Langsung ke konten utama

Nomer Telepon untuk Al Azhar

Hari ini saya sibuk mencari nomer telepon seorang teman yang telah pulang dari mesir. Dia pulang karena ikut proses evakuasi pasca demo besar-besaran menuntut turunnya presiden husni mubarak setelah 30 tahun berkuasa di negeri piramid itu.

Tujuan saya mencari nomer telepon temen saya itu karena saya ingin bersilaturrahmi ke rumahnya. Jadi, ingin saya membuat janji dulu, biar entar kalau saya jadi berkunjung ke rumah teman saya itu, dia benar-benar ada di rumah.
Memang, sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) dulu, saya bercita-cita ingin melanjutkan studi saya di negeri nabi musa itu. Entah apa alasannya, sehingga saya menjatuhkan pilihan untuk menuntut ilmu di negeri yang baru saja terjadi demo besar-besaran itu.
“Cak Bis gak nduwe hud…” kata salah seorang teman saya. Itu adalah pemberitahuan teman saya kepada saya karena memang saya sudah dari kemarin ingin mencari nomer teman saya itu. “Cak Bis” adalah teman saya juga yang juga pulang dari Mesir. Namun, kepulangannya ke tanah air itu bukan karena ikut evakuasi, tapi kerena ada urusan keluarga. Ow iya, saya lupa. Nama teman yang sedang saya cari nomer teleponnya itu adalah Hafidz. Dia bertempat tinggal di daerah srono.
Awalnya, saya hanya tahu, dari bebarapa teman saya yang pulang dari mesir itu hanya Bisyri Ichwan yang akrab di panggil Cak Bis. Sebenarnya saya nggak tahu kalau Hafidz juga pulang. Saya baru tahu kalau hafidz pulang dari seorang tetangganya yang juga teman saya, namanya Hasyim.
Saya mencoba untuk menghubungi nomer telepon yang dulu pernah diberikan kepada saya sewaktu dia masih belum berangkat ke Mesir. Tapi usaha saya itu tak membuahkan hasil apapun. Ada tiga nomer handpone dan satu nomer rumah yang dulu dikasihkan hafidz. Satu persatu nomer itu saya hubungi, termasuk nomer rumahnya juga, tapi sepertinya usaha saya itu sia-sia. Akhirnya, pas saya ke kolam, saya bertemu Hasyim, saya bicara ke dia kalau saya baru saja menghubungi nomernya Hafidz, tapi tak bisa. Saya juga bilang ke dia kalau sepertinya nggak ada yang punya nomernya Hafidz. Lantas saya saya bertanya ke dia, “kira-kira siapa ya…yang punya nomernya hafidz?”. “mungkin ipud…, coz kemarin aku lihat Hafidz maen ama ipud” jawabnya. Akhirnya saya langsung menemui pak ipud, (saya panggil pak, karena dia sekarang sudah menjadi pengurus pesantren), dan hasilnya memuaskan. Dia (pak ipud) punya. Saya sangat bahagia sekali.
Rencana saya berkunjung ke rumahnya hafidz ya hanya sekedar tanya-tanya bagaimana dan apa yang harus saya persiapkan untuk menunutu ilmu di universitas Al Azhar Kairo Mesir.
*Catatan kecil untuk mengabadikan perjuangan saya yang ingin menjadi mahasiswa universitas islam terbesar di dunia, Al Azhar Kairo Mesir.
(Blokagung, kala pujian ashar dikumandangkan. Rabu sore, 23 Pebruari 2011)
Salam kompasiana
Abdurrahaman Al Ahabary (nama pena)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...