Hari
ini, seperti biasanya setiap hari jumat, pesantren libur. Mulai dari
tadi malam sampai nanti menjelang petang nggak ada kegiatan yang
bersifat resmi dan mengikat. Yang ada hanya kegiatan ekstrakulikuler,
itupun hanya bagi mereka yang mau saja, yang tidak mau mau ngapapin aja
ya terserah, asalkan tidak melanggar peraturan yang telah ditetapkan.
Karena
tak ada kegiatan, saya berencana untuk ke kantor redaksi. Kamar saya di
asrama Al Hikmah yang biasanya ada kegiatan saja, jumat kali ini juga
tidak ada kegiatan sama sekali, mungkin masih belum konsen pasca
liburan maulid kemarin. Secara tidak sengaja, tiba-tiba terlintas dalam
hati saya, “ini salah siapa ya….kok sampai tidak ada kegiatan, tapi yang
jelas ini salah santri yang besar karena tak mengurusi teman-temannya
yang masih baru dan yang kecil”. Dan ini yang akan menjadi bahan tulisan
saya kali ini.
Budaya
yang telah berlaku di pesantren adalah bagi siapa yang sudah lama di
pesantren, maka harus membantu teman-temannya yang masih baru, baik
dalam pendidikan, belajar, dan lain sebagainya. Atau dalam bahasa yang
mudah dipahami biasa disebut dengan “PENGABDIAN”.
Mengutip
apa yang bapak Bacharuddin Jusuf Habibie katakan dalam bukunya yang
berjudul “Habibie & Ainun”, dalam menanggapi pendirian Ikatan Muslim
Se-Indonesia (ICMI), tentang syarat-syarat yang harus diperhatikan bagi
siapa saja yang boleh bergabung menjadi anggota organisasi yang
didirikan di universitas Brawijaya Malang itu, yaitu harus mereka yang
cendekiawan, namun menurut beliau, istilah “cendekiawan” ini bukan hanya
bagi mereka yang berpendidikan tinggi, mempunyai jabatan, kyai, sudah
haji, atau khusus bagi orang yang kaya, melainkan mereka yang mau
mengabdikan hidupnya untuk masyarakat, negara, dan bangsanya, walaupun
toh bukan seorang profesor, ataupun doktor. Beliau menambahkan, orang
cerdas yang hanya ngopeni dirinya sendiri itu bukan seorang cendekiawan, tapi ilmuan atau pakar.
Dalam sebuah maqolah arab disebutkan, “Khoirunnas Anfa’uhum Linnas”, “sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak bermanfaat bagi manusia lain.
Apa yang menjadi budaya dipesantren saya dan apa yang bapak Habibie katakan, ditambah lagi
dengan maqolah arab diatas, sepertinya dapat saya simpulkan bahwa “kita
harus mau mengabdikan diri kita bagi oraganisasi, lembaga, dan bahkan
bangsa & negara kita”
Sekarang,
bagaimana dengan kita, “sudahkah kita berbakti dan mengabdikan diri
kita pada lingkungan, masyarakat, atau bahkan bangsa dan negar kita?”
*Sebuah catatan kecil yang mungkin bisa kita gunakan sebagai bahan renungan
(Blokagung, kala hari libur pesantren. Jumat, 25 Pebruari 2011. 13. 55 WIS)
Salam Kompasiana
Abdurrahman Al Ahbary
Komentar
Posting Komentar