Langsung ke konten utama

“Bisa Itu karena Biasa”

Sekitar empat tahun yang lalu, saya pernah bertanya kepada salah seorang seniorku dalam hal pidato, namanya kang Agus Salim. Sangaja saya memanggilnya dengan sebutan “kang” karena itulah yang terlaku di lingkungan saya, pesantren.


“kang, apa tho resepnya agar bisa pidato?” tanya saya dengan agak memberanikan diri.
“kamu sering tampil aja maziyyatul fata aja.....” jawab beliau dengan enteng.
Maziyyatul fata adalah organisasi ekstra kurikuler pidato yang ada di pesantren yang saya tempati. Kegiatannya biasanya dilaksanakan setiap malam jum’at di depan masjid dengan cara setiap anggota maju persatu menyampaikan pidatonya dan dilihat oleh semua orang yang mau melihatnya. Biasanya kalau melihat sih jarang, tapi mungkin hanya mendengar. Kalau pas banyak, ya banyak. Kalau nggak ada yang ngelihat, ya ngomong sendiri aja.
Mulai saat itu, saya pegang terus ucapan kang agus. Hampir setiap malam jum’at (kalau pas jadwalnya maju) saya maju untuk menampilkan pidato saya. Saya terus berlatih dan terus berlatih. Akhirnya saat ini saya merasakan dampaknya. Walaupun pidato saya nggak terlalu enak, namun minimal saya sudah nggak grogi lagilah kalau berbicara di depan pubilk. Ternyata, “bisa itu karena biasa”.

*Catatan sederhana saya tentang apa telah dan sedang saya alami.
Selasa sore, 22 Maret 2011
Abdurrohman Al Ahbary (nama pena)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...