Langsung ke konten utama

Pratek Ngajar

 

Mengajar ternyata membutuhkan suatu latihan

Hari ini adalah hari keduaku di perpustakaan, walaupun sebenarnya sudah sejak beberapa hari yang lalu aku sudah melaksanakan tugas baruku ini, hanya saja menurutku, lebih baik aku hitung permulaankku ini kemarin (sabtu, 01 januari 2011), itung-itung pas tahun baru, jadi lebih enak hitungnya.
Tak seperti biasanya, hari ini aku datang terlambat. Hal ini disebabkan karena sebelum berangkat, aku ngobrol-ngobrol dulu dengan temanku yang baru saja datang. Namanya faiz. Menurutku dia anak yang kreatif. Dia bakat dalam hal desain grafis. Terbukti, desainnya yang diikutkan dalam lomba pembuatan koran dalam ajang pekan kreatifitas pelajar yang diadakan oleh radar Banyuwangi (jawa pos group) . Dia datang sekitar pukul 07.30, waktu itu sudah selayaknya perpus buka. Perbincanganku dengan faiz kali ini lebih menarik, karena dia membawa seguidang pengalaman dari jogja, karena memang sejak beberapa hari yang lalu (tanggal 26 desember 2010) dia pergi ke jogja untuk mengiuti LSDP (liburan sastra di pedesaan), sebuah acara sastra yang adaan dua tahun sekali. Dia (faiz) bersama sembilan temannya menjadi delegasi pesantren untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kesemua teman faiz itu merupakan anggota tim media kepenulisan Darussalam (MKD). Faiz menceritaan hal-hal berkesan yang dia alami saat di jogja.
Dari pada hari-hari kemarin, hari ini adalah hal yang agak melelahkan bagiku. Karena setelah sampai di perpus, aku langsung belajar untuk persiapan dirikuk prate mengajar nanti sore. Ketepatan, aku mendapatkan pelajaran nahwu. Menurutku, pelajaran nahwu lebih mudah dari pada fiqih. Apalagi, apa yang aku pelajari ini bukan untuk diriku sendiri, melainkan untuk ditularkan kepada teman-teman tingat wustho. Setelah hampir satu jam aku belajar, lantas aku minta tanda tangan pembimbing praktekku, beliau namanya pak Afandi Mukrom, S.Pd.I. Karena percuma aku belajar ngoyo-ngoyo kalau aku tak diizinkan masuk kelas tempatku pratek lantaran lembaran RPPku tak dibubuhi tanda tangan pembimbing. Hal ini diarenakan, setiap praktikan harus terlebih dahulu mendapat tanda tangan pembimbing sebelum masuk trempat praktek. Ini adalah keputusan madrasah tempatku belajar. Madrasah itu bernama madrasah al amiriyyah, satu madrasah yang berada di bawah naungan pondok pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi.
Inilah kesibukanku hari ini. Hal yang sangat aku prioritaskan tiga hari ini adalah “ngajar”, ya “ngajar”. Walaupun ini latihan ngajar, bukan ngajar beneran, tapi tak apalah, banyak pengalaman yang aku dapatkan dari kegiatan ini. (02/01/11)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...