu di atas gedung madrasah barat (GMB).
Acara tadi malam, bisa datakan cukup panas. Pasalnya, terjadi berbagai perbedaan pendapat di antara anggota kami. Tapi, menurutku, ya maklumlah namanya kumpulan, ya mesti ada perbeadaan pendapat. aku tadi malam tak mengikuti ukmpulan seja awal acara, dikerenakan aku bertuigas tuk beli konsumsi kumpulan (nasi goreng). Aku tiba kira-kira 20 menitan menjelang kumpulan berakhir. Terbukti, pas aku datang topik pembahasan sudah seputar isi mading, dan itupun sudah hampit selesai. Setelah tentang isi mading selesai dirapatkan, topik pembahasan ganti seputar program ke depan, dan inilah saat-saat terjadi perdebatan sengit.
Salah satu dari anggota people mengusulan, bagaimana kalau ita membuat satu komunitas sastra yang bergelut di seputar puisi, novel, dan lain-lain, pooknya tentang sastra.tapi permintaan itu ditolak oleh sebagian besar anggota rapat. Dan inilah asal mula perbedaan pendapat kami. Acara semakin panas, tatkala si pengusul bersikeras untuk mempertahanan usulannya, tapi dia tetap saja kalah karena tak mendapat persetujuan anggota rapat. Acara diakhiri dengan makan nasi goreng ala buk mar. Nasi goreng terasa lebih nikmat dengan lauk krupuk.  (04/01/11)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...