Langsung ke konten utama

Lebaran: Different Pound, Different Fish

Lebaran di Indonesia dirayakan dengan berbagai macam cara. Ada yang saling silaturrahim. Ada yang jalan-jalan ke tempat wisata. Ada yang hanya sungkem kepada orang tua. Tapi ya itulah Indonesia, bermacam-macam tapi tetap satu jua.
Di daerah saya, Banyuwangi, lebaran dirayakan dengan cara saling ngelencer-satu makna dengan silaturrahim. Tradisi ngelencer ini, biasanya sudah dimulai sejak selesai sholat idul fitri.
Yang berlaku di daerah saya, hari pertama silaturrahim ke para tetangga. Kanan kiri rumah. Walaupun hanya ke tetangga, tapi ya bisa menghabiskan waktu seharian full. Ya maklum lah, la wong namanya  tetangga.
Malah, karena saking banyaknya tetangga yang harus dilenceri, biasanya tembus sampai larut malam. Biasanya silaturrahim di daerah saya, terakhir open house-meminjam istilah para pejabat-jam sembilan malam.
Namun, untuk hari pertama ini, terkadang juga ada yang berbeda. Misalnya, kalau kepada orang yang lebih tua-orang tua, nenek, atau yang lainnya-walaupun jauh, ya pada hari pertama inilah didatangi. Ini adalah pengecualian.
Untuk hari kedua, biasannya kepada saudara, keluarga, atau handai taulan yang agak jauh. Lha, mulai hari kedaua inilah biasanya jalan raya mulai ramai. Banyak kendaraan yang berlalu lalang. Dan di sinilah biasanya terjadi banyak kecelakaan.
Karena semua orang mau silaturrahim, malah kadang tidak ketemu dengan tuan rumah. Ini sudah menjadi satu hal yang maklum.
Dan ini berlaku bagi yanng belum janjian. Sekarang kan beda dengan tahun tahun terdahulu. Sekarang, musibah tidak ketemu dengan tuan rumah ini sudah bisa diminimalisir. Teknologi memang bisa berdampak positif, walaupu juga bisa negatif.
Dan ini adalah hal yang paling saya sukai dulu-(walaupun sebenarnya sekarang juga masih suka sih): angpao atau dalam bahasa saya: sangu. Sangu dalam bahasa Indonsiia biasa disebut uang saku. 
Dan kalau sudah dapat banyak, biasa saya belikan mainan. Kalau dulu game board dan mobil-mobilan tamiya. Lebaran memang menjadi moment paling menyenangkan bagi anak-anak.
Belum lagi, tradisi beli baju baru saat lebaran. Dan ini memang menjadi satu keharusan-terutama bagi anak-anak-saat lebaran tiba. Walaupun menurut salah satu ulama, lebaran bukan bagi mereka yang bajunya baru, bukan yang makannya daging, tapi lebaran adalah bagi mereka yang taatnya tambah, dan takutnya kepada tuhan semakin besar. Inilah makna asli lebaran, menurut salah satu ulama. Lho kok, saya malah kayak ustadz. Hehe...
Kayaknnya sudah dulu tulisan saya kali ini. Dan yang perlu saya tegaskan adalah tulisan ini adalah tulisan ringan saya atau untuk menghindari “dari pada tidak nulis”.
Juga, apa yang saya tulis ini bukan mewakili Banyuwangi secara keseluruhan. Jadi, bagi warga Banyuwangi, jangan marah sama saya ya. Hehe. Mungkin di daerah anda berbeda. Lain lubuk, lain belalang. Different pound, difeerent fish.
Ini tradisi di daerah saya, Jatirejo, Purwoharjo, Banyuwangi.
Banyuwangi, 31 juli 2014. Pukul 09:14WIB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...