Langsung ke konten utama

Makan Sahurlah Walaupun Sedikit

Puasa merupakan rukun islam yang ke empat yang harus dilaksanakan bagi semua umat islam yang telah memenuhi syarat. Puasa adalah mengekang hawa nafsu dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (semisal makan, minum, bersetubuh, dan lain-lain) yang dimulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Dalam puasa kita disunahkan untuk melakkukan makan sahur, yaitu makan yang kita kerjakan sebelum dimulainya puasa (terbit fajar), dan ini hukumnya sunah.
Saya selalu menyempatkan diri untuk ‘bisa’ dan ‘mau’ makan sahur. Alhamdulillah sampai hari ini, hari ke dua puluh sembilan ini seingat saya, saya tidak pernah tidak makan sahur. Saya selalu menyempatkan walaupun hanya sedikit.
Tadi saya bangun jam tiga, namun karena masih ngantuk dan waktu masih ‘panjang’, akhirnya saya tidur lagi, hehe... Setelah agak puas tidur yang kedua kalinya, salah satu teman saya membanggunkan saya (saya kan tinggal di pesantren, jadi ya banyak teman),
“Hud, udah sahur belum..??”
Mendengar itu saya langsung bangun karena teringat saya memeng belum makan sahur. Walaupun agak terpaksa karena masih ngantuk, saya bangun dan menuju ke kantin, tempat makan di pesantren yang saya tempati kan di kantin.
Seperti biasanya, makan sahur saya sedikit sekali, ditambah lagi karena saya masih cukup kenyang. Alhamdulillah tadi sayurnya mi, dan tanpa lauk, maklum di pesantren kalau makan kan jarang pakai lauk.
Mengapa saya selalu menyempatkan diri untuk melaksanakan makan sahur walaupun hanya seditit??
Ini jawabannya
Saya teringat satu hadist nabi Muhammad Saw yang berbunyi:
“Tasahharuu, fa inna fissahuri barokatan” (Sahurlah, karena dalam sahur itu terdapat barokah)
Berangkat dari hadist itu, saya selalu melaksanajan makan sahur walau qolilan (sedikit).
Guru saya di pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi dulu pernah ‘ngendiko’:
“Barokah itu ziyadatul khoir, artinya barokah itu tambahnya kebaikan. Harta yang tak barokah itu adalah harta yang jika digunakan tak akan membawa kebaikan”.
Juga, dalam salah satu pidatonya, KH. Musthofa Bisri, atau biasa di panggiil Gus Mus pernah menyinggung seditit masalah barokah. Beliau menyontohkan, “seperti saya nduding (menunjuk) sampeyan, dan sampeyan langsung jadi kambing” kata beliau.
Itulah alasanya mengapa saya selalu makan sahur. So, makan sahurlah walaupun sedikit.
(Djogja, kala romadlon sudah hampir meingglakan kita bersama. 29 Agustus 2011)
[Telkomsel Ramadhanku]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...