Langsung ke konten utama

Positif Negatif Kuliyah di Al Azhar Mesir

Universitas al azhar mesir merupakan salah satu universitas tertua di dunia. banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana. mengapa putra putrid bangsa sangat mengidolakan untuk belajar disana? ini jawabannya…

al azhar didirikan pada kekhalifahan umaayyah. didireikan untuk menampung para muslim yang ingin mendalami agama islam. nama al azhar diambil dari nama azzhara’, nama salah satu putrid nabi Muhammad saw, karena memang nabi Muhammad tidak mempunyai anak laki-laki.
hingga saat ini, al ahar masih menduduki universitas tersohor di dunia yang menjadi tujuan belajar para muslim dunia, termasuk Indonesia. ada beberapa alas an mengapa orang memilih al azhar mesir:
1. disana gratis, tapi hanya untauk fakultas agama islam saja.
2. model pembelajaran disana menuntut mahasiswanya untuk lebih kreatif dalam belajar.
namun, “tak ada gading yang tak retak”, “no one is perfect” tak ada mnusia yang sempurna, namun karena tak sempurnanya itulah dia disebut sebagai manusia. begitu juga dengan al azhar mesir.
ini kekurangan al azhar mesir”
1. tidak diadakan system absesnsi, jadi siapapun yang kuliah disana boleh tidak maasuk kuliah kapanpun. yang terpenting ketika ujian bisa.
2. tidak menggunakansistem sks. al azhar menggunakan system paket tahunan yang mahasiswanya tidak boleh gagal dalam 3 atau lebih mata kuliah, minimal dua. konsekswensinya, jika mereka tidak lulus minimal 3 mata kuliah, maka mereka harus mengulang semua pelajarannya selama setahun, sama halnya mereka di tahun itu tidak lulus.
inilah gambaran sekilas tentang positif negative kuliah di al azhar mesir.
ditulis pada saat blogshop kompasiana di malang sebagai kompetisi
malang, 18 juni 2011. pukul 16.17 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...