Di dunia ini, ada dua hal yang
selalu berkaitan dengan kehidupan manusia: kemungkinan dan ketidakmungkinan.
Kalau bicara ini, kita tidak lagi dihadapkan pada pertanyaan bisa atau tidak
bisa. Karena kemungkinan tidak ada kaitannnya dengan kebisaaan/kemampuan.
Kadang, jika manusia berhadapan
dengan masalah “kemungkinan” ini, ia acap kali putus asa. Menganggap semua itu
tidak mungkin. Padahal tidak seperti itu, asalkan ia mau percaya pada sesuatu
kekuatan yang tiada tara, yaitu tuhan.
Jika seseorang bertuhan, ia pasti
tak akan mudah putus asa, kecil harapan, atau gamang dalam menjalani hidup ini.
Namun, sebaliknya, jika seseorang
tak percaya adanya tuhan, ia acap kali sombong. Semua diukur dengan otaknya. Dan
pada saat seperti iniah, jika ia mengahadapai sesuatu yang sulit, ia acap kali
putus asa.
Jadi, tuhan adalah kekuatan maha
dahsyat. Tak ada yang bisa menandinginnnya. Tak ada yang serupa dengan-Nya,
dalam segala hal.
Pada tulisan kali ini, saya tidak
membahas mana agama yang paling benar dan mana agama yang kurang atau tidak
benar (sesat). Namun, walaupun begitu, saya juga tak mau berkomentar bahwa
semua agama itu benar. Yang saya ketahui adalah hanya, “semua agama mengajarkan
kebaikan”. Jadi, jika ada aliran atau apapun yang tidak mengajarkan kebaikan,
berarti itu bukan agama.
Agama adalah way of life
(jalan hidup) setiap individu. Di indonresia, orang dibebaskan untuk menganut
agama apapun. Tak ada paksaan dalam beragama. Yang ada adalah kewajiban
beragama itu sendiri. Hal ini tercantum pada sila pertama pancasila RI, “Ketuhanan
yang amahsa esa”.
Mengapa harus beragama? Dalam
hemat saya, orang beragama itu adalah orang yang punya cara hidup. Punya tujuan
hidup. Punya keyakinan bahwa setelah hidup di dunia masih ada kehidupan lagi,
apapun itu namanya. Di setiap agama berbeda-beda istiahnnya. Yang jelas, pasti
berkaitan dengan surga dan neraka.
Orang yang baik masuk surga dan
yang beramal buruk mendapat bagian di neraka. Saya yakin semua agama seperti
itu. Masalah dalama agama A, suatu perbuatan dianggap baik, dan di agama B,
dianggap buruk itu masalah yang berbeda.
Namun sebaliknya, orang yang
tidak beragama, biasanya sombong. Congkak. Orang seperti ini biasanya dalam
menghadapi masalah, jika bertemu kesulitan, pasti putus asa. Karena tak ada
sandaran lagi baginya. Setiap kesulitan yang tidak terurai, ia anggap kiamat.
Walhasil, semua agama “sama”.
Maksudnya, semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Jika tidak mengajarkan
kebaikan, berarti bukan agama.
Semua rakyat Indonesia wajib
beragama, apapun agamanya. Dalam bernegara, tak ada kewajiban untuk menganut
agama tertentu. Tak ada pasksaan. Tak ada tekanan.
Namun jika setelah masuk agama
tertentu, seseorang harus menerima
konsekuensi tertntu, harus kita yakini, itu adalah efek beragama.
(Tulisannya ada yang
diulang-ulang. Biasa, penyakitnya orang berhenti menulis, terus menulis lagi).
Banyuwangi, 24 Juli 2014. Pukul 00.17
WIB
Komentar
Posting Komentar