Langsung ke konten utama

Lika Liku Translate Ijazah

Hari ini menjadi hari yang menyebalkan bagi saya,
namun saya yakin, dibalik ini semua pasti ada rahasia yang akan diperlihatkan
oleh Allah kepada saya. Saya tak sabar ingin menuliskannya, agar apa yang saya
alami hari ini bisa terdokumentasikan dalam bentuk tulisan.
Begini ceritanya........

Pagi ini, saya mencoba menghubungi kakak saya,
apakah uang pembayaran untuk translate ijazah sudah dikirim apa belum, untuk
lebih jelasnya (tentang translate ijazah) silahkan baca tulisan saya sebelum
tulisan ini. Ternyata, walaupun kemarin saya sudah bilang untuk mengirimkannya
hari itu juga (selasa), tapi, setelah saya hubungi, ternyata belum dikirim,
mungkin karena kakak saya terlalu sibuk. Kemrin aja, dia bilang baru ada
kunjungan DPR pusat Jakarta, Kanwil, dan siapa lagi saya lupa di pesantren
tempat mengajar kakak saya.
Mengetahui hal itu, saya segera meminta tolong
padanya agar mengirimkan hari ini juga. Karena kata pak Aji, ijazah baru akan
dikerjakan setelah ada uang muka minimal 50 % dari biaya total. “ya nang,
sebentar lagi mbak kirim” begitulah kata kakak saya kepada saya dalam SMS. “Ya
mbak, tak tunggu” balas saya.
Setelah mendapat SMS bahwa kakak saya benar-benar
sudah kirim, saya mencoba menghubungi pak Aji agar proses penerjemahan ijazah
lekas dimulai.
“Pak, saya sudah kirim 50 %” tutur saya kepada pak
Aji.
“Berapa mas?” tanya pak Aji kepada saya
“Rp.60.000 pak” saya menjawab
“Lho mas, 50 % nya itu Rp.1250.000, karena biaya
totalnya Rp.250.000”  pak Aji menimpali
jawaban saya itu
Mendengar itu semua, saya sedikit kaget. Karena
kemarin, informasi yang saya terima, biaya total itu hanya Rp.120.000.
Akhirnya, saya mencoba untuk menjelaskan kesalahpahaman itu. Pak Aji berkata
kalau biaya yang Rp.60.000 itu untuk terjemahan bahasa inggris. Kalau
terjemahan bahasa arab tersumpah itu Rp.125.000 perhalaman.
Saya menghubungi kakak saya lagi, tapi nggak bisa.
Tujuan saya ingin menjelaskan kalau ada kesalahpahaman biaya translate.
Akhirnya, saya mencoba menghubungi IAIN Sunan
Ampel Surabaya menggunakan handpon, ingin
menanyakan yang diterjemahkan itu halaman depan atau sekaligus belakangnya juga. Pikir saya saat itu, eh...siapa tahu
yang diterjemahkan hanya satu halaman, kan mending, cuma bayar Rp.125.000.
Karena. berkali-kali saya menghubungi, akhirnya
membuat pulsa saya nipis. Saya akhirnya pergi ke kantor pesantren dengan tujuan
untuk meminjam telepon duduk. Saya bercerita panjang lebar tentang masalah yang
sedang hadapi hari ini, akhirnya sebelum saya mengutarakan niat saya untuk
meminjam telepon, saya sudah ditawari dulu. Alhamdulillah.......
Saya menanyakan ke pihak panitia beasiswa Sudan di
IAIN Sunan Ampel Surabaya tentang terjemahan ijazah itu, dan ternyata yang
dibutuhkan dua halaman terjemahan. Hah....pikir saya, bayar Rp.250.000 dong,
nggak apalah, buat pengalaman, kata hati saya mencoba meyakinkan diri saya
sendiri.
Saya menghubungi kakak saya lagi tentang biaya
itu, dan dia sanggup mengirimkan kekuarangannya. Tapi, mungkin keberuntungan
nggak berpihak padaku, kakakku sebenarnya sudah mau ngirim tapi listrik padam
(mati lampu). Katanya, biaya akan dikirim setelah listrik hidup.
Akhirnya, sore tadi saya mendapat SMS dari kakak
saya, kalau uang Rp.65.000 sudah dikirim dan dia juga sudah telepon pak Aji.

Mungkin hanya ini yang bisa saya tulis kali ini
*Cacatan kecil saya untuk mengabadikan apa yang
saya alami hari ini
(Blokagung, kala malam hari setelah kentheng berbunyi. Malam kamis, 13 April
2011)










                                                                                        

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...