Langsung ke konten utama

Tugas Baruku

"Komputer", satu hal yang tak bisa dipisahkan dari seorang yang sedang menjaga perpustakaan

Hari ini tahun baru masehi 2011. dimana semua orang banyak yang merayakannya. Ada yang pergi ke pantai, ke tempat wisata, dan ada pula mengadakan acara keluarga. Namun hal itu tidak berlaku buat aku. Di tahun baru ini aku mempunyai tugas baru sebagai penjaga perpustakaan, atau yang lebih eren istilahnya “pustakawan”.
Sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu aku sudah melaksanakan tugas ini, hanya saja baru hari ini aku menuliskan tugas pertama aku ini. Aku sangat menyukai tugas aku ini. Karena tugas ini memang sudah menjadi idaman aku saat pertama kali aku di pesantren.
Walaupun tugas baruku ini masih berjalan beberapa hari, namun aku bisa memprediksi kalau seperti inilah tugas keseharianku di kemudian hari. Menata buku, melayani peminjaman atau pengembalian buku jika ada anggota yang pinjam/mengembalian.
Menurutku, tugas baruku ini sangat mudah dan gampang dilakukan, hanya duduk di kursi, memegang pulpen, nulis, itu saja kalau ada anggota yang akan melakuan transaksi.
Aku datang pukul 07.45 WIS (waktu istiwa’) dan pulang pukul 12.00 WIS, itu saja. Tuigas baruku ini sangat menari bagiku, karena di sini (perpustakaan) aku juga bisa baca buku semauku. Menurutku perpus yang aku tempati ini cukup lengkap, mulai dari buku pelajaran, novel, cerita, dan masih banyak lagi buku yang jelasnya tak bisa au sebutkan satu persatu.
Aku di sini bersama dua orang temanku, pa jo (ketua) dan kang toha (sekretaris). Sebenarnya perpus yang aku tempati ini sudah menggunakan sistem digital, hanya saja komputer yang di instal program tersebut beberapa hari yang lalu eror. Jadi, yang harus kembali ke sistem semula (manual).
Menurutku sistem digital sangat membantu sekali dalam malakukan transaksi, baik peminjaman ataupun pengembalian buku.selain. juga sangat menghemat pengeluaran dana untuk beli ertas dan pulpen. Dalam melakukan transaksi, anggota tinggal menyebutkan nomer berapa, dan transaksi langsunbg bisa dilakukan.
Mungkin langkah awalku untuk membiasakan diri untuk menulis. Karena diperpustakaan yang aku temapati terdapat dua buah komputer. Jadi kalau pas tida dipakai, aku bisa menggunakannya. Keinginanu menulis secara istiqomah sebenarnya sudah sejak dulu. Hanya saja menurutku, menulis di kertas itu sangat membosankan. Dan inilah tulisanku.
Perpustakaan, 01 Junuari 2011


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...