Langsung ke konten utama

''Sakti'' di Era Globalisasi

Sakti. Saya yakin semua orang pengen jadi sakti. Namun, saat ini, sakti sdh tdk bs d tafsirkan sbg org yg hebat fisiknya. Tahan bacok, peluru, atau sjnisnya. Kata org jawa: ''Papak paluning pande. Ditembak lakak2. Dibedil mencicil''.
Sakti, di era globalisasi ini, sudah tdk lg spt itu. Sekarang, orang disebut sakti kalo pintar. Punya titel pendidikan berderet-deret. Jabatannya tinggi. Uangnya banyak. Punya pengaruh di masyarakat. Itulah sakti sesungguhnya saat ini.
Mengapa terjadi perbedaan tafsir? Ya karena zamannya sudah berbeda. Sudah tidak lagi spt dulu.
Kalau dulu, orang diresahkan dengan adanya pencuri. Penjambret. Perampok. dan seluruh kejahatan fisik lainnya. Sehingga mau tak mau, suka ak suka, orang yang hidup di zaman itu harus mengimbanginya. Harus punya ilmu kanuragan yang cukup. Harus bisa menghilang. Harus tahan bacok. Harus bisa berjalan di atas air. Dan sederet kata ''harus'' laiannyya.
Sekitar tahun 1998, di tanah kelahiran saya, Banyuwangi, digegerkan dengan adanya pembantaian dukun santet. Walaupun dalam prakteknya banyak guru ngaji orang2 NU yang juga menjadi kurban. Tak jelas pelakunya siapa. Namun, banyak pendpat mengatakan pelakunya adalah orang yang berpakaian tertutup ala ninja. Simpang siur terjadi dimana-mana. Tak jelas mana teman mana musuh. Mana kawan mana lawan. Tuduh menuduh antar sesama pun tak bisa dihindari. Saling curiga. Bahkan dengan tetangga sendiri.
Kalau sudah sperti itu, orang harus sakti secara fisik.
Namun sekarang? Apakah harus spt itu? harus sakti yang serba kebal? Tidak. Sama sekali tidak.
Walaupun juga tidak bisa diingkari itu juga penting.
Mengapa kok tidak perlu? Karena musuhnya tidak ada. Sekarang musuhnya tidak spt dulu. Kalau kita sakti secara fisik ya malah akan percuma ilmu yang kita miliki. Karena tidak akan lawannya. Sekarang lawan kita adalah mereka para koruptor. Para penghianat masyarakat. Para pengendali ekonomi yang memutar balikkan harga. Mereka yang membuat rakyat sengsara. Dan semuanya itu orang2 yang pintar.
Jadi sekarang, ''sakti'' itu harus pintar. Kaya. Keren. Gaul.
Ada yang mau jadi orang sakti?
Senin pagi. 9-12-12. Pukul 7.33 WIB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...