Langsung ke konten utama

Berkat Kompasiana, Saya Dapat Rp. 2 Juta


Di awal tulisan ini, akan saya menjelaskan bagaimana perkenalan saya dengan media sosial Kompasiana. Dulu, sewaktu belajar di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi Jawa Timur, sekitar tahun 2008, saya punya teman, namanya Bisri Ichwan. Saat itu (dan sampai sekarang) Cak Bis, panggilan akarabnya, hidup di Mesir, kuliah di univetsitas Al Azhar Kairo Mesir. Saat itu, setiap saya melihat statusnya di facebook, saya selalau melihat ada tautan di situ, dan tautan itu adalah tulisannya di kompasiana. Saya memang tertarik dengan dunia luar negeri, apalagi Mesir. Sekedar menambahkan, saya dulu juga pernah mengikuti seleksi beasiswa kuliah di sana, tapi, belum takdirnya untuk lulus. Karena memang saking senangnya dengan Mesir, saat itu saya selalu hampir tak pernah ketinggalan membaca tulisan teman saya itu. Alasannya sepele: karena selalu ‘berbau’ Mesir. Itu saja. Dan itulah yang membuat saya tau akan keberadaan Kompasiana.
Dan, setelah saking seringnya membaca tulisan teman saya yang ‘nampang’ di Kompasiana itulah, akhirnya saya tertarik untuk gabung di Kompasiana.
Karena masih pemula, dulu ketika upload tulisan, saya masih copy paste dari salah satu website. Ya, yang penting bisa upload tulisan, pikir saya saat itu. Pernah juga, karena saya kurang tau aturan main di Kompasiana (walaupun saya juga telah membaca peraturannya), saya pernah mendapat teguran dari salah satu kompasianer. Itu karena, saya pernah menulis tulisan dalam bahasa indonesia, namun di tab jenis tulisan, saya memilih bahasa inggris (itu loh, di menu yang biasanya ada pilihan opini, artikel, bisnis, kuliner, catatan harian, dan lain-lain).
Seiring berjalannya waktu, semakin lama, saya semakin sering menulis di kompasiana. dan Itu pula yang membuat saya tau berita apa yang sedang ada di sana. Salah satunya adalah “Blogshop”. Saat itu, ingin sekali rasanya bisa mengikuti workshop kepenulisan yang diadakan kompasiana dan bertemu dengan kompasianer lain. Selanjutnya, saya selalu menunggu ada blogshop kompasiana di daerah saya (Banyuwangi), atau paling tidak di kabupaten/kota tetangga Banyuwangi.
Ya, akhirnya masa penungguan saya itu terjawab. Kalau nggak salah, saat itu awal tahun 2011. Di kompasiana, ada info tentang adanya kegiatan blogshop kompasiana yang akan diadakan di seluruh kota di Indonesia. Saya lihat-lihat, akhirnya ketemu juga. Saat itu, saya melihat, pada pertengahan Juni 2011 akan diadakan blogshop di Malang. Batin saya berkata: “ya ini dia, blogshop kompasiana yang saya tunggu-tunggu. Kan Malang, juga tak jauah-jauh amat dari Banyuwangi”. Mulai saat itu, tekad saya hanya satu: saya harus bisa ikut. Itu saja.
Singkat cerita, saat itu saya bisa mengikuti blogshop kompasiana di Malang, tepatnya di Hotel Ollino Garden. Senang rasanya bisa belajar menulis dari para wartawan kompas dan bertemu dengan teman-teman kompasianer. Saya masih ingat, saat itu yang menjadi mentornya adalah Mas Iskandar Zulkarnaen dan (kalau tidak salah), Mas Heru Rengganu, seorang wartawan kompas di bidang politik.
Setelah mengikuti blogshop tersebut, akhirnya saya semakin tau dengan yang namanya: citizen jounalism. Walaupun saat awal-awal dulu, saya juga pernah mengetahuinya (dari peraturan di kompasiana), tapi itu hanya tau-tau saja (sebenarnya, lebih tepat jika saya menggunakan kata “pernah dengar”, daripada “pernah tau”, hehe).
Jogja dan Tribun-nya
Setelah lulus dari pesantren dari pesantren Darussalam Banyuwangi pada bulan akhir juni 2011 lalu, saya melanjutkan “nyantri” di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA) jalan kaliurang 12.5 Sleman Yogyakarta, asuhan KH. Mu’tashim Billah. SQ, M.Pd.I
Dan Seiring berjalannya waktu, pada akhir 2011 lalu, PPSPA membuka cabang di dusun Tlepok, desan/kecamatan Semin, kabupaten Gunungkidul, propinsi Yogyakarta. Pesantren cabang PPSPA itu bernama Pondok Pesantren Al Jauhar (PPAJ).
Pada kamis (18/10) lalu, komunitas orang-orang berkebutuhan khusus (difabel) tuna netra di Yogyakarta dan sekitarnya berkunjung ke PPAJ.
Sehari setelah kunjungan itu (Sabtu (20/10)), saya mencoba meliput dan mengirimkannya ke harian pagi Tribun Jogja (masih menjadi bagian dari kompas). Pikiir saya: inilah saatnya saya menggunakan ‘jurus’ yang pernah saya pelajari dari kompasiana (tentang citizen journalism). Dan tak di sangka, tulisan saya itu langsung dimuat. Senang sekali rasanya. Karena baru pertama kali itulah saya menulis di media cetak, dan langsung dimuat. Sebelum menulisnya saya sudah bilang ke salah satu teman saya, kang syafa’at. Dan saya juga bercerita tentang kegaulan saya apabila nanti tulisan saya dimuat dan pak kyai tau. Pikir saya saat itu: kalau tulisan saya dimuat dan kyai tau, terus memberikan respon positif, berarti saya harus terus menulis. Tapi kalau responnya negatif, maka saya harus berhenti menulis, tentunya untuk saat ini saja. Perkiraan saya, kalau respon dari pak kyai negatif, itu wajar-wajar saja. Karena yang jelas, kyai tak ingin kegiatan saya yang lain mengalahkan “ngaji” saya di pesantren.
Akhirnya, setelah tulisan saya dimuat di Tribun Jogja, dan kyai tau, ternyata terjadi sesuatu yang diluar dugaan saya. Beliau sangat mengapresiasi bakat menulis saya. Singkat cerita, beberapa hari setelah tulisan saya dimuat itu, kyai bertanya kepada saya: punya KTP?
Suatu pertanyaan yang tak pernah saya duga sebelumnya. Saya juga heran, ada apa kok sampai-sampainya kyai menanyai saya tentang KTP. Selain KTP, beliau juga menanyakan karya-karya saya yang pernah dimuat, dan nomer rekening saya.
Lha, ketika menanyakan rekening itu saya langsung menduga bahwa saya akan diberi uang. Pikir saya, bukankah rekening itu selau berkaitakn dengan uang? Hehe.
Akhirnya, dugaan saya selama itu terjawab sudah. Pada hari raya Idul Adha kemaren, kyai memberi tahu saya: “insyaalah akan saya carikan hadiah”. Mendengar kalimat itu, saya senangnya bukan main, saya hanya bisa menjawab dengan kalimat yang sangat singkat, “Terima kasih” jawab saya saat itu.
Setelah mendapat kabar gembira itu, saya selalu menduga-duga, hadiah apa yang akan diberikan, kalau uang berapa nominalnya dan kapan waktunya. Pertanyaan itulah yang selalu “menghantui” saya selama itu.

Hadiah Itu Ternyata….

Sekitar akhir bulan lalu, saya mendapat email dari komunitas matapena, sebuah komunitas penulis fiksi islmai yang berkantor di jogja. Isinya adalah undangan mengikuti acara Festival Santri Nusantara (FSN) di Jombang. Dalam undangan itu juga diberitahukan bahwa penerima undangan itu akan mendapat uang sebesar Rp.2.000.000,- dari Kementerian Agama Republik Indonesia (KEMENAG RI).
Awalnya, mendapat email itu, seolah saya tak percaya. Saya pikir, itu adalah email nyasar. Disitu hanya diterangkan bahwa nama-nama santri yang mendapat hadiah itu telah dikirimkan ke pesantren masing-masing. Karena, di email itu juga disertakan website komunitas matapena, saya mencoba membukanya. Ternyata, surat yang dikirimkan ke pesantren itu, juga di posting di sana. Saya sangat sekali karena nama saya ternyata tertera disitu, yang berarti saya juga mendapat hadiah. Saat itu, saya langsung berpendapat bahwa mungkin ini dia hadiah yang dikatakan kyai saat itu. Mana mungkin nama saya bisa masuk ke kemenag kalau nggak ada yang daftarkan. Pasti ini bantuan kyai, pikir saya saat itu.
Setelah itu saya memberitahukan kepada kyai perihal email itu, sekaligus meminta izin akan menghadiri undangan di Jombang itu. Akhirnya, benar dugaan saya. Setelah mengutarakan apa maksud saya,kyai memberi izin sembari berkata: ya ini mas hadiah tulisan kamu yang dimuat di koran itu (lebih jelas, bahasa mudahnya seperti ini: ini dia hadiah yang saya janjikan itu. Hadiah atas tulisan yang dimuat di koran saat itu. Kalimat yang terakhir ini adalah rekaan saya sendiri).
100 Santri dan Jombang
Akhirnya, tibalah saat saya berangkat ke Jombang. Disana saya bertemu dengan para santri se -Indonesia yang tergabung dalam 100 santri penerima beasiswa (beasiswa adalah bahasa halusnya, sebenarnya bahasa yang lebih tepat adalah bantuan) dari Kemenag. Dalam pertemuan yang berda di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang itu, diadakan kesepakatan bahwa sebagai timbal balik atas bantuan yang diberikan kemenag kepada para peserta, maka seluruh peserta diminta membuat satu karya, baik berupa novel, cerpen, ataupun biografi. Akhirnya, dari 100 santri itu, dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok non fiksi dan kelompok fiksi. Non fiksi menulis biografi, sedang yang fiksi berupa novel atau cerpen. Saya memilih biografi.
Cair Juga Akhirnya
Karena dalam acara di Jombang itu, hadiah yang dijanjikan belum bisa cair, maka pencariran bantuan itu ditunda. Alasannya: karena masih diperlukan beberpa dokumnen yang harus dipenuhi.
Akhiranya, setelah semua dokumen saya penuhi,tanggal 21 kemaren saya mendapat email dari matapena, bahwa bantuan (beasiswa) dari kemenag itu sudah cair. Saya senangnya bukan main. Alhamdulillah… Sebagai rasa syukur saya, senin kemaren saya mengadakan syukuran bersama teman-teman sepesantren. Seneng banget pokoknya. Alhamdulillah…
Tulisan ini hanyalah catatan harian saya. Tulisan atas pengalaman saya yang baru saja alami dua bulan terakhir ini. Saya sangat berterima kasih kepada kompasiana. Karenanyalah, saya lebih mengenal “Citizen Journislm”, juga karenanyalah saya mendapatkan uang sebesar 2 juta dari Kemenag. Thank’s Kompasiana.
Salam Kompasiana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...