Langsung ke konten utama

Ngecor Asrama


Suasana ngecor yang penuh dengan kurasan tenaga
Tadi malam, asrama al mujahidin mengadakan pengecoran terakhir. Aku sendiri tidak mengikuti kegiatan itu sejak awal. Pasalnya, aku dari sejak menjelang sholat isya’ aku sudah tak senggup lagi untuk tidak memejamkan kedua mataku. Hal ini karena aku sejak pagi hingga saat itu (menjelang isya’) hanya tidur kira-kira 15 menit, itu saja pas waktu sang khotib berkhotbah di mimbar sholat jum’at.
Berbagai aktifitas aku kerjakan sebelum sholat jum’at. Mulai dari ngetik diari di perpustakaan, cuci-cuci perkakas dapur, nonton lomba dalam rangka milad pondok pesantren Darussalam yang ke 60, dan lain-lain. Dan Dan setelah jum’at, aku bersama hardi, temanku yang berasal dari kota madura pulang ke rumahku untuk mengambil gula wa akhowatuhu untuk persiapan ngecor.
Rencana awal, aku akan pulang sore ini karena acara ngecornya (awalnya) akan dijadwalkan malam ini. Aku tiba di rumah jam setengah tiga sore. Tapi saat itu, aku tak bertemu ibuku langsung, karena beliau masih sedang yasinan di rumah tetangga.
Setelah semuanya selesai, aku kembali lagi ke pondok. Di tengah perjalanan, aku mampir di ATM untuk mengambil uang, tapi yang ambil bukan aku, tapi hardi. Banyakl hal yang kami perbincangkan di perjalanan ke pesantren. Topik utama perbincangan kami adalah bunyi letusan sepeda yang kami naiki. Karena memang, sepeda itu selalu mengeluarkan bunyi letusan apabila ketika kita berjalan cepat, tiba-tiba kita mengerem.
Kami tiba di kampus pesantren menjelang maghrib. Kami sangking lelahnya, setelah maghrib, sekitar hampir isya’ aku tertidur di kantor MKD.
Acara ngeor yang di prakarsai oleh treman-teman kelasku (kelas 2 B Ulya) itu dimulai setelah isya’. Dan berakhir sekitar pukul 01.45 dini hari. Ngecoryang dilaksanakan tadi malam tergolong ramai. Pasalnya, acara itu tak diikuti oleh warga asrama dan siswa kelas 2 b Ulya saja, tapi juga dibantu oleh warga sekitar asrama Al Mujahidin. Ada yang mendapat bagian opar-oper timba yang berisi luluhan, ada yang ngisi molen dengan koral, pasir, semen, dan air, ada yang ambil air di blumbang, ada yang mindah pasir dan koral ke dalam wadah, dan ada pula yang angkat-angkat pasir dan koral di masukin ke molen. Akupun tergolong yang terakhir (angkat-angkat pasir dan koral di masukin ke molen).
Itulah kegiatan pengecoran asramaku tadi malam yang aku alami. Semoga pembangunan asrama tahfidzul qur’an yang aku temapati ini cepat rampung, dan apa yang menjdi urusannya selalu dimudahkan oleh Allah SWT. Amin...... (08/01/11)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...