Sekitar
empat tahun yang lalu, saya pernah bertanya kepada salah seorang
seniorku dalam hal pidato, namanya kang Agus Salim. Sangaja saya
memanggilnya dengan sebutan “kang” karena itulah yang terlaku di
lingkungan saya, pesantren.
“kang, apa tho resepnya agar bisa pidato?” tanya saya dengan agak memberanikan diri.
“kamu sering tampil aja maziyyatul fata aja.....” jawab beliau dengan enteng.
Maziyyatul
fata adalah organisasi ekstra kurikuler pidato yang ada di pesantren
yang saya tempati. Kegiatannya biasanya dilaksanakan setiap malam jum’at
di depan masjid dengan cara setiap anggota maju persatu menyampaikan
pidatonya dan dilihat oleh semua orang yang mau melihatnya. Biasanya
kalau melihat sih jarang, tapi mungkin hanya mendengar. Kalau pas
banyak, ya banyak. Kalau nggak ada yang ngelihat, ya ngomong sendiri
aja.
Mulai
saat itu, saya pegang terus ucapan kang agus. Hampir setiap malam
jum’at (kalau pas jadwalnya maju) saya maju untuk menampilkan pidato
saya. Saya terus berlatih dan terus berlatih. Akhirnya saat ini saya
merasakan dampaknya. Walaupun pidato saya nggak terlalu enak, namun
minimal saya sudah nggak grogi lagilah kalau berbicara di depan pubilk.
Ternyata, “bisa itu karena biasa”.
*Catatan sederhana saya tentang apa telah dan sedang saya alami.
Selasa sore, 22 Maret 2011
Abdurrohman Al Ahbary (nama pena)
Komentar
Posting Komentar