“Sastra
itu bebas, tak punya aturan dan tak boleh diatur”. Ya......kira-kira
itulah yang saya rasain ketika pertama kalinya berkenalan dengan makhluk
yang namanya “sastra”. Bebas dalam artian bisa bertajuk apapun, temanya
bebas. Mau politik, agama, cinta, jeritan hati, atau yang lainlah.
Gimana menurut sampeyan?
Gimana
nggak bebas, lha wong kadang santra itu menyalahi aturan kok. Kadang
menghina, memuji, menghujat atau malah menghardik seserang. Betul nggak?
Tapi
dibalik itu semua, tersirat makna yang laksana mutiara yang tidak
dimiliki oleh model tulisan lain seperti opini, artikel, atau yang
lainnya. Yaitu, sastra dengan kebebsannya itu malah bisa ngebuat
seseorang bisa menuliskan apapun yang ia maunya. Tanpa terbatas apapun,
sosial budaya, tingkat pendidikan, agama ataupun yang lainnya. Lha wong
namanya aja bebas, ya..terserah. Gimana menurut sampeyan?
Jadi,
saya sangat tidak setuju bila ada sastra yang masih dinilai negatif,
itu kan sastra. Ya, harap maklum aja. Itu menurut saya, lha gimana kalau
sampeyan?
Jadi,
pengumuman bagi para pencinta sastra, nggak perlu sekolah tinggi-tinggi
kalau ingin jadi sastrawan. Toh juga, karena sastra itu bebas, nggak
perlu ilmu khusus, cukup dengan kemauan aja, betul nggak?
Jadi kesimpulannya, sastra itu bebas, nggak punya aturan khusus.
So, masih ragukah tuk jadi sastrawan??
Gimana menurut sampeyan??
Abdurrahman Al Ahbary
alahbary@yahoo.com
Komentar
Posting Komentar