Langsung ke konten utama

Roadshow Jurnalistik

Hari ini saya mengikuti acara roadshow radar Banyuwangi (Jawa Pos Group) yang diadakan di pesantren yang saya tempati. Sekedar untuk diketahui, acara itu dipanitia oleh teman-teman kelas X SMA Darussalam Blokagung.


Awalnya, saya nggak ingin ikut. Tapi ketika saya berpapasan dengan Faiz, ketua panitia acara itu yang juga teman saya di organisasi mading PEOPLE, majalah dinding yang ada pesantren yang saya tempati, saya mulai tertarik untuk ikut. Saya berpapasan dengannya di jalan depan gedung pendidikan (GP) induk di Yayasan Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi.
“Gimana Iz.....” tanyaku ke dia
“Sip.....” jawabnya sambil mengendarai sepeda motor
Saya langsung pulang ke asrama untuk bersiap-siap, mandi wa ala alihi ajma’in. Setelah itu, saya langsung menuju tempat acara, yang berlokasi di gedung pendidikan SD Darussalam. Disana, saya bertemu dengan salah satu anggota panitia yang saya nggak tahu namanya siapa, kemudian saya menanyakan apakah pendaftaran masih dibuka atauudah tutup. “Udah tutup kang...” jawabnya. Lantas saya menanyakan dimana keberadaan Faiz, dan dia menjawab “diatas kang....”, kemudian saya langsung menemui Faiz. Dan menanyakan kedia apakah pendaftaran masih dibuka apa nggak, dia malah langsung mempersilahkan saya masuk ruangan acara. Hehe... KKN dikit...)*
Acara itu ditutori oleh mbak Evi (managemen Mading), mas udin (kode etik wartawan), dan kang Abu (penulisan berita). Namun di tengah-tengah acara pak Aziz, wartawan radar Banyuwangi datang. Sebenarnya ada satu lagi perwakilan dari radar Banyuwangi yang hadir, namun saya lupa namanya siapa.
Karena saya sudah lelah, walaupun acara belum kelar, saya memaksakan diri untuk pulang ke pesantren, dan alhamdulillah, nyampek di pesantren ada teman saya yang kiriman, dan tancap gas, langsung makan.........)-#$#$

*cacatan kecil tentang keikutsertaan saya dalam roadshow jurnalistik
(Blokagung, kala kentheng berbunyi, pertanda sudah pukul 22.00 WIS (Istiwak))

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...