Langsung ke konten utama

PERAN SANTRI DI ERA GLOBALISASI


Ustad Jefri Al Bukhori, Sang Muballigh Handal

Assalamu’alaikum wa Rohmatullahi wa Barokatuh

Semakin pesatnya perkembangan zaman, yang ditandai dengan berkembangnya imu pengetahuan dan semakin hebatnya kecanggihan tekhnologi, ternyata membuat kemerosotan moral bangsa menjadi satu wacana sosial yang semakin lama kian mengingkat.

Dimana banyak orang yang dengan mudahnya telah meninggalkan perintah agama, pembunuhan terjadi dimana-mana, korupsi kolusi nepotisme merajalela, bahkan ada sorang ayah yang tega merenggut kehormatan anak kandungnya, Na’udzubillahi min dzalik.

Dimana akhlaq mereka, bagaimana pedidikan moral mereka, apakah tak ada orang yang menyuruh mereka untuk selalu taat kepada ajran agama?

Padahal Allah telah mengingatkan kita dengan firmannya dalam Al Qur’an surat Ali Imron ayat 104 :

........................................ ........................................... ......................................................

........................................ ........................................... ......................................................

“Dan hendaknya ada diantara kalian, segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan dan melarang kemungkaran, maka itulah orang- orang yang mendapat keberuntungan”

Saudaraku yang bertaqwa yang dimulyakan oleh Allah!

Amar ma’mur nahi munkar adalah kunci kesuksesan untuk mengantisipasi kemaksiatan, tapi sekarang yang menjadi permasalahn ialah :

“Siapa Orang yang mampu melaksanakan tugas yang amat sangat barat ini?”

Jawabnya tak lain dan dan bukan adalah orang mengerti dan mengamalkan syari’at agama, yang predikat ini cenderung dimiliki oleh seorang santri, karena pengertian santri secara umum ialah orang yang belajar di pondok pesantren guna untuk meneruskan perjuangan para nabi dalam mengemban amanat yang sangat mulya yaitu mengmbangkan ajaran agama islam demi terciptanya insan yang senantiasa bertaqwa kepada Allah, menjalankan perintah dan menjauhi larang-Nya.

Hal ini sesuai dengan hadis shohih nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh shahabat Imam Turmudi :



………………………………………………………………………………………………...

“Ulama’adalah pewaris para nabi”

Tat kala nabi sudah tiada, maka ulama’lah yang akan mewarisi seluruh tugas para nabi, dan santri adalah bibit-bibit unggul generasi baru para ulama’ yang akan mewarnai seluruh aspek kehidupan yang terjadi di era globalisasi ini.



Saudaraku yang beriman yang dimilyakan oleh Allah!

Namun dengan meningkatnya peradaban manusia, tantangan santri dari zaman ke zaman semakin lama semakin berat. Saat ini santri tak cukup hanya dengan berdzikir, tak cukup hanya dengan mengaji, namun santri juga harus berfikir dan mengkaji seluruh fenomena yang terjadi di alam semesta ini dengan tetap berlandaskan pada Al Qur’an dan Al Hadist.

Karena sebagaimana sebuah jargon pondok pesantren :



………………………………………………………………………………………………...

“Memelihara suatu yang lama yang baru, dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik”

Dengan kata lain, santri harus mampu berfikir kreatif dan inovatif dalam menjawab seluruh tantangan zaman yang terjadi di era globalisasi ini.

Karena bagaimanapun juga, santri adalah generesi penerus perjuangan para pahlawan bangsa dan negara dalam menjadikan bangsa kita bangsa indonesia menjadi Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur.

Syekh Musthofa Al Gholayyin telah berkata dalam kitabnya Idhotun Nasyi’in :



........................................ ........................................... ................................................................

”Sesungguhanya di tanganmulah wahai generasi muda urusan bangsa dan negaramu, dan di derap langkahmulah wahai generasi muda hidup dan matinya bangsa dan negara tersebut”



Saudaraku yang budiman yang di mulyakan oleh Allah!

Bangsa dalah bangsa yang kaya, bangsa yang tak kurang satu apapun

Bangsa kita tak hanya membutuhkan orang cerdas, tak hanya membutuhkan orang yang memiliki intelegensi tinngi, namun bangsa kita bangsa, indonesia juga sangat membutuhkan orang-orang yang memiliki kredibilitas dan loyalitas yang tinggi terhadap negara.

Saudaraku yang bertaqwa yang dimulyakan oleh Allah!

Dari awal hingga akhir, dapat kami tarik kesimpulan bahwa santri adalah generasi muda yang akan mewarnai seluruh asek kehidupan yang terjadi di era globalisasi ini.

Kiranya cukup sekian dan demkian, terima kasih atas segala perhatian, mohon ma’af atas segala kekurangan,

Wallohul Muwafiq ila Aqwa mit Thoriq

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wa Barakatuh



*Dilombakan dalam RMI Kab. Banyuwangi 2009 di PP. Darul ‘Ulum Muncar

Pidato Santri Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/speech/2091805-pidato-santri/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...