Langsung ke konten utama

Akibat Gonta-Ganti Tanda Tangan

Barusan aku saya dari Condong Catur Sleman, dari rumah kontrakannya teman. Pas mau ke kosnya teman saya satunya lagi, ternyata dia lagi nggak ada di kos, lagi di kampus, ada ujian. Ya terpaksa harus nunggu dulu deh. Pikir saya, dari pada nunggu, mending cari warnet aja, sekedar browsing lah.....

Pas mau cari warnet, eh...lha kok ngelihat toko buku yang berada di sekitar UIN Sunan Yogyakarta. Ingin saya sih, mau cari buku, eh....lha kok ngelihat bank mu'amalat, Pas, saya kan kemaren mau buka rekening di bank yang menggunakan akad islam itu.
Saya masuk dan dilayani oleh petugasnya. Tadi pas, suruh ngisi kolom tanda tangan, ternyata tanda tangan saya harus sama dengan yang ada di KTP, kan tanda tangan saya sudah saya ubah beberapa bulan lalu. Ya...harus ngulang, Untung nggak harus ngulang ngisi biodatanya, cukup tanda tangan di samping tanda tangan yang awal tadi, tanda tangan yang salah tadi. Itu belum seberapa, pas saya diminta untuk ngisi tanda tangan yang ketiga kalinya, saya melakukan kesalahan yang sama,
“Mungkin bisa disamakan tanda tangannya mas dengan yang ada di KTP” kata petugasnya.


Walaupun menurut saya sudah agak sama, tapi memang ada yang beda kok. Setelah tanda tangan yang ketiga, akhirnya benar juga, alhmadulillah……
Setelah buka rekening, saya lantas jalan-jalan ke took buku ”Sosial Agency Baru”, shoping buku….

*Catatan ringan tentang jalan-jalan saya barusan.
(Sleman, 28 Juni 2011. Pukul 10.51 WIB)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...